Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Aliran sungai’

Banjir 2014 di Pulau Jawa

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2014

Musim hujan di awal tahun 2014 ini menyebabkan banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Khusus di Pulau Jawa banjir terjadi menyeluruh di kawasan pesisir utara mulai dari daerah Serang, Banten di bagian barat hingga Rembang di bagian timur. Banyak kerugian materil yang timbul karena banjir tersebut, baik karena pemukiman yang terendam air maupun lumpuhnya transportasi. Pada kesempatan ini kita tidak membicarakan tentang berbagai kerugian tersebut atau penyebab banjir, tetapi akan kita lihat banjir tersebut dari sudut pandang yang lain, yaitu banjir sebagai proses geomorfologi.

Air adalah salah satu agen geomorfologi yang penting di bumi ini. Dengan aktifitas air, permukaan bumi diukir dan berbagai bentang alam dibentuk. Kita yang hidup di permukaan bumi ini, khususnya di Indonesia, sebagian besar hakekatnya adalah hidup di atas bentang alam hasil bentukan oleh proses geomorfologi yang dikerjakan oleh air, baik itu yang tinggal di daerah pegunungan, perbukitan maupun di dataran rendah.

Melalui proses erosi, air mengukir pegunungan atau perbukitan menghasilkan lereng-lereng, punggungan-punggungan dan lembah-lembah. Sementara itu, melalui proses sedimentasi air membentuk dataran.

Aliran air di daerah pegunungan atau perbukitan mengukir pegunungan atau perbukitan tersebut. Rempah-rempah batuan hasil ukiran tersebut kemudian ditransportasikan ke daerah yang lebih rendah untuk kemudian diendapkan. Maka terbentuklah berbagai lahan datar. Melalui mekanisme seperti itulah sebagian besar bagian Pulau Jawa ini diukir dan dibentuk oleh air.

Kawasan pesisir utara Pulau Jawa yang sekarang ini tergenang air banjir terbentuk dengan cara seperti itu. Air banjir yang turun dari daerah pegunungan atau perbukitan di bagian tengah pulan hakekatnya saat ini sedang bekerja dalam skala besar mengukir pegunungan dan perbukitan, mentranspor rempah-rempah hasil ukiran ke laut. Dalam perjalanannya ke laut, sebagian dari rempah-rempah tersebut diendapkan di dataran rendah.

Rempah-rempah atau material atau sedimen yang ditranportasikan oleh aliran air tersebut kaya akan zat hara. Oleh karena itu, mudah dimengerti kalau dataran rendah yang ada di pesisir utara Pulau Jawa itu adalah lahan yang subur. Di lapangan kita melihat bahwa dataran pesisir di utara Pulau Jawa tersebut adalah daerah pertanian yang subur. Dengan pola pikir seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa banjir yang berulang terjadi di daerah tersebut hakekatnya adalah cara Tuhan untuk menjaga kelangsungan hidup kita, yaitu dengan memperbaiki kesuburan lahan terus menerus tanpa kita memintanya.

Jadi, banjir yang terjadi sekarang ini menunjukkan Tuhan sedang memperbaiki lahan agar kita dapat memanfaatkannya lagi setelah banjir berakhir. Selain itu, peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa lahan yang sekarang ini mengalami banjir adalah lahan pertanian yang subur. Mengingatkan kembali tentang hal ini penting karena sekarang banyak lahan pertanian yang telah dikonversi untuk penggunaan lain, termasuk pemukiman.

Kemudian, banjir yang merupakan rahmat Tuhan itu sekarang menjadi bencana. Ini mengingatkan agar kita manusia menyesuaikan diri dengan sistem alam yang diciptakan Tuhan dengan mempergunakan akal dan pikiran yang juga telah diberikan kepada kita.

