Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Banjir’

Bencana Alam di Musim Angin Barat di Indonesia

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November18, 2009

Sekarang bulan Nopember 2009, angin barat mulai bertiup dan hujan yang intensif sudah dimulai sejak minggu yang lalu. Musim Angin Barat atau Musim Hujan telah dimulai. Perlu dicatat bahwa musim ini dapat berlangsung sampai bulan Maret. Di awal musim ini saya mencoba menguraikan bencana alam apa saja yang mungkin terjadi.

Bencana terkait Curah Hujuan Tinggi

Bencana alam yang dapat terjadi berkaitan dengan kondisi curah hujan yang tinggi adalah:

  1. Banjir. Daerah-daerah yang sudah biasa mengalami banjir di musim hujan seyogyanya agar mulai berwaspada menghadapi keatangan banjir ini. Meskipun demikian, kawasan-kawasan yang dalam kegiatan pembangunan menyebabkan perubahan drainase perlu juga waspada. Terkait masalah banjir ini, prediksi curah hujan dari BMKG penting untuk dicermati. Pada tingkat nasional atau daerah, seyogyanya instansi yang bertanggungjawab menangani masalah bencana alam memiliki peta daerah banjir untuk seluruh kawasan di Indonesia dan mengatahui kapan biasanya banjir itu terjadi di kawasan-kawasan yang dipetakan itu.
  2. Tanah longsor atau gerakan tanah. Bencana ini selain berkaitan dengan curah hujan yang tinggi juga berkaitan dengan kondisi geologi atau geomorfologi suatu kawasan. Daerah-daerah yang sudah dikenal sebagai daerah yang rawan terhadap bencana alam ini sudah harus berwaspada. Selain itu, daerah-daerah yang berlereng terjal lain juga perlu berwaspada. Beberapa waktu yang lalu di kawasan Kepulauan Indonesia sering terjadi gempa bumi. Gempa bumi bila terjadi di musim hujan dapat memicu terjadinya tanah longsor di kawasan yang rawan bencana tanah longsor. Penduduk yang berada di daerah yang telah dipetakan sebagai daerah rawan bencana longsor perlu berwaspada. Pada tingkat nasional atau daerah, instansi yang terkait seyogyanya telah memiliki peta daerah rawan bencana ini, dan sekarang berwaspada. Tentang bencana ini patut diingat bahwa skalanya bisa besar beberapa hektar luas areal yang longsor, tetapi bisa pula hanya kecil seperti tebing atau lereng curan di tepi jalan atau di belakang rumah.
  3. Banjir pasang surut. Curah hujan yang tinggi di musim hujan ini atau kondisi banjir yang terjadi karena curah hujan yang tinggi dapat memperparah atau memperluas daerah-daerah yang terpengaruh oleh banjir pasang surut. Daerah-daerah yang menjadi langganan banjir ini dan daerah yang berbatasan dengannhnya perlu berwaspada. Institusi di tingkat daerah seyogyanya memiliki peta daerah rawan bencana ini.
  4. Erosi dan Banjir Bandang. Erosi akan meningkat di musim hujan ini, terutama di daerah perbukitan atau pegunungan. Daerah-daerah berbukitan atau pegunungan yang ada kegiatan pembukaan hutan atau lahan di dalamnya perlu berwaspada. Erosi yang terjadi di daerah-daerah tersebut dapat memicu terjadinya banjir bandang. Kemudian, erosi dapat terjadi di tebing-tebing sungai karena meningkatnya debit aliran sungai.

Bencana terkait Angin Kencang

Bencana alam yang dapat terjadi berkaitan dengan tiupan angin musim barat adalah:

  1. Gelombang tinggi. Daerah-daerah atau segmen-segmen pantai yang terbuka dari arah barat atau dari arah datangnya angin perlu berwaspada. Tiupan angin yang kencang dapat menbimbulkan gelombang tinggi, apalagi bila terjadi bersamaan waktunya dengan kondisi laut yang sedang pasang.
  2. Erosi pantai. Erosi pantai berkaitan dengan kondisi gelombang, dengan demikian erosi pantai terjadi musiman. Segmen-segmen pantai yang terbuka dari arah barat perlu waspada terhadap erosi pantai karena sekarang ini adalah saatnya erosi itu terjadi.
  3. Angin puting beliung. Angin ini adalah angin lokal yang bersifat merusak. Di daerah-daerah tertentu karena kondisi lingkungannya bisa terbentuk angin-angin lokal yang terjadi pada musim-musim tertentu.

