Hari ini Senin tanggal 12 Januari 2009, bertepatan dengan tanggal 15 hari bulan. Saat ini adalah saat bulan purnama, nanti malam.
Siang ini, banjir pasang surut mulai melanda Jakarta bagian utara. Dari pengamatan di Ancol bagian timur, saat ini jam 12.42 air pasang terlihat masuk ke melalui jalan masuk kawasan wisata pantai Ancol. Tampak air mengalir masuk melewati bagian jalan yang ditinggikan.
Hari ini Jakarta memang kelabu oleh mendung. sejak pagi. Tadi pagi hujan sebentar dan tidak deras. Sampai jam 11 tadi udara di luar masih cukup hangat. Air yang masuk dan naik melalui jalan itu, yang kehadirannya tidak disertai hujan, menunjukkan bahwa air itu adalah air pasang dari laut yang naik.
Sekarang jam 12.46. Air laut masih terus meninggi. Kenderaan yang lewat di jalan masuk Ancol itu sudah mulai terganggu. Ketinggian air sudah mencapai mesin sepeda motor.
Banjir seperti ini pernah terjadi pada tahun 2007 yang lalu. Ketika itu air datang menyusul hujan yang turun lebat beberapa jam sebelumnya.
Sekarang ini, banjir pasang datang tanpa disertai hujan. Sementara itu, Jakarta tampak kelabu karena mendung yang menggantung. Bila saat ini turun hujan lebat, maka genangan air yang datang dari pasang surut akan ditambah dengan air yang datang dari hujan lelalui aliran sungai. Bila itu terjadi dalam dua tiga jam ini sebelum pasang menjadi surut, maka Jakarta bagian utara akan mengalami banjir yang cukup parah.
Tentang pasang surut, saat ini posisi bulan sedang berada di belahan bumi di seberang posisi Indonesia. Nanti malam, bulan purnama baru akan nampak di langit Indonesia dan akan berada di titik kulminasi tengah malam. Karena itu, dapat diprediksi bahwa banjir pasang surut yang terjadi seperti siang ini akan terulang lagi besok.
Jam 14.15
Genangan banjir mulai surut.
Banjir pasang surut yang saya lihat dari jendela ruang kerja tadi ternyata hanya terbatas pada bagian jalan yang sedikit agak rendah. Air menggenang hanya di sekitar bundaran di depan pintu masuk Ancol bagian timur. Belum sampai melanda perkantoran di sekitarnya. Meskipun demikian, kondisi yang tampaknya sepele itu bagi Ancol, bagi kawasan lain di Jakarta bagian utara mungkin lain. Hal itu karena di kawasan wisata Ancol saat ini sudah dibuat sedemikian rupa sistem drainase yang dilengkapi dengan tanggul dan rumah pompa untuk memompa air laut yang masuk ke kawasan Ancol kembali ke luar. Logikanya, di kawasan yang sudah dolengkapi dengan pompa saja masih bisa tergenang (meski sedikit), maka bagaimana dengan kawasan rendah lainnya yang tidak dilengkapi dengan pompa air?
Ah, iya. Pada bulan yang lalu, pada saat air laut pasang saya melintas di pinggir danau Ancol. Saya melihat air naik ke jalan masuk melalui saluran drainase. Pelataran pasir tergenang. Di danau itu ada tugu. Jalan yang menghubungkan tugu tersebut dengan daratan ketika itu sudah tergenang air laut yang pasang. Saya ingat. Dahulu di tahun 1978 saya pernah ke tugu itu. Masih ada kolong antara jembatan dan air danau. Sekarang, jalan penghubung itu tergenang. Siang tadi ketika air pasang naik, saya kira kawasan di sekitar danau Ancol itu kembali tergenang. Saya tidak melihatnya, dan hanya memperkirakan berdasarkan pengalaman bulan sebelumnya itu.
Lalu, apa arti dari semua itu? Logika sederhana adalah bahwa bila kita membangun sesuatu tentu kita berusaha untuk lebih tinggi dari kemungkinan genangan air. Sekarang, bila daerah tempat kita membangun itu telah tergenang air, tanggul terus dibangun dan rumah pompa air juga dibangun serta lantai lahan ditinggikan, maka artinya adalah daerah tempat kita itu telah mengalami subsiden atau penurunan permukaan tanah. Itulah yang sekarang ini terjadi di Ancol dan Jakarta bagian utara umumnya seperti di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Kawasan Perdagangan Mangga Dua, Kawasan Pelabuhan Muara Baru.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Wahyu