Salam,

WBS

Ditulis dalam Air, Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Erosi, FILSAFAT, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Penyebab Banjir di Jakarta

Posted by wahyuancol pada Januari20, 2014

Tulisan ini dibuat ketika Jakarta dilanda banjir tahun 2014 di bulan Januari berdasarkan hasil pengamatan langsung di lapangan maupun mengamati berita-berita tentang banjir dari berbagai media. Dari hasil pengamatan tersebut, saya sampai pada kesimpulan bahwa ada beberapa kondisi yang menyebabkan banjir di Jakarta, yaitu:

  1. Curah hujan yang tinggi. Curah hujan menjadi penyebab utama banjir, baik hujan yang terjadi di wilayah Jakarta maupun di Bogor. Curah hujan menjadi penyebab utama karena bila tidak ada hujan maka tidak akan ada banjir. Bulan-bulan Desember, Januari dan Februari memang bulan-bulan dengan curah hujan tinggi untuk kawasan Jakarta dan sekitarnya. Secara umum, tingginya curah hujan terlihat menyebabkan banjir di banyak wilayah di Indonesia, seperti di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan Papua.
  2. Salah memilih tempat tinggal. Banyak daerah-daerah terbangun di Jakarta sebelumnya adalah daerah-daerah dihindari untuk dijadikan daerah pemukiman karena merupakan lahan basah atau rawa atau aliran sungai. Perkembangan jumlah penduduk di Jakarta penyebabkan daerah-daerah rawa dan tepi sungai dijadikan daerah pemukiman.
    1. Rawa-rawa. Rawa-rawa memang tempatnya air, sehingga bila hujan turun maka air akan berkumpul di daerah tersebut sehingga wajar bila bila hujan pemukiman di daerah tersebut akan banjir. Banyak daerah pemukiman di Jakarta memiliki nama dengan kata depan “Rawa”.
    2. Tepi sungai. Daerah tepi sungai atau bantaran sungai di Jakarta juga sudah menjadi daerah hunian. Bila debit air sungai naik, maka daerah ini yang pertama kali akan terjena banjir karena memang daerah tersebut bagian dari alur sungai. Seperti daerah Kampung Pulo, Kampung Melayu.
    3. Cekungan. Daerah cekungan adalah tempat air permukaan berkumpul bila terjadi hujan. Daerah cekungan yang berada di tempat yang tinggi dalam kondisi alamiah bisa merupakan daerah yang kering. Bila daerah cekungan di jadikan daerah hunian maka persoalan banjir bisa muncul bila curah hujan tinggi.
    4. Daerah labil. Daerah labil atau belum stabil terdapat di daerah pesisir. Bila mendapat beban, maka permukaannya akan turun. Apabila permukaan tanah turun menjadi lebih rendah daripada permukaan laut, maka daerah ini menjadi daerah banjir pasang-surut. Kasus seperti ini terjadia di Jakarta Utara.
  3. Drainase yang buruk. Drainase kota yang buruk menjadi salah satu penyebab genangan atau memperparah kondisi banjir. Buruknya sistem drainase kota dapat dilihat dari terjadinya genangan ketika curah hujan masih sangat rendah dan / atau kondisi  air harus dipompa untuk mengeringkan genangan. Masalah drainase kota ini muncul antara lain karena daerah pemukiman yang lebih rendah daripada daerah sekitarnya seperti di cekungan atau rawa. Hal lain yang berkaitan dengan drainase ini adalah masalah sampah.
  4. Sampah kota. Sampah kota merupakan salah satu masalah di Jakarta. Sampah-sampah dapat menyumbat drainase atau menghambat aliran sungai. Tingginya volume sampah yang terperangkap di pintu air Manggarai merup[akan salah satu bukti masalah sampah di Jakarta.
  5. Turunnya permukaan tanah. Turunnya permukaan tanah atau subsiden menjadi salah satu faktor yang menyebabkan banjir di Jakarta, khususnya di Jakarta Utara. Turunnya permukaan tanah menyebabkan permukaan tanah menjadi lebih rendah daripada permukaan air sungai ketika laut dalam kondisi pasang. Keadaan ini menyebabkan tidak ada hujan pun Jakarta Utara dapat mengalami banjir. Salah satu contohnya adalah di Jalan Gunung Sahari bagian utara. Bila kondisi tersebut berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka ketinggian air banjir dan luas daerah genangannya makin besar.
  6. Pasang-surut. Pasang-surut telah berkembang menjadai salah satu penyebab banjir di Jakarta Utara karena berkombinasi dengan turunnya permukaan tanah. Bila kondisi laut pasang berkombinasi dengan curah hujan yang tinggi, maka akan menimbulkan genangan yang luas dan lebih tinggi daripada bila faktor itu sendiri.