Di perairan, kawasan-kawasan yang kuat terpengaruh oleh angin musim barat ini agar diwaspada, terutama bila kita melintasinya. Prediksi angin dari BMKG perlu dicermati. Daerah-daerah yang secara umum terpengaruh adalah kawasan pantai barat Sumatera, kawasan Selat Karimata, kawasan Laut Jawa dan kawasan Selat Sunda.

Demikian gambaran bencana yang mungkin terjadi berkaitan dengan masuknya musim angin barat atau musim hujan.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Banjir, Erosi, Gelombang, Gempa, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut | Bertanda: , , , , , , , | 3 Komentar »

Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta 2: perlukah seorang diktator?

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November14, 2009

Sekarang Jakarta mulai memasuki musim hujan. Persoalan rutin yang seakan tanpa ujung penyelesaian kembali muncul, yaitu banjir. Musim hujan ini dan banjir yang berasosiasi dengannya di Jakarta ini sesungguhnya menjadi bukti kita warga Jakarta belum tahu bagaimana bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Tuhan sehingga nikmat itu berubah menjadi bencana.

Kemarin sore, Jum’at 13 Nopember 2009, saya sempat mengamati salah satu lokasi banjir di Matraman. Banjir di kawasan itu menjadi bukti bahwa mengelola drainase mikro adalah hal yang sangat penting bagi kawasan perkotaan.

Berikut tanggapan Pak Gubernur tentang banjir DKI:

Menurut Foke, penanganan banjir yang dilakukan Pemda DKI selama ini selalu terkendala oleh perilaku masyarakat sendiri yang tidak tertib. Tidak ada antisipasi masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai. Padahal warga tahu banjir selalu mengancam setiap musim penghujan.

Foke mencontohkan relokasi warga di bantaran sungai yang dipindahkan ke Rumah Susun (Rusun). Walaupun sudah dipindahkan ke rumah susun yang aman dari banjir, tetap saja mereka keukeuh tinggal di bantaran kali.

“Coba itu dicek di rusun Bidaracina. Mereka sudah pasti balik lagi ke bantaran kali di dekat Kampung Melayu,” ujarnya memberi contoh.

Kemudian, ini tanggapan dari Ketua Forum Warga Jakarta:

“Kenapa Jakarta bisa tergenang, ini menunjukan saluran mikro drainase tidak beres. Ini kan aneh, anggaran PU tiap tahun mengalami kenaikan, tapi tidak ada hasilnya. Kepala Dinas PU harus dipecat,” ujar Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azaz Tigor Nainggolan.

Hal itu dikatakan Tigor saat dihubungi detikcom, Sabtu (14/11/2009).

Tigor menjelaskan pemerintah memang telah berusaha membangun jaringan drainase besar seperti banjir kanal timur, tetapi jika drainase mikro di seluruh Jakarta tidak dibenahi, maka dipastikan setiap hujan turun, Jakarta akan tergenang dan kemacetan akan terjadi di mana-mana.

Advokat publik ini menambahkan masih banyak kekurangan penataan Kota Jakarta. Banyak bantaran kali yang belum diberi pembatas, sehingga air langsung melupa begitu hujan turun.

“Seperti di dekat Matraman itu, di Jl Pramuka ada kali kecil, tidak ada pembatasnya. Ditambah lagi penerangan sangat kurang,” jelasnya.

Tigor pun meminta agar masyarakat Jakarta berhenti membuang sampah di kali-kali. Namun Dinas Kebersihan juga dituntut bekerja untuk mengelola sampah dengan baik.

————————-

Dari dua kutipan berita diatas kita bisa melihat persoalan banjir di Jakarta ternyata bukan semata masalah genangan air belaka, tetapi masalah manajemen kota dan mental warganya.