Dari hasil pengamatan tersebut, secara umum dapat disebutkan bahwa penyebab banjir di Jakarta terjadi karena kombinasi faktor alam dan faktor manusia. Hal tersebut dapat diuraikan lebih lanjut sebagai berikut:

  1. Faktor alam. Faktor ini terdiri dari kondisi Meteorologi (berkaitan dengan curah hujan), kondisi Geomorfologi (berkaitan dengan bentang alam: sistem aliran sungai dan morfologi permukaan lahan), dan Oseanografi (berkaitan dengan pasang-surut).
  2. Faktor manusia. Faktor ini berkaitan dengan manajemen pemerintahan dan tatakota, serta tingakah laku warga kota.

————————-

Rabu 5 Februari 2014

Hari ini kembali Jakarta digenangi air di banyak lokasi termasuk kawasan di jalan Merdeka dan Thamrin. Genangan itu terjadi setelah sejak menjelang pagi Jakarta diguyur hujan. Sementara itu, hari ini dikabarkan kawasan Bogor dan Depok cerah.

Dari peristiwa munculnya genangan hari ini di Jakarta dengan kondisi tanpa hujan di Bogor dan Depok (Detiknews), maka kita dapat mengeliminasi faktor hujan di kawasan hulu sebagai penyebab banjir di Jakarta hari ini.

Sementara itu, di pihak yang lain, ketinggian pasang-surut di Jakarta hari ini juga rendah. Hanya 0,8 m pada puncaknya di jam 06.00, dan setelah itu turun. Keadaan ini menunjukkan pasang air laut tidak berkontribusi besar dalam banjir di kawasan utara Jakarta pagi ini (pasanglaut.com).

Dengan demikian, maka dapat kita katakan bahwa banjir yang terjadi pada hari ini di Jakarta merupakan bukti bagi buruknya sistem drainase kota Jakarta.

 

Wassalam,

WBS

Ditulis dalam Banjir, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Banjir 4 (Banjir di kota)

Posted by wahyuancol pada Oktober25, 2010

Banjir dapat terjadi di kawasan perkotaan, seperti di Jakarta dan Bandung.

Tentu kemudian yang menjadi pertanyaan adalah mengapa banjir dapat terjadi di kota?

Telah kita pahami bahwa banjir adalah fenomena alam yang berupa tergenangnya permukaan bumi atau daratan oleh massa air. Sementara itu, kehadiran air di suatu daerah berkaitan erat dengan sistem drainasi di daerah tersebut, baik itu drainasi alamiah yang berupa aliran sungai, maupun drainase buatan yang berupa saluran buatan atau parit-parit.

Banjir terkait Aliran Sungai

Untuk kota yang dilalui aliran sungai, maka banjir dapat terjadi karena meluapnya aliran sungai. Keadaan ini umumnya terjadi di musim hujan dan berkaitan dengan sistem Daerah Aliran Sungai yang lebih luas, yang mencakup kawasan lain di luar kawasan kota yang dilalui oleh sungai tersebut. Untuk Jakarta, banjir seperti ini berkaitan dengan hujan yang terjadi di Bogor yang merupakan daerah tangkapan air dari sungai-sungai yang melalui Jakarta. Bila curah hujan sangat tinggi, maka banjir dapat melanda kawasan kota yang sangat luas.