Berikut ini beberapa hal yang patut dicatat:

  1. Banjir di Jakarta dapat dibedakan menjadi 3 macam banjir:
    1. Banjir yang berkaitan dengan aliran sungai. Banjir ini melanda daerah yang sering kita sebut sebagai daerah bantaran sungai. Banjir tipe inilah yang dibicarakan oleh Bapak Gubernur yang beritanya kita kutip di atas. Banjir ini berkaitan dengan kondisi cutah hujan di daerah Bogor. Sering terjadi di Jakarta tidak hujan dan banjir tipe ini terjadi karena di Bogor hujan lebat. Banjir tipe ini diperburuk dengan buruknya kondisi alur sungai-sungai yang ada di Jakarta, dan warga yang berkeras tinggal atau membangun di bantaran sungai.
    2. Banjir yang berkaitan dengan buruknya kondisi drainase kota. Banjir inilah yang saya saksikan kemaren sore dan malam, dan seperti yang dibicarakan oleh Ketua Forum Warga Jakarta yang beritanya juga kita kutip di atas. Banjir ini tidak berkaitan dengan aliran sungai utama, apalagi dengan hujan di Bogor. Banjir ini terjadi bila di Jakarta terjadi curah hujan tinggi. Drainase kota yang buruk menyebabkan air permukaan tidak dapat segera masuk ke aliran sungai tetapi mengaliur ke pemukiman warga dan menggenangi jalan-jalan. Buruknya kondisi drainase kota bisa karena drainase tidak memadai (sehingga perlu ditambah atau diperbesar), drainase rusak (perlu diperbaiki), drainase tersumbat sampah atau endapan pasir (perlu dibersihkan). Banyak kita lihat drainase tertutup sehingga kita tidak tahu bagaimana kondisinya, apakah berfungsi atau tersumbat (jawaban baru kita ketahui ketika hujan turun).
    3. Banjir yang terjadi karena pasang surut air laut. Banjir ini terjadi di pesisir utara Jakarta dan terutama terjadi pada saat bulan mati atau bulan purnama.
  2. Ketiga tipe banjir itu dapat terjadi secara terpisah di waktu yang berbeda,  maupun bersama-sama di waktu yang sama. Ketiga tipe banjir ini terjadi bersama ketika musim hujan telah terjadi merata di kawasan Jakarta dan Bogor dan pada saat bulan mati atau purnama. Hal itu biasanya terjadi di bulan Januari dan Februari setiap tahun.
  3. Karena ketiga tipe banjir itu memiliki karakter yang berbeda, maka penanganannya pun tentu harus berbeda pula.
  4. Berkaitan dengan masalah sampah, persoalan ini mengarah kepada dua pihak, pertama, masyarakat atau penduduk yang membuang sampah; dan ke-dua, pemerintah yang bertanggungjawab menangangi sampah.
    1. Persoalan yang ada pada penduduk atau masyarakat yang sering didengungkan adalah mereka membuang sampah sembarangan sehingga sampah masuk ke saluran drainase dan aliran sungai. Penduduk atau masyarakat tentu tidak sepenuhnya salah juga, karena pihak pemerintah sendiri belum mampu menangani seluruh sampai dari penduduk
    2. Persoalan yang ada pada pemerintah daerah adalah bahwa pemerintah tidak dapat melayani masyarakat membuang seluruh sampah yang dihasilkan masyarakjat setiap hari. Tidak seluruh sampah dari masyarakat dapat dilayani oleh pemerintah daerah untuk dibuang. Alasan yang sering dinyatakan dalam masalah ini adalah armada pengangkut sampah kurang, dan problem berkaitan dengan tempat pembuangan sampah. Persoalan tempat pembuangan sampah di Bantargebang antara Pemda DKI dan Pemda Bekasi menunjukkan masalah sampah belun serius ditangani.
  5. Tentang masalah saluran drainase yang penuh dengan endapan pasir, sulit menyelesaikan masalah ini selama kita masih melihat banyak tanah atau pasir yang berserakan di jalanan Jakarta.
  6. Tentang banjir pasang surut, banjir ini berasosiasi dengan fenomena subsiden atau turunnya permukaan tanah. Pesatnya pembangunan fisik di Jakarta bagian utara yang tercermin dari banyaknya gedung, rumah dan jalan-jalan semakin membuat banjir pasang surut semakin parah karena semua pembangunan fisik di kawasan tepi pantai hakekaknya menambah beban fisik terhadap lahan yang beluk cukup mengalami kompaksi.