Pada skala yang lebih kecil, banjir di kota yang berkaitan dengan aliran sungai ini terjadi hanya terbatas di dalam kawasan lembah alur sungai. Banjir jenis ini hanya dialami oleh mereka yang bertempat tinggal di dalam lembah alur sungai.

Banjir terkait Sistem Drainase Kota

Sistem drainase perkotaan dibuat dengan tujuan untuk menyalurkan air permukaan yang muncul di kawasan perkotaan pada saat hujan ke aliran sungai yang kemudian menyalurkannya ke laut, atau dari kota langsung ke laut. Banjir di kota tidak hanya terjadi karena meluapnya aliran sungai, tetapi dapat juga terjadi karena sistem drainase kota yang buruk, sehingga air permukaan yang muncul di kota pada saat hujan tidak dapat segera disalurkan ke dalam sistem aliran sungai atau langsung ke laut, sehingga akhirnya air permukaan itu menjadi air banjir yang menggenangi kawasan-kawasan kota dalam berbagai skala. Keadaan seperti ini sangat terasa di Jakarta. Baru hujan sebentar saja telah terjadi genangan air di mana-mana.

Banjir karena buruknya drainase kota ini dapat terjadi di kota yang terletak di dataran rendah seperti Jakarta, maupun kota di dataran tinggi seperti Ungaran dan Bandung.

Bisakah Kita Mengatasinya?

Bisa. Agar tidak terkena banjir karena air yang memenuhi alur sungai, seyogyanya kita tidak tinggal di dalam lembah sungai.

Agar tidak terkena banjir karena buruknya sistem drainase, (1) sistem drainase kota harus diperbaiki. Dan, (2) sistem pengelolaan sampah kota diperbaiki agar sampah tidak masuk ke dalam sistem drainase kota. Juga (3) kegiatan pembanguna  fisik kota diawasi agar tidak merusak sistem drainase kota yang telah ada. Dapat juga (4) dibuat sistem peresapan air permukaan buatan.

Untuk banjir karena meluapnya aliran sungai, persoalannya tidak sederhana karena menyangkut masalah pengelolaan Daerah Aliran Sungai yang berada di dalam lebih dari satu administrasi pemerintahan. Banjir karena meluapnya aliran sungai ini adalah fenomena alamiah dan kita tidak dapat mencegahnya terjadinya. Adapun yang dapat kita lakukan adalah mengurangi intensitasnya dengan mengelola sistem aliran sungai, seperti dengan (1) menjaga aliran sungai tetap pada kondisinya yang terbaik untuk menyalurkan air (mengeruknya bila banyak endapan sedimen di dalamnya, atau tidak melakukan pembangunan fisik yang mempersempit atau menutup aliran sungai).

Hal lain yang dapat dilakukan adalah (2) memperbaiki daerah tangkapan air di kawasan hulu agar dapat berfungsi optimal menanggap air hujan yang jatuh ke permukaan tanah. Bisa juga (3) membuat bendungan untuk pengendalian banjir di kawasan hulu atau tengah daerah aliran sungai. Bisa pula membuat kanal penyalur air banjir yang dapat mempercepat aliran sungai ke laut.

Penutup

Hal lain yang juga penting dalam mengatasi masalah banjir di kota adalah aspek disiplin warga kota, dan aspek penegaklan hukum.

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 2, Banjir 3, Banjir 5, Banjir 6

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir di kota? Silahkan ke Jakarta

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 1 Comment »

Rumitnya Masalah Banjir di Jakarta 2: perlukah seorang diktator?

Posted by wahyuancol pada November14, 2009

Sekarang Jakarta mulai memasuki musim hujan. Persoalan rutin yang seakan tanpa ujung penyelesaian kembali muncul, yaitu banjir. Musim hujan ini dan banjir yang berasosiasi dengannya di Jakarta ini sesungguhnya menjadi bukti kita warga Jakarta belum tahu bagaimana bersyukur terhadap nikmat yang diberikan Tuhan sehingga nikmat itu berubah menjadi bencana.