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , | Leave a Comment »

Bencana Alam di Indonesia

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November3, 2009

Bencana alam didefinisikan sebagai bencana yang menimpa manusia murni karena proses alam. Definisi ini mengisyaratkan ada bencana karena aktifitas manusia dan ada pula bencana alam yang dipicu atau diperhebat  oleh aktifitas manusia. pada kesempatan ini kita hanya membicarakan bencana yang murni karena proses alam.

Proses alam dapat terjadi di geosfer atau lithosfer, hidrosfer atau di air atau di laut, dan atmosfer atau di udara. Proses alam yang terjadi di tiga domain itu dapat saling berkaitan satu sama lain. Dengan demikian, bencana alam yang terjadi di suatu kawasan, termasuk di Indonesia, sangat ditentukan oleh kondisi geologi, oseanografi dan meteorologi kawasan atau daerah tersebut.

Meskipun kita dapat membedakan adanya geosfer, hidrosfer dan atmosfer, namun proses yang terjadi sering sangat berkaitan satu sama lain dan kadang tidak dapat berdiri sendiri.

Bencana terkait Kondisi atau Proses Geologi

Berikut ini kita meninjau bencana alam yang proses utamanya adalah proses geologi. Proses geologi  dapat dibedakan menjadi proses-proses endogen (yang bekerja di dalam Bumi)  dan proses-proses eksogen (yang bekerja di permukaan Bumi).

Proses endogen terdiri dari:

  1. Gerak Tektonik – menyebabkan gempa. Gempa dapat mengebabkan terjadinya patahan di kerak bumi. Guncangan gempa dapat mencetuskan Longsor atau Gerakan Tanah seperti yang terjadi di Padang Pariaman. Adapun patahan yang terjadi di dasar laut dapat memicu terjadinya Tsunami (proses terjadi di laut atau hidrosfer), seperti yang terjadi ketika gempa 26 Desember 2004 di Samudera Hindia. Sementara itu, longsor yang terjadi di palung-palung laut dalam juga dapat menimbulkan Tsunami.
  2. Magmatisme – menimbulkan gunungapi – menyebabkan letusan gunungapi yang menimbulkan aliran Awan Panas atau Lahar Panas bila ada danau kawah yang ikut jebol. Kemudian, endapan pasir di lereng gunungapi bila terkena hujan lebat (proses atmosfer) dapat menimbulkan aliran Lahar, baik lahar panas maupun lahar dingin. Contohnya seperti yang terjadi Gunung  MerapiYoguyakarta.

Proses eksogen terdiri dari:

  1. Pelapukan batuan – menyebabkan gerakan tanah atau longsor. Longsong yang terjadi pada batuan yang lapuk dapat terjadi karena dipicu oleh guncangan gempa (proses endogen), atau oleh curah hujan (proses di atmosfer) yang tinggi.
  2. Banjir – terjadi karena curah hujan yang tinggi. Aliran air yang terjadi dapat menimbulkan erosi di tebing-tebing sungai. Muatan sedimen yang masuk ke laut karena aliran sungai akan menimbulkan sedimentasi di laut.

Bencana terkait Proses di Atmosfer

Berikut ini adalah bencana yang terjadi dengan proses-proses di atmosfer sebagai proses utama.

  1. Angin – terjadi karena proses-proses yang terjadi di atmosfer. Tiupan angin terjadi karena perbedaan tekanan udara. Di Indonesia, pola angin musiman secara umum dipengaruhi oleh perbedaan tekanan udara di Benua Asia dan Benua Australia (Kepulauan Indonesia terletak di antara kedua benua itu). Kita mengenal adanya Musim Angin Barat dan Musim Angin Timur. Untuk daerah pesisir, daerah yang terbuka dari arah barat akan terkena pukulan gelombang yang timbul karena angin barat; sedang untuk daerah pesisir yang terbuka dari arah timur akan terkena pukulan gelombang yang timbul karena angin yang bertiup dari arah timur. Di daerah-daerah tertentu, karena kondisi morfologi daratannya yang bergunung-gunung, dapat terjadi tiupan angin lokal yang merusak. Kita di Kepulauan Indonesia tidak mengalami Badai Tropis. Tetapi, badai yang terjadi di Samudera Hindia dapat menimbulkan gelombang tinggi di pantai-pantai dari pulau-pulau di Kepulauan Indonesia yang menghadap ke Samudera Hindia. Pukulan gelombang di pantai dapat menyebabkan erosi pantai.
  2. Kekeringan (dan Banjir) – terjadi di Indonesia berkaitan dengan perubahan musim angin yang berkaitan dengan posisi Kepulauan Indonesia yang diapit oleh dua benua itu. Atau karena pengaruh dari proses atmosfer yang terjadi di Samudera Pasifik (El Nino atau La Nina). Karena pengaruh proses Samudera Pasifik, musim kering dapat berlangsung lebih panjang durasinya, musim hujan datang terlambat, atau curah hujan sangat tinggi. Kekeringan dapat menimbulkan kebakaran hutan (seperti terjadi di Sumatera dan Kalimantan)  atau kelaparan (atau kekurangan stok pangan nasional) karena kehabisan bahan pangan.

Demikian gambaran tentang berbgai bencana alam yang dapat terjadi di Kepulauan Indonesia.

Dengan memahami bagaimana suatu bencana alam dapat terjadi dan faktor-faktor yang mencetuskan atau mempengaruhi kejadiannya, maka kita dapat memperkirakan tempat kejadian atau yang akan terlanda bencana, dan waktu kedatangan atau kejadian suatu bencana.

Khusus untuk gempa, memang kita belum dapat memperkirakan waktu kejadiannya, tetapi kita dapat menentukan daerah-daerah yang berbahaya bila terjadi gempa.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

 

Ditulis dalam Banjir, Erosi, Gelombang, Gempa, HIDROSFER, LITOSFER, PROSES (BENCANA) ALAM, Tsunami, Volkanisme | Bertanda: , , , , , , , , , , | 2 Komentar »

Banjir 2 (dimensi manusia)

Ditulis oleh wahyuancol di/pada November1, 2009

Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan dataran di Bumi kita ini. Melalui banjir, muatan sedimen tertransportasikan dari daerah sumbernya di pegunungan atau perbukitan ke daratan yang lebih rendah, sehingga di tempat yang lebih rendah itu terjadi pengendapan dan terbentuklah dataran. Melalui banjir pula muatan sedimen tertransportasi masuk ke laut untuk kemudian diendapkan diendapkan di tepi pantai sehingga terbentuk daratan, atau terus masuk ke laut dan mengendap di dasar laut. Banjir yang terjadi secara alamiah ini sangat ditentukan oleh curah hujan.

Perlu benar kita sadari bahwa banjir itu melibatkan air, udara dan bumi. Ketiga hal itu hadir di alam ini dengan mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang selalu dipatuhinya. Seperti: air mengalir dari atas ke bawah, apabila air ditampung di suatu tempat dan tempat itu penuh sedang air terus dimasukkan maka air akan meluap, dan sebagainya.

Tetapi, manusia dapat juga menyebabkan banjir.

Bila air hujan turun dan sampai di permukaan Bumi, sebagian air itu meresap ke dalam tahan dan membentuk  air tanah, sebagian lainnya mengalir di permukaan tanah sebagai aliran permukaan yang secara umum terekspresikan sebagai aliran sungai, dan sebgaian kecil menguap kembali. Secara alamiah, pada waktu-waktu tertentu, ketika curah hujan sangat tinggi di musim hujan, aliran air permukaan menjadi sangat besar memebihi kapasitas alur sungai sehingga tidak dapat tersalurkan dengan baik melalui aliran sungai. Air meluap dan terjadilah apa yang kita sebut banjir.

Aliran permukaan = curah hujan – (peresapan air + penguapan air)

Besarnya curah hujan dan penguapan air di suatu kawasan adalah faktor yang ditentukan oleh kondisi alam dan manusia tidak dapat mempengaruhinya. Manusia hanya dapat mempengaruhi peresapan air ke dalam tanah.