Kemarin sore, Jum’at 13 Nopember 2009, saya sempat mengamati salah satu lokasi banjir di Matraman. Banjir di kawasan itu menjadi bukti bahwa mengelola drainase mikro adalah hal yang sangat penting bagi kawasan perkotaan.

Berikut tanggapan Pak Gubernur tentang banjir DKI:

Menurut Foke, penanganan banjir yang dilakukan Pemda DKI selama ini selalu terkendala oleh perilaku masyarakat sendiri yang tidak tertib. Tidak ada antisipasi masyarakat, terutama yang tinggal di bantaran sungai. Padahal warga tahu banjir selalu mengancam setiap musim penghujan.

Foke mencontohkan relokasi warga di bantaran sungai yang dipindahkan ke Rumah Susun (Rusun). Walaupun sudah dipindahkan ke rumah susun yang aman dari banjir, tetap saja mereka keukeuh tinggal di bantaran kali.

“Coba itu dicek di rusun Bidaracina. Mereka sudah pasti balik lagi ke bantaran kali di dekat Kampung Melayu,” ujarnya memberi contoh.

Kemudian, ini tanggapan dari Ketua Forum Warga Jakarta:

“Kenapa Jakarta bisa tergenang, ini menunjukan saluran mikro drainase tidak beres. Ini kan aneh, anggaran PU tiap tahun mengalami kenaikan, tapi tidak ada hasilnya. Kepala Dinas PU harus dipecat,” ujar Ketua Forum Warga Kota Jakarta (Fakta) Azaz Tigor Nainggolan.

Hal itu dikatakan Tigor saat dihubungi detikcom, Sabtu (14/11/2009).

Tigor menjelaskan pemerintah memang telah berusaha membangun jaringan drainase besar seperti banjir kanal timur, tetapi jika drainase mikro di seluruh Jakarta tidak dibenahi, maka dipastikan setiap hujan turun, Jakarta akan tergenang dan kemacetan akan terjadi di mana-mana.

Advokat publik ini menambahkan masih banyak kekurangan penataan Kota Jakarta. Banyak bantaran kali yang belum diberi pembatas, sehingga air langsung melupa begitu hujan turun.

“Seperti di dekat Matraman itu, di Jl Pramuka ada kali kecil, tidak ada pembatasnya. Ditambah lagi penerangan sangat kurang,” jelasnya.

Tigor pun meminta agar masyarakat Jakarta berhenti membuang sampah di kali-kali. Namun Dinas Kebersihan juga dituntut bekerja untuk mengelola sampah dengan baik.

————————-

Dari dua kutipan berita diatas kita bisa melihat persoalan banjir di Jakarta ternyata bukan semata masalah genangan air belaka, tetapi masalah manajemen kota dan mental warganya.

Berikut ini beberapa hal yang patut dicatat:

  1. Banjir di Jakarta dapat dibedakan menjadi 3 macam banjir:
    1. Banjir yang berkaitan dengan aliran sungai. Banjir ini melanda daerah yang sering kita sebut sebagai daerah bantaran sungai. Banjir tipe inilah yang dibicarakan oleh Bapak Gubernur yang beritanya kita kutip di atas. Banjir ini berkaitan dengan kondisi cutah hujan di daerah Bogor. Sering terjadi di Jakarta tidak hujan dan banjir tipe ini terjadi karena di Bogor hujan lebat. Banjir tipe ini diperburuk dengan buruknya kondisi alur sungai-sungai yang ada di Jakarta, dan warga yang berkeras tinggal atau membangun di bantaran sungai.
    2. Banjir yang berkaitan dengan buruknya kondisi drainase kota. Banjir inilah yang saya saksikan kemaren sore dan malam, dan seperti yang dibicarakan oleh Ketua Forum Warga Jakarta yang beritanya juga kita kutip di atas. Banjir ini tidak berkaitan dengan aliran sungai utama, apalagi dengan hujan di Bogor. Banjir ini terjadi bila di Jakarta terjadi curah hujan tinggi. Drainase kota yang buruk menyebabkan air permukaan tidak dapat segera masuk ke aliran sungai tetapi mengaliur ke pemukiman warga dan menggenangi jalan-jalan. Buruknya kondisi drainase kota bisa karena drainase tidak memadai (sehingga perlu ditambah atau diperbesar), drainase rusak (perlu diperbaiki), drainase tersumbat sampah atau endapan pasir (perlu dibersihkan). Banyak kita lihat drainase tertutup sehingga kita tidak tahu bagaimana kondisinya, apakah berfungsi atau tersumbat (jawaban baru kita ketahui ketika hujan turun).
    3. Banjir yang terjadi karena pasang surut air laut. Banjir ini terjadi di pesisir utara Jakarta dan terutama terjadi pada saat bulan mati atau bulan purnama.
  2. Ketiga tipe banjir itu dapat terjadi secara terpisah di waktu yang berbeda,  maupun bersama-sama di waktu yang sama. Ketiga tipe banjir ini terjadi bersama ketika musim hujan telah terjadi merata di kawasan Jakarta dan Bogor dan pada saat bulan mati atau purnama. Hal itu biasanya terjadi di bulan Januari dan Februari setiap tahun.
  3. Karena ketiga tipe banjir itu memiliki karakter yang berbeda, maka penanganannya pun tentu harus berbeda pula.
  4. Berkaitan dengan masalah sampah, persoalan ini mengarah kepada dua pihak, pertama, masyarakat atau penduduk yang membuang sampah; dan ke-dua, pemerintah yang bertanggungjawab menangangi sampah.
    1. Persoalan yang ada pada penduduk atau masyarakat yang sering didengungkan adalah mereka membuang sampah sembarangan sehingga sampah masuk ke saluran drainase dan aliran sungai. Penduduk atau masyarakat tentu tidak sepenuhnya salah juga, karena pihak pemerintah sendiri belum mampu menangani seluruh sampai dari penduduk
    2. Persoalan yang ada pada pemerintah daerah adalah bahwa pemerintah tidak dapat melayani masyarakat membuang seluruh sampah yang dihasilkan masyarakjat setiap hari. Tidak seluruh sampah dari masyarakat dapat dilayani oleh pemerintah daerah untuk dibuang. Alasan yang sering dinyatakan dalam masalah ini adalah armada pengangkut sampah kurang, dan problem berkaitan dengan tempat pembuangan sampah. Persoalan tempat pembuangan sampah di Bantargebang antara Pemda DKI dan Pemda Bekasi menunjukkan masalah sampah belun serius ditangani.
  5. Tentang masalah saluran drainase yang penuh dengan endapan pasir, sulit menyelesaikan masalah ini selama kita masih melihat banyak tanah atau pasir yang berserakan di jalanan Jakarta.
  6. Tentang banjir pasang surut, banjir ini berasosiasi dengan fenomena subsiden atau turunnya permukaan tanah. Pesatnya pembangunan fisik di Jakarta bagian utara yang tercermin dari banyaknya gedung, rumah dan jalan-jalan semakin membuat banjir pasang surut semakin parah karena semua pembangunan fisik di kawasan tepi pantai hakekaknya menambah beban fisik terhadap lahan yang beluk cukup mengalami kompaksi.

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 4 Comments »

Banjir 2 (dimensi manusia)

Posted by wahyuancol pada November1, 2009

Secara alamiah, banjir adalah proses alam yang biasa dan merupakan bagian penting dari mekanisme pembentukan dataran di Bumi kita ini. Melalui banjir, muatan sedimen tertransportasikan dari daerah sumbernya di pegunungan atau perbukitan ke daratan yang lebih rendah, sehingga di tempat yang lebih rendah itu terjadi pengendapan dan terbentuklah dataran. Melalui banjir pula muatan sedimen tertransportasi masuk ke laut untuk kemudian diendapkan diendapkan di tepi pantai sehingga terbentuk daratan, atau terus masuk ke laut dan mengendap di dasar laut. Banjir yang terjadi secara alamiah ini sangat ditentukan oleh curah hujan.