Peresapan air ke dalam tanah ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini:

  1. Kondisi tanah. Tanah berpasir yang gembur lebih mudah menyerap air daripada tanah yang banyak mengandung lempung. Untuk faktor ini, manusia dapat mengurangi peresapan air melalui cara pemadatan tanah, atau menutup permukaan tanah dengan material yang kedap air seperti menutup permukaan tanah dengan semen.
  2. Kondisi permukaan tanah. Permukaan tanah yang ditumbuhi rumbut atau belukar lebih banyak menyerap air daripada tanah yang tanpa rumput/belukar atau rumput/belukarnya jarang. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan cara memelihara rumput/belukar, atau menghilangkan rumput/belukar.
  3. Besarnya kemiringan lereng permukaan tanah. Tanah dengan sudut kemiringan lereng yang lebih kecil lebih  mudah menyerap air daripada tanah dengan sudut kemiringan lereng lebih besar. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini mengurangi kemiringan lereng, seperti dengan membuat lahan berteras.
  4. Vegetasi penutup. Tanah yang banyak ditumbuhi pohon lebih banyak menyerap air daripada tanah sedikit atau tidak ditumbuhi pohon. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan menanam atau memelihara pohon untuk mengurangi aliran permukaan, atau menebang pohon yang dapat meningkatkan aliran permukaan.

Perlu kita ingat bahwa ke-empat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dapat berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh: apabila kita memiliki lahan yang berlereng dan kita ingin meningkatkan banyaknya air yang meresap di lahan itu atau mengurangi aliran permukaan, maka kita dapat melakukannya dengan menanaminya dengan pohon-pohon atau membuatnya berteras-teras. Contoh sebaliknya, apabila ada lahan miring bervegetasi, seperti lereng gunung yang berhutan, jumlah air yang mengalir sebagai air permukaan akan meningkat apabila kita menebang pohon-pohon itu. Pada contoh yang terakhir inilah, maka banjir tidak lagi murni alamiah, tetapi telah dipengaruhi oleh campur tangan manusia.

Manusia dapat memilih takdirnya.

Karena manusia dapat mempengaruhi debit aliran permukaan dan dapat mempelajari karakter aliran sungai, maka berkaitan dengan banjir kita dapat mengatakan bahwa manusia dapat memilih takdirnya sendiri.

Apabila kita tidak ingin terkena banjir maka perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan bertempat tinggal di daerah yang secara alamiah merupakan tempat penampungan air bila aliran sungai meluap, seperti di dataran tepi sungai yang akan dilalui oleh air sungai bila debitnya meningkat, di dataran banjir di sepanjang aliran sungai yang akan digenangi air bila air sungai meluap ketika curah hujan tinggi di musim hujan, atau di rawa-rawa.
  2. Jangan merusak hutan di daerah peresapan air di pegunungan atau perbukitan, karena lahan yang terbuka akan meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir di waktu yang sebenarnya tidak terjadi banjir, atau memperhebat banjir yang biasanya terjadi.
  3. Menjaga alur tetap baik sehingga aliran air sungai  lancar. Alur sungai yang menyempit atau terbendung akan menyebabkan banjir.
  4. Untuk daerah pemukiman atau perkotaan, kita harus menjaga saluran drainase agar tetap baik dan tidak tersumbat sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya menyalurkan air hujan yang turun atau menyalurkan aliran permukaan ke sungai-sungai atau saluran yang lebih besar.

Itulah hal-hal yang perlu dilakukan agar manusia tidak terkena banjir atau memilih takdirnya untuk tidak kena banjir.

Perlu Kerjasama.

Untuk dapat memilih takdir tidak terkena banjir, manusia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama. Skala kerjasama bisa dalam satu komplek pemukiman, satu kota, satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dan bahkan harus seluruh umat manusia.

Kerjasama seluruh umat manusia di bumi ini diperlukan untuk dapat menghadapi banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama internasional untuk menghadapinya.

Kerjasama seluruh manusia yang tinggal di suatu DAS diperlukan untuk dapat mengatasi masalah banjir yang melibatkan suatu sistem tata air yang melibatkan suatu DAS.

Untuk banjir yang terjadi di suatu kawasan pemukiman atau kota karena buruknya drainase, maka perlu kerjasama seluruh penghuni pemukiman atau kota tersebut dalam arti yang seluas-luasnya, baik itu kerjasama antar anggota masyarakat, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, dan kerjasama antar instansi pemerintah, serta kerjasaman antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya: apabila masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan, tentu pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai dan selalu mengangkutnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir); bila DinasKebersihan membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah maka Pemerintah harus memenuhinya; dan sebagainya.