Perlu benar kita sadari bahwa banjir itu melibatkan air, udara dan bumi. Ketiga hal itu hadir di alam ini dengan mengikuti hukum-hukum alam tertentu yang selalu dipatuhinya. Seperti: air mengalir dari atas ke bawah, apabila air ditampung di suatu tempat dan tempat itu penuh sedang air terus dimasukkan maka air akan meluap, dan sebagainya.

Tetapi, manusia dapat juga menyebabkan banjir.

Bila air hujan turun dan sampai di permukaan Bumi, sebagian air itu meresap ke dalam tahan dan membentuk  air tanah, sebagian lainnya mengalir di permukaan tanah sebagai aliran permukaan yang secara umum terekspresikan sebagai aliran sungai, dan sebgaian kecil menguap kembali. Secara alamiah, pada waktu-waktu tertentu, ketika curah hujan sangat tinggi di musim hujan, aliran air permukaan menjadi sangat besar memebihi kapasitas alur sungai sehingga tidak dapat tersalurkan dengan baik melalui aliran sungai. Air meluap dan terjadilah apa yang kita sebut banjir.

Aliran permukaan = curah hujan – (peresapan air + penguapan air)

Besarnya curah hujan dan penguapan air di suatu kawasan adalah faktor yang ditentukan oleh kondisi alam dan manusia tidak dapat mempengaruhinya. Manusia hanya dapat mempengaruhi peresapan air ke dalam tanah.

Peresapan air ke dalam tanah ditentukan oleh faktor-faktor berikut ini:

  1. Kondisi tanah. Tanah berpasir yang gembur lebih mudah menyerap air daripada tanah yang banyak mengandung lempung. Untuk faktor ini, manusia dapat mengurangi peresapan air melalui cara pemadatan tanah, atau menutup permukaan tanah dengan material yang kedap air seperti menutup permukaan tanah dengan semen.
  2. Kondisi permukaan tanah. Permukaan tanah yang ditumbuhi rumbut atau belukar lebih banyak menyerap air daripada tanah yang tanpa rumput/belukar atau rumput/belukarnya jarang. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan cara memelihara rumput/belukar, atau menghilangkan rumput/belukar.
  3. Besarnya kemiringan lereng permukaan tanah. Tanah dengan sudut kemiringan lereng yang lebih kecil lebih  mudah menyerap air daripada tanah dengan sudut kemiringan lereng lebih besar. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini mengurangi kemiringan lereng, seperti dengan membuat lahan berteras.
  4. Vegetasi penutup. Tanah yang banyak ditumbuhi pohon lebih banyak menyerap air daripada tanah sedikit atau tidak ditumbuhi pohon. Manusia dapat mempengaruhi faktor ini dengan menanam atau memelihara pohon untuk mengurangi aliran permukaan, atau menebang pohon yang dapat meningkatkan aliran permukaan.

Perlu kita ingat bahwa ke-empat faktor tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan dapat berkaitan satu sama lain. Sebagai contoh: apabila kita memiliki lahan yang berlereng dan kita ingin meningkatkan banyaknya air yang meresap di lahan itu atau mengurangi aliran permukaan, maka kita dapat melakukannya dengan menanaminya dengan pohon-pohon atau membuatnya berteras-teras. Contoh sebaliknya, apabila ada lahan miring bervegetasi, seperti lereng gunung yang berhutan, jumlah air yang mengalir sebagai air permukaan akan meningkat apabila kita menebang pohon-pohon itu. Pada contoh yang terakhir inilah, maka banjir tidak lagi murni alamiah, tetapi telah dipengaruhi oleh campur tangan manusia.

Manusia dapat memilih takdirnya.

Karena manusia dapat mempengaruhi debit aliran permukaan dan dapat mempelajari karakter aliran sungai, maka berkaitan dengan banjir kita dapat mengatakan bahwa manusia dapat memilih takdirnya sendiri.

Apabila kita tidak ingin terkena banjir maka perlu melakukan hal-hal berikut ini:

  1. Jangan bertempat tinggal di daerah yang secara alamiah merupakan tempat penampungan air bila aliran sungai meluap, seperti di dataran tepi sungai yang akan dilalui oleh air sungai bila debitnya meningkat, di dataran banjir di sepanjang aliran sungai yang akan digenangi air bila air sungai meluap ketika curah hujan tinggi di musim hujan, atau di rawa-rawa.
  2. Jangan merusak hutan di daerah peresapan air di pegunungan atau perbukitan, karena lahan yang terbuka akan meningkatkan aliran permukaan yang menyebabkan banjir di waktu yang sebenarnya tidak terjadi banjir, atau memperhebat banjir yang biasanya terjadi.
  3. Menjaga alur tetap baik sehingga aliran air sungai  lancar. Alur sungai yang menyempit atau terbendung akan menyebabkan banjir.
  4. Untuk daerah pemukiman atau perkotaan, kita harus menjaga saluran drainase agar tetap baik dan tidak tersumbat sehingga dapat berfungsi sebagaimana mestinya menyalurkan air hujan yang turun atau menyalurkan aliran permukaan ke sungai-sungai atau saluran yang lebih besar.

Itulah hal-hal yang perlu dilakukan agar manusia tidak terkena banjir atau memilih takdirnya untuk tidak kena banjir.

Perlu Kerjasama.

Untuk dapat memilih takdir tidak terkena banjir, manusia tidak dapat berdiri sendiri, melainkan harus bekerjasama. Skala kerjasama bisa dalam satu komplek pemukiman, satu kota, satu DAS (Daerah Aliran Sungai) dan bahkan harus seluruh umat manusia.

Kerjasama seluruh umat manusia di bumi ini diperlukan untuk dapat menghadapi banjir yang disebabkan oleh perubahan iklim global. Dengan kata lain, diperlukan kerjasama internasional untuk menghadapinya.

Kerjasama seluruh manusia yang tinggal di suatu DAS diperlukan untuk dapat mengatasi masalah banjir yang melibatkan suatu sistem tata air yang melibatkan suatu DAS.

Untuk banjir yang terjadi di suatu kawasan pemukiman atau kota karena buruknya drainase, maka perlu kerjasama seluruh penghuni pemukiman atau kota tersebut dalam arti yang seluas-luasnya, baik itu kerjasama antar anggota masyarakat, kerjasama antara masyarakat dan pemerintah, dan kerjasama antar instansi pemerintah, serta kerjasaman antara eksekutif, legislatif dan yudikatif. Misalnya: apabila masyarakat dihimbau tidak membuang sampah sembarangan, tentu pemerintah harus menyediakan tempat pembuangan sampah yang memadai dan selalu mengangkutnya ke TPA (Tempat Pembuangan Akhir); bila DinasKebersihan membutuhkan tambahan armada pengangkut sampah maka Pemerintah harus memenuhinya; dan sebagainya.

Penutup

Sebagai penutup, perlu kita ingat bahwa banjir adalah proses alam dan manusia dapat mempengaruhi kejadiannya. Dengan pengetahuannya, manusia dapat memilih takdirnya untuk kena banjir atau tidak kena banjir. Dalam memilih takdirnya itu, manusia perlu bekerjasama. Skala kerjasama yang diperlukan disesuaikan dengan skala persoalan yang dihadapi.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ingin tahu lebih jauh tentang banjir?

Banjir 1, Banjir 3, Banjir 4, Banjir 5, Banjir 6

Ditulis dalam Air, B, Banjir, GLOSARIUM, HIDROSFER, PROSES (BENCANA) ALAM | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 7 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.