Penutup

Sebagai penutup, perlu kita ingat bahwa banjir adalah proses alam dan manusia dapat mempengaruhi kejadiannya. Dengan pengetahuannya, manusia dapat memilih takdirnya untuk kena banjir atau tidak kena banjir. Dalam memilih takdirnya itu, manusia perlu bekerjasama. Skala kerjasama yang diperlukan disesuaikan dengan skala persoalan yang dihadapi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Air, B, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

PERUBAHAN IKLIM GLOBAL, Dampaknya terhadap Manusia secara Global

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni2, 2009

Mengutip Kantor Berita AFP, Harian Kompas, Senin 1 Juni 2009 menurunkan berita tentang dampak perubahan iklim global terhadap manusia di Bumi.

Diberitakan bahwa laporan yang dikerjakan oleh Global Humanitarian Forum di London, Inggris, menyebutkan, perubahan iklim global telah menewaskan 300.000 jiwa setiap tahunnya. kerugian yang ditimbulkan mencapai 125 miliar dollar Amerika Serikat. Disebutkan pula bahwa 325 juta jiwa kaum miskin adalah yang paling menderita. Laporan itu diungkapkan pada hari Jum’at (29/5/2009), dan di klaim sebagai laporan pertama mengenai dampak perubahan iklim terhadap manusia secara global.

Berikut ini adalah gambaran tentang bagaimana kerugian itu terjadi, antara lain:

  1. Karena Banjir dan Badai Tahunan. Penduduk Banglades termasuk salah satu masyarakat yang paling menderita karena juitaan jiwa dihantam banjir dan badai tahunan.
  2. Karena Kekeringan Massal. Para petani di Uganda salah satu kelompok yang dihantam kekeringan massal.
  3. Karena Kenaikan Muka Laut. Penduduk di pulau-pulau kecil, seperti di Karibia dan Pasifik terancam kehilangan wilayah karena kanaikan muka laut.

Prediksi 2030

Laporan itu menyebutkan, bila tidak ada penanganan berarti, maka pada 2030 kematian global akibat perubahan iklim akan mendekati setengah juta jiwa per tahun. Kerugian finansial mencapai 300 miliar dollar AS.

Disebutkan bahwa:

  1. Sebagian besar kematian disebabkan oleh degradasi lingkungan yang menimbulkan kekurangan gizi di banyak tempat.
  2. Kenaikan suhu 2 derajad celsius membunuh banyak spesies flora dan fauna yang berguna bagi kehidupan.
  3. Bagi warga pesisir, selain ancaman badai yang meningkat dan kenaikan muka laut, ikan konsumsi bergerak ke tengah laut, sehingga nelayan makin kesulitan menangkap ikan.
  4. Bagi petani, perubahan pola cuaca akan menyulitkan musim tanam. Suhu yang hangat juga mempengaruhi perkembangbiakan serangga penyerbuk di negara-negara empat musim.

Laporan itu juga menyebutkan adanya kegentingan global yang berkaitan dengan perubahan iklim global, yaitu:

  1. Kelaparan Global,
  2. Migrasi Massal, dan
  3. Kematian Massal.

Demikian laporan dari Global Humanitarian Forum.

Persoalannya sekarang, Bagaimana dengan Indonesia?

Bagi Indonesia dampak perubahan iklim juga akan seperti yang digambarkan dalam laporan itu.

  1. Banjir tahunan akan meningkat di banyak daerah, antara lain seperti di Pesisir Timur Pulau Sumatera, Kalimantan, Pesisir Utara Pulau Jawa.
  2. Kekeringan akan makin meluas seperti di pulau-pulau Nusa Tenggara.
  3. Kenaikan muka laut mengancam kita kehilangan banyak daratan pesisir di Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan banyak pulau-pulau kecil akan tenggelan seperti pulau-pulau di Kepulauan Seribu, dan Taka Bonerate.
  4. Masalah degradasi lingkungan akan bnayk terjadi di berbagai pulau di Indonesia yang berujung pada ancaman kekurangan gizi penduduknya.
  5. Ancaman gelombang badai dan angin ribut juga akan makin meningkat di banyak kawasan pesisir.
  6. Para nelayan juga akan makin sulit menangkap ikan bila ikan bergerak ke tengah laut.
  7. Para petani kita juga akan kesulitan menghadapi perubahan pola cuaca.

Akhirnya, sudah siapkah kita menghadapi semua kemungkinan itu?

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Manusia, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »