Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Alam Semesta’

Mengenal Tuhan dari Jendela Geologi dan Bencana Alam

Posted by wahyuancol pada Januari8, 2011

Mengenal Tuhan dari ciptaan-Nya ternyata bukanlah hal yang mudah. Menyusul tsunami tanggal 26 Desember 2004 melanda sebagian besar kawasan pesisir Nanggroe Aceh Darussalam dan meluluh-lantakkan kota-kota pesisir seperti Banda Aceh, Meulaboh dan Calang, muncul di banyak surat kabar berbagai pendapat tentang penafsiran alasan terjadinya bencana alam. Ada yang mengatakan tsunami itu hukuman Tuhan, ada yang mengakatan tsunami itu peringatan Tuhan, ada yang mengakatakan bahwa tsunami itu bencana alam atau peristiwa alam biasa. Semua pendapat dengan alasannya masing-masing. Di sela-sela hiruk pikuk upaya penyelamatan dan sehabilitasi yang dilakukan, ada orang-orang yang melakukan penelitian sehingga menghasilkan berbagai karya ilmiah yang dipublikasikan secara internasional.

Gelombang tsunami yang menyapu kawasan pesisir tersebut menewaskan lebih dari seratus ribu orang. Dengan tidak pandang bulu, tua – muda, lelaki – perempuan, bayi – orang tua, kaya – miskin, rakyat jelata – pemimpin, penjahat – penegak hukum, pemuka agama dan apapun agama dan kepercayaan mereka tewas terlanda gelombang tsunami itu. Dalam kondisi seperti itu sebersit rasa menuntut keadilan mungkin muncul dalam diri kita dengan pikiran mengapa Tuhan menyamaratakan semuanya? Tidak semua korban bencana itu adalah orang yang berdosa, atau tidak semua orang yang dihukum itu adalah orang yang berdosa.

Melihat hubungan antara Tuhan dan Bencana Alam yang menimpa manusia itu sering tidak mudah bagi sebagian orang. Kekeliruan dalam berpikir tentang proses alam tidak jarang membuat orang jatuh dalam pikiran bahwa Hukum Alam berbeda dari Hukum Tuhan, atau Mengapa Tuhan membiarkan hal yang buruk bagi manusia terjadi?, atau Tuhan tidak memiliki peran apapun terhadap peristiwa di alam ini.

Berkaitan dengan hal-hal tersebut, berikut ini saya sajikan tulisan yang menarik dari seorang teman tentang hubungan Tuhan dan Bencana Alam di bawah judul Teologi Kebencanaan.

—————————-

Teologi Kebencanaan

(Jum’at 24 Desember 2010, iagi-net-I)

Hari Sabtu minggu yang lalu, saya hadir di sebuah gereja di wilayah Cibubur dalam sebuah diskusi panel berjudul “Bencana Alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan?”. Diskusi dihadiri oleh lima orang pendeta, beberapa orang relawan dan penggiat LSM bencana, dan sekitar 30 orang warga gereja setempat.

Diskusi ini diadakan dalam rangka pembahasan “Teologi Kebencanaan” oleh PGI (persekutuan gereja-gereja di Indonesia) sebagai upaya menjawab pertanyaan di masyarakat yang senantiasa merasa atau bertanya apakah bencana merupakan hukuman Tuhan.

Setelah kebaktian singkat yang dipimpin oleh seorang pendeta, saya diminta mempresentasikan materi yang telah saya siapkan, berjudul sama dengan tema diskusi panel, “Bencana Alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan?”. Materi yang saya bawakan terbagi menjadi tiga bagian: hakikat bencana, geologi dan bencana alam di Indonesia, bencana alam: fenomena alam atau hukuman Tuhan? Bencana yang dibahas terutama yang berhubungan dengan proses-proses geologi yang sering terjadi di Indonesia, yaitu gempa, tsunami, erupsi gunungapi. Para pendeta dan peserta diskusi panel, hari itu belajar tentang planet Bumi, tektonik lempeng, mekanisme gempa-tsunami-erupsi gunungapi.

Setelah melakukan presentasi sekitar 1,5 jam menayangkan 65 slides, dimulailah sesi tanya jawab menyangkut geologi, filosofi dan teologi kebencanaan. Saya ingin ceritakan beberapa tanya jawab menyangkut hakikat kebencanaan dari segi filosofi dan teologi. Beberapa di antaranya adalah seperti di bawah ini.

(1) Pertanyaan mendasar pertama datang dari seorang pendeta, apakah itu hukum alam, apakah itu hukum TUHAN, kapan TUHAN menggunakan hukum alam untuk menyatakan maksudnya, apakah TUHAN hanya “menumpang” hukum alam untuk menyatakan maksudNya, apakah alam itu beritme?

Saya menjawab, sejak zaman Galileo, ilmu tentang alam semesta didasarkan pada ketiga postulat: (1) adanya hukum-hukum universal yang bersifat matematik, (2) penemuan hukum-hukum yang terjadi melalui eksperimentasi ilmiah, (3) data-data eksperimen yang bisa diulang-ulangi dengan hasil yang sama, sehingga setiap fenomena alam punya tingkat prediktibilitas – itulah hukum alam. Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia yang tertib (Tuhan tidak bermain dadu dengan alam semesta, kata Einstein), atau alam semesta yang bernalar kata Paul Davies-ahli fisika penulis buku-buku sains, yang menjadikan dunia ini nyaman dihuni (misalnya ada jaminan bahwa matahari tidak tiba-tiba menghilang).

Dunia yang dapat dihuni ini adalah fakta bahwa hukum-hukum alam bisa diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang sama. Proses-proses geologi pun tidak terjadi sembarangan, mereka mengikuti aturan-aturan, hukum-hukum, yang diketahui berdasarkan penyelidikan dan penelitian sekian lama, dan setiap proses itu punya nilai prediktibilitas baik ke masa lalu (key to the past) maupun ke masa depan (key to the future). Proses-proses geologi adalah hukum alam. Sebab bagi orang percaya bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta, maka hukum-hukum alam yang mengatur jalannya alam semesta adalah juga hukum-hukum Tuhan. Tuhan menggunakan hukum alam yang diciptakanNya sesuai kehendakNya, dan Dia tidak pernah “menumpang” kepada hukum alam, sebab hukum alam adalah hukum Tuhan, milikNya sendiri. Alam memang beritme, bersiklus, yang terjadi sepanjang sejarah Bumi, sepanjang zaman-zaman geologi.

(2) Seorang pendeta berpendapat bahwa proses-proses geologi hanyalah mengikuti hukum kekekalan massa, kekekalan energi dan kesetimbangan, dan bahwa sesungguhnya tak adalah yang namanya bencana itu secara proses geologi. Bencana, menurutnya hanyalah pandangan antroposentrisme, bukan pandangan geologi.

Saya membenarkannya. Betul, seperti kata Gordon Oakeshott (1972 dalam sebuah buku ‘Man and His Physical Envionment’), “There are no a geologic hazards without people. Geologic hazards are merely normal geologic processes or events until man gets in the way; then the processes or events become hazards”. Saya menambahkan bahwa yang terasa sebagai “bencana” itu hanyalah relatif untuk segolongan korban pada saat itu. Pada periode lain, proses geologi yang menjadi “bencana” itu ternyata membawa berkat juga. Hujan pasir dan abu volkanik serta terjangan awan panas menjadi bencana buat segolongan orang pada suatu masa. Pada masa lain semua pasir dan abu volkanik hasil letusan itu kemudian bisa menjadi sumber nafkah segolongan orang pada masa berikutnya yang melakukan penambangan pasir. Benturan meteorit di Afrika Selatan tentu menjadi bencana katastrofik pada suatu masa ketika ia jatuh, tetapi pada masa lain ternyata sebuah teori mengatakan bahwa meteorit itu bisa menjadi tambang intan. Maka bencana itu relatif, proses geologi hanyalah proses geologi, ia menjadi bencana saat bersentuhan dengan manusia, dan ketika kita memandangnya secara antroposentris.

(3) Seorang peserta diskusi menanyakan sebuah pertanyaan, mengapa Tuhan yang baik membiarkan bencana yang buruk terjadi. Apakah doa-doa, akan membebaskan Indonesia dari bencana ?

Saya menjawab, pertanyaan seperti itu adalah pertanyaan terkenal yang biasa muncul di buku-buku ateisme. Silogisme ateis menyebutkan: kalau Tuhan mahabaik, Ia akan hancurkan kejahatan. Kalau Tuhan mahakuasa, Ia dapat menghancurkan kejahatan. Tetapi kita melihat kejahatan ada terus dan mungkin semakin jahat, maka kalau begitu tak ada Tuhan sebab kejahatan meraja lela. “Si Deus est, unde malum?” – Kalau Tuhan ada, mengapa ada kejahatan? David Hume, filsuf dari abad ke-18 menulis, ” Adakah Allah bermaksud mencegah kejahatan tetapi tidak sanggup? Maka itu berarti Dia tidak berkuasa. ‘Problem of evil’ (termasuk ‘kejahatan’ alam dalam rupa bencana) sesungguhnya telah menjadi argumen klasik sejak zaman Epikurus (341-270 SM) yang menanyakan keadilan dan kasih sayang Tuhan di mana ketika kejahatan meraja lela. Akhirnya ini mengarah ke keberadaan Tuhan sendiri. Tulis Epikurus, “Tuhan ingin menyingkirkan kejahatan, tetapi Ia tak mampu, atau Ia mampu, tetapi tidak mau, atau Dia tak mau dan tak mampu. Kalau Tuhan mau tetapi tak mampu, maka Ia Tuhan yang lemah. Kalau Tuhan tak mau dan juga tak mampu, maka Ia Tuhan yang dengki dan lemah, jadi bukanlah Tuhan.

Bagi seorang ateis, begitu banyaknya kejahatan dan penderitaan manusia telah menjadi argumen tangguh untuk ateisme. Adanya kejahatan dan penderitaan merupakan sebab utama keragu-raguan iman dan pemberontakan melawan Allah. Thomas Aquinas merumuskan pandangan ateisme itu, “Seandainya Allah ada, tidak akan ada satu tempat pun di mana kejahatan ditemukan. Padahal kejahatan ditemukan di dunia. Maka Allah tidak ada”.

Bagi orang yang beragama, Tuhan berada di balik setiap peristiwa. Tak ada peristiwa akan terjadi tanpa kehendakNya. Louis Leahy dan Budhy Munawar-Rachman (STF Driyarkara) menulis bahwa pendapat seperti itu akan mengarah kepada Tuhan yang sewenang-wenang. Mengapa sekumpulan orang yang tak bersalah mati karena bencana, sementara sekumpulan orang lain tidak. Jadi, Tuhan tidak selalu ada di balik setiap peristiwa. Mereka menulis bahwa sebenarnya dalam setiap kejadian belum tentu kita dapat menemukan pesan sebab memang tak ada pesan apa-apa. Tidak ada alasan mengapa sekumpulan orang ini kena musibah, sementara yang lain tidak. Peristiwa-peristiwa bencana tidak mencerminkan pilihan Tuhan, itu peristiwa-peristiwa yang terjadi begitu saja. Segala bentuk bencana bukanlah kehendak Tuhan, demikian Leahy dan Munawar-Rachman berpendapat dalam artikel “Tuhan dan Masalah Penderitaan” (Kanisius, 2008).

Tetapi, berbeda dari pandangan Leahy dan Munawar-Rachman (2008), ada beberapa bencana yang memang dikehendaki Tuhan, dan Tuhan berada di balik peristiwa itu, yaitu pembinasaan Sodom dan Gomora yang dikisahkan dalam kitab-kitab suci (Alkitab, Kejadian 19: 15, 24 – Al Qur-an, Surat Huud : 76, 82) yang dalam penafsiran saya disebabkan oleh gempa katastrofik dan letusan gunung garam yang mengandung aspal, minyak, ter dan belerang serta kedua kota mengalami likuifaksi ke bawah Laut Mati (lihat abstrak makalah tentang ini di bawah). Terhadap hal-hal ini, ada pelajaran bahwa semua bencana adalah fenomena alam, tetapi sebagian bencana bisa merupakan sarana penghukuman Tuhan.

Tuhan telah memberikan kepada manusia sebuah dunia yang tertib, yang menjadikan dunia ini nyaman dihuni. Dunia yang dapat dihuni ini adalah fakta bahwa hukum-hukum alam bisa diandalkan, dan selalu bekerja dengan cara yang sama. Tetapi ada juga yang perlu disadari dari fakta hukum alam ini adalah, bahwa hukum alam bukan hanya memberi kesan keteraturan saja, tetapi juga dari hukum yang sama, bisa terjadi bencana bagi manusia. Hukum alam berupa gravitasi misalnya, membuat kita hidup, tetapi hukum alam yang sama bisa menyebabkan jembatan atau gedung runtuh. Kita tidak bisa hidup tanpa hukum-hukum alam, tetapi hidup dengan hukum alam berarti kita juga dikelilingi begitu banyak bahaya yang menyebabkan penderitaan.

Kesimpulannya, hukum alam netral, ia bisa terasa baik atau jahat. Hukum alam tidak bersifat baik atau jahat, ia hanya tak peduli, berlaku sama bagi semua orang. Hukum alam tidak mengenal perkecualian, ia tidak membedakan suku bangsa, agama, golongan, bisa melanda siapa pun, orang jahat atau baik.

Indonesia, selama ia duduk di atas lempeng-lempeng yang saling bertubrukan, di area tepi-tepi tubrukan atau papasan lempeng itulah selalu akan ada proses-proses gempa, tsunami dan erupsi gunungapi yang bisa jadi bencana kala bersentuhan dengan manusia. Doa-doa barangkali tak akan membebaskan Indonesia dari bencana itu sebab itu hukum alam, hukum Tuhan. Tetapi doa barangkali bisa membuat manusia diberikan akal budi untuk menghindari bencana atau berkawan hidup di tengah bencana.

Demikian sedikit ulasan.

Beberapa kesimpulan saya terkait hal ini:

1. Karena kondisi geologinya yang merupakan wilayah pertemuan antara tiga lempeng besar, Indonesia adalah wilayah yang paling rawan gempa-tsunami-erupsi gunungapi di dunia.

2. Secara geologi, gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah proses alam biasa karena kesetimbangan gaya dan kekekalan energi.

3. Bencana alam gempa-tsunami-erupsi gunungapi adalah fenomena alam, yang dapat digunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya atau melakukan penghukuman.

4. Bencana-bencana alam di Indonesia hanyalah proses geologi biasa, fenomena alam, yang bisa menjadi bencana kala bersentuhan dengan manusia, apakah itu hukuman Tuhan, susah menjawabnya tetapi dari sejarah, bukan suatu kemustahilan kalau Tuhan mau menggunakan proses-proses geologi untuk menyampaikan maksudnya.

Salam,

Awang

LAMPIRAN

————————————————

PROCEEDINGS PIT IAGI LOMBOK 2010

The 39th IAGI Annual Convention and Exhibition

“KIAMAT” 2000 SM DI SODOM DAN GOMORA:

KETIKA TUHAN MENGGERAKKAN RETAKAN GEOLOGI LAUT MATI

Awang Harun Satyana (BPMIGAS) Jakarta

SARI

Kitab Suci Agama Kristen dan Islam mencatat pembinasaan kota-kota Sodom dan Gomora oleh hukuman Tuhan. “Kemudian TUHAN menurunkan hujan belerang dan api atas Sodom dan Gomora…dan ditunggangbalikkanNyalah kota-kota itu…asap dari bumi membubung ke atas sebagai asap dari dapur peleburan.” (Kitab Kejadian 19 : 24-28). “Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu yang di atas ke bawah… dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (Surat Huud : 82).

Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah dilakukan sejak tahun 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom dan Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua kota yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra (Sodom) dan Numeira (Gomora). Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak dan rangka manusia yang menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM.

Laut Mati menempati bagian utara jalur Lembah Retakan Besar (Great Rift Valley) yang memanjang dari Mozambik (Afrika Tenggara) sampai Siria (Asia Baratdaya) sepanjang 4830 km menghubungkan lembah-lembah retakan: East African Rift Valley-Laut Merah-Teluk Aqaba-Laut Mati-Sungai Yordan-Danau Galilea. Retakan Laut Mati merupakan transform boundary yang aktif bergerak antara Lempeng Arabia dan Sub-Lempeng Sinai. Laut Mati merupakan pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar Yudea dan Sesar Moab.

Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati dicirikan oleh endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena diapir, gunung garam dan gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan kadar belerang tinggi.

Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana geologi dengan urutan : (1) pergerakan Sesar Moab, (2) gempa dengan magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta likuifaksi yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota, (3) erupsi gunung garam dan gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, dan belerang,(4) kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena material hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga menjadi hujan api dan belerang. Bencana katastrofik ini telah meratakan Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Lot/Luth dan dua putrinya.

Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena astroblem (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi berupa aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan gunung garam dan gunung lumpur.

—————————-

Penutup

Di bagian penutup ini saya ingin mengingatkan kita sekali lagi bahwa bila kita mempercayai bahwa Tuhan adalah yang menciptakan alam semesta beserta isinya ini, maka kita juga harus mempercayai bahwa hukum-hukum yang mengatur proses alam adalah juga ciptaan Tuhan.

Hukum alam adalah ketentuan Tuhan tentang proses-proses yang berlangsung di alam. Seperti telah disebutkan di atas, dengan hukum-hukum alam itu Tuhan menciptakan Bumi menjadi tempat yang nyaman dihuni dan dapat diandalkan. Bagi Tuhan, manusia adalah salah satu ciptaannya yang kehadirannya di Bumi tidak berbeda dari berbagai ciptaannya yang lain, yaitu juga mengikuti hukum-hukum alam yang mengatur proses-proses di alam ini. Jadi, dari sudut pandang Tuhan, tidak dikenal istilah bencana alam. Istilah bencana alam ada bila kita melihatnya dari sudut pandang manusia.

Tuhan memberikan akal kepada manusia agar manusia dapat menjalankan tugas hidupnya di alam ini dengan memanfaatkan seluruh isi alam semesta ini, termasuk hukum-hukumnya.

Kemudian, untuk menilai apakah suatu fenomena alam yang menjadi bencana bagi manusia itu merupakan hukuman Tuhan bagi manusia, kita tidak memiliki kemampuan untuk melakukannya. Itu adalah rahasia Tuhan. Adapun kabar tentang bencana yang ditimpakan Tuhan kepada suatu kaum di masa lalu yang disebutkan di dalam kitab suci Agama Islam dan Kristen, itu adalah sebagian rahasia Tuhan yang diberitahukan kepada manusia bahwa Tuhan bisa mengendalikan proses-proses alam dengan tidak merusak tatanan alam yang telah ditetapkan. Dengan kata lain, meskipun Tuhan dapat mengendalikan alam semesta ini sesuai dengan keinginannya, tetapi Tuhan tidak berlaku sewenang-wenang terhadap ciptaannya dengan merusak hukum alam.

Demikianlah. Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Note: terima kasih kepada Pak Awang atas izinnya untuk merepublikasi tulisannya itu. Pewarnaan di dalam teks dari saya dengan tujuan memberikan penekanan.

Ditulis dalam Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan, FILSAFAT, Memahami Pengaturan, TUHAN | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

SISTEM BUMI (SB)

Posted by wahyuancol pada Juni10, 2008

Mungkin tidak banyak diantara kita yang mengetahui bahwa pada tahun 2008 yang lalu kontingen siswa SMA dari Indonesia berhasil meraih medali perunggu dalam Olimpiade Ilmu Kebumian (1st International Earth Science Olympiad – IESO 2007 ) di Seoul, Korea Selatan. Berbeda dengan Fiska, Kimia, Biologi dan Matematika, di Indonesia Ilmu Kebumian belum dipandang sebagai ilmu yang penting. Hal itu terbukti dengan tidak didukungnya pengiriman kontingen pada tahun 2008 ini oleh Depdiknas. Pada hal, kita kan hidup di Bum. Persoalan yang banyak kita hadapi sekarang sebagian besar berkaitan dengan Ilmu Kebumian, mulai dari persoalan bencana alam sampai masalah energi dan kerusakan lingkungan.

Ingat Tsunami, Banjir, Kekeringan, Gempa Bumi, Letusan Gunungapi, Erosi Pantai, Tanah Longsong, Subsiden dan masalah energi panas bumi yang belum banyak kita manfaatkan, energi gelombang, arus dan pasang-surut yang terabaikan, hingga terakhir masalah Indonesia sampai keluar dari OPEC karena tidak dapat lagi memproduksi minyak bumi melebihi kebutuhan. Termasuk juga masalah Jalan Tol ke Bandara Sukarno-Hatta yang mengalami subsiden dan kebanjiran. Itu semua berkaitan dengan Ilmu Kebumian.

Ketika dilakukan persiapan kontingan pada tahun 2007 yang lalu, salah satu materinya adalah berkaitan dengan Sistem Bumi. Apa yang saya sampaikan kali ini adalah materi pembekalan bagi kontingen Olimpiade Kebumian Pertama Tahun 2007 tersebut.

Dengan memahami Bumi sebagai suatu sistem, selain mendapat manfaat yang berkaitan dengan persoalan sumberdaya dan sumber bencana, kita juga akan mendapat pemahaman bagaimana Bumi yang merupakan bagian dari alam semesta ini dihidupkan.

Semoga bermanfaat.

————————–

Daftar Isi:

1. Pendahuluan

2. Konsep Sistem Bumi

3. Pergerakan Material dan Energi di Bumi

3.1. Siklus Hidrologi

3.2. Siklus Batuan

3.3. Siklus Tektonik

3.4. Keterkaitan Antar Siklus

4. Sistem Bumi dan Sistem Planet pada Umumnya

4.1. Keistimewaan Bumi

4.2. Sistem Bumi dan Matahari dan Sirkulasi Atmosfer

4.3. Sistem Bumi dan Bulan

5. Sistem Iklim Bumi

5.1. Efek Rumah Kaca

5.2. Perubahan Iklim Global

6. Siklus Biogeokimia

——————————-

1. PENDAHULUAN

Sekarang, para ilmuwan cenderung mempelajari Bumi dengan pendekatan yang menyeluruh atau holistik. Pendekatan yang holistik ini memandang Bumi sebagai suatu sistem alam yang terdiri dari Geosfer, Hidrosfer, Atmosfer dan Biosfer. Manusia termasuk bagian yang integral dari Sistem Bumi. Pendekatan ini di dasarkan pada kombinasi kedalaman pengetahuan dan pengamatan yang luas meliputi banyak hal (komprehensif), dan mengarahkan kita pada solusi masalah-masalah lingkungan yang dihadapi Bumi.

Disiplin ilmu yang mempelajari Sistem Bumi adalah Earth Sciences (Ilmu Kebumian). Disiplin ini memiliki berbagai aspek lingkungan yang luas, seperti:

1) Saling mempengaruhi di antara dua sistem alam (tidak termasuk manusia).

2) Pengaruh intervensi manusia terhadap alam seperti merubah komposisi atmosfer yang menyebabkan polusi udara, pemakaian sumber alam yang berlebihan atau intervensi terhadap proses pantai yang menyebabkan terjadinya perubahan keseimbangan.

3) Kemampuan melakukan peramalan terhadap kejadian berbagai fenomena alam seperti banjir, badai, gempa bumi, erupsi gunungapi, dan gerakan tanah..

4) Mempergunakan lingkungan fisik untuk memproduksi energi dari berbagai sumber konvensional seperti bahan bakar fosil dan material organik, dan sumber-sumber energi alternatif seperti energi matahari, angin, gelombang, arus, nuklir dan kimia.

5) Pengembangan berbagai sumberdaya alam secara berkelanjutan.

6) Perubahan iklim global.

Selanjutnya, pengembangan pengetahuan yang dalam (insight) tentang lingkungan memerlukan tiga pemahaman utama, yaitu:

1) Kita hidup di dalam suatu dunia yang bersiklus yang tersusun dari berbagai sub-sistem (Geosfer, Hidrosfer, Atmosfer dan Biosfer) yang hadir bersama sebagai hasil dari pergerakan material dan energi yang melaluinya.

2) Manusia adalah bagian yang integral dari sistem alam dan dengan demikian harus bertindak mengikuti hukum alam yang bersiklus.

—————-

(Bersambung)

Hadirin sekalian, dengan permintaan maaf, mohon bersabar menanti kelanjutan tulisan ini.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , | Leave a Comment »

Problem Ujung Dunia (Tepi Alam Semesta dan Tepi Waktu)

Posted by wahyuancol pada Mei30, 2008

Di dalam ceramah Stephen Hawking tentang asal usul alam semesta disinggung sedikit persoalan Ujung Dunia (Baca: Ujung Bumi) ketika membicarakan tentang permulaan waktu. Secara singkat dijelaskan bahwa problem ujung dunia terjadi ketika orang mengira bahwa dunia (baca: Bumi) itu datar. Pertanyaannyadalah apakah dunia itu seperti sebuah piring datar, dengan laut tumpah di ujung-ujungnya? Dijelaskan bahwa persoalan ujung dunia itu terpecahkan ketika orang menyadari bahwa dunia itu bulat.

Di sini kita coba melihat bagaimana problem ujung dunia itu terselesaikan.

Bumi Datar

Mari kita berpikir bahwa Bumi itu datar seperti sepotong papan. Pada model Bumi Datar itu kita bisa menunjukkan adanya atas – bawah, dan arah mendatar. Pada arah mendatar ini, dengan mempergunakan refeensi tertentu kita dapat mengatakan adanya arah depan – belakang, dan kiri – kanan. Selanjutnya, bila jarak pada arah-arah bidang datar itu sama semuanya maka kita mendapatkan model Bumi yang datar yang pada bidang mendatarnya berbentuk lingkaran, seperti sebuah cakram.

Pada model Bumi berbentuk cakram, pertnyaan yng dapat muncul adalah dimana batas bawah Bumi?, dan dimana tepi Bumi pada arah mendatar? Terkait dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah Bagaimana kondisi tepi Bumi?

Dari pengalaman empiris, batas atas dari laut atau datar adalah kontak antara laut atau darat dengan udara.

Ketika orang-orang mengira bahwa Bumi itu datar dan kemampuan menjelajah manusia masih sangat terbatas baik di darat dan di laut, pertanyaan-pertanyaan tersebut dalah pertanyaan-pertanyaan yang sangat sulit diperoleh jawabannya. Baik ketika di darat maupun di laut, orang hanya mampu melihat Bumi sebatas cakrawala. Dalam kondisi yang demikian itu, orang yang berjalan terus ke suatu arah tertentu di permukaan Bumi akan menemukan bahwa “Bumi tanpa batas” atau “Bumi tak bertepi”. Hal itu karena orang berjalan di permukaan Bumi yang bulat dengan pikiran bahwa Bumi adalah datar.

Bumi Bulat

Pada model Bumi yang berbentuk bulat seperti bola maka, arah-arah yang ada pada model Bumi datar menjadi relatif. Pada model ini, bila kita mengelilingi Bumi pad arah tertentu maka, arah depan bertemu dengan arah belakang, dan arah kiri bertemu dengan arah kanan. Untuk kondisi yang demikian itu, penyebatan suatu arah membutuhkan suatu titik atau bidang referensi buatan. Jadi, pada model Bumi Bulat tidak ada lagi arah mendatar. Konsekuensinya adalah, pada model Bumi Bulat tidak ada tepi atau ujung Bumi pada arah mendatar, karena tidak ada bidang datar. Yang ada adalah bidang melengkung yang membentuk bola.

Bagaimana dengan arah “atas” dan “bawah”? Pada model Bumi Bulat seperti bola, arah “atas” menjadi “arah yang mennjuk ke arah menjauh dari pusat Bumi”, sedang arah “bawah” menjadi “arah yang menunjuk ke arah pusat Bumi”. Dengan demikian, pertanyaannya menjadi: “Bagaimana atau apa yang ada di Pusat Bumi?, dan “Bagaimana atau apa yang da di sisi terluar atau tepi Bumi?”.

Sistem Bumi

Konsep Sistem Bumi memandang Bumi sebagai suatu sistem yang terdiri dari Litosfer, Hidrosfer, Atmosfer, dan Biosfer. Litosfer adalah bagian Bumi yang berupa daratan atau batuan. Hidrosfer adalah bagian Bumi yang merupakan tubuh air, terutama laut. Atmosfer adalah bagian Bumi yang merupakan udara yang menyelubungi litosfer dan hidrosfer. Biosfer adalah makhluk hidup yang ada di Bumi, termasuk manusia.

Sampai sekarang manusia belum dapat mengetahui secara langsung dan pasti apa yang terdapat di pusat Bumi. Pengetahuan manusia tentang pusat Bumi hanyalah hasil interpretasi dari rekaman gelombang seismik. Sementara itu, di sisi lain, batas terluar dari Sistem Bumi dapat diketahui melalui pengamatan terhadap Bumi dari ruang angkasa mealui satelit. Hasil analisis terhadap kondisi atmosfer Bumi menunjukkan bahwa peralihan dari atmosfer ke ruang angkasa terjadi secara bergradasi.

Penggunaan teknologi satelit atau pesawat ruang angkasa untuk dapa melihat Bumi secara menyeluruh, atau untuk dapat melihat bahwa Bumi berbentuk bulat memberikan isyarat bahwa, untuk dapat mengetahui bentuk Bumi kita harus melihat Bumi dari luar Sistem Bumi (dari ruang angkasa). Bila kita tidak keluar dri Sistem Bumi maka pengetahuan kita tentang bentuk Bumi yang bulat adalah hasil dari analisis berbagai data dan fakta tentang Bumi.

Penutup

Uraian d atas memberikan gambaran bahwa pemahaman atas Sistem Bumi dapat diperoleh melalui pemahaman hukum-hukum alam dari dalam Sistem Bumi, atau diperoleh melalui pengamatan visual dari luar Sistem Bumi atau dari ruang angkasa.

Melalui pengamatan dari luar Sistem Bumi (dari satelit atau pesawat ruang angkasa) kita benar-benar melihat langsung secara visual bentuk Bumi yang bulat dan dapat pula mengetahui batas terluar yang membatasinya dengan ruang angkasa.

Selanjutnya, kembali pada pembicaraan tentang alam semesta dan waktu yang dibicarakan di dalam ceramah dari Stephen Hawking; Bagaimana bila pemikiran di atas kita terapkan pada alam semesta? Untuk mengatahui batas alam semesta dan waktu, dapatkan kita mengetahui alam semesta dari dalam dan dari luar sistem alam semesta itu? Demikian pula dengan waktu, dapatkan kita meninggalkan sistem waktu untuk dapat melihat batsa waktu? Atau, dapatkan batas waktu dianalisis dari dalam sistem waktu?

Ditulis dalam Alam Semesta | Dengan kaitkata: , , , , , , , , | 13 Comments »

Asal Usul Alam Semesta

Posted by wahyuancol pada Mei22, 2008

Judul asli tulisan yang panjang ini adalah Origin of the Universe.
Dengan izin terlulis via email tertanggal 20 Mei 2008 dari seseorang rekan yang bernama Raja.Elang, saya memuat terjemahan tulisan yang merupakan ceramah dari Stephen Hawking yang aslinya dalam Bahasa Inggris.
Secara singkat dapat disebutkan bahwa ceramah tersebut memberikan gambaran bagaimana pertarungan pendapat antara orang yang setuju bahwa alam semesta memiliki awal dan yang tidak setuju alam semesta memiliki awal, dan memberikan alasan mengapa alam semesta memiliki awal.
Tanggapan saya atas ceramah ini telah saya kemukakan dalam blog saya ini melalui tulisan yang berjudul “Keterbatasan Sains“.

=============================

Origin of the Universe

Teks kuliah berikut adalah terjemahan raja.elang yang mungkin ada banyak kesalahan di sana-sini. Teks asli dalam bahasa Inggris dari berkeley.edu. Tambahan komentar dari youtube.com dan pemenggalan teks disesuaikan dengan tayangan di situs youtube.com. Sumber saya cantumkan agar terjemahan dapat dibandingkan secara langsung dengan aslinya. Silahkan dikoreksi jika ada kesalahan. Sebagai penggemar fisika yg awam banyak hal yang tidak saya mengerti. Tolong bantu saya jika ada pertanyaan.

http://berkeley.edu/news/media/releases/2007/03/16_hawking_text.shtml

Ini adalah teks dari Kuliah Fisika J. Robert Oppenheimer, dibawakan tanggal 13 Maret 2007 oleh Stephen Hawking, professor Lucasian matematika di Universitas Cambridge. Hawking berbicara di Gedung Zellerbach di kampus Universitas California, Berkeley.

Origin of the Universe – Stephen Hawking (1 of 5)

(“Jadi silahkan bergabung dengan saya menyambut Stephen Hawking”)
(Penonton bertepuk tangan meriah.)
(Stephen Hawking didorong di atas kursi roda memasuki panggung.)

Anda bisa mendengar saya? (Stephen Hawking berbicara menggunakan bantuan alat.)
(“Ya”)
(Gambar kartun muncul di layar. Penonton tertawa.)

Menurut orang Boshongo dari Afrika tengah, pada awalnya hanya ada kegelapan, air, dan tuhan maha besar Bumba. Suatu hari Bumba, menderita sakit perut, memuntahkan matahari. Matahari mengeringkan sebagian air, meninggalkan tanah, Masih menderita, Bumba memuntahkan bulan, bintang-bintang, dan kemudian beberapa binatang. Leopard, buaya, kura-kura, dan akhirnya manusia.

Mitos penciptaan ini, seperti yang mitos lainnya, mencoba untuk menjawab pertanyaan yang kita semua tanyakan. Mengapa kita di sini? Dari mana kita berasal? Jawaban secara umum diberikan, adalah bahwa manusia-manusia secara perbandingan asal terbaru, karena tentu sudah jelas, bahkan pada masa-masa awal, bahwa ras manusia sedang meningkatkan pengetahuan dan teknologi. Jadi jawabannya tidak bisa telah berputar selama itu, atau jawabannya akan telah semakin meningkat. Contohnya, menurut Uskup Usher, Kitab KEjadian menempatkan penciptaan dunia pada pukul 9 pagi, tanggal 27 Oktober, 4004 SM. (Penonton tertawa.) Di sisi lain, korong-korong fisik, seperti gunung-gunung dan sungai-sungai, berubah sangat sedikit dalam masa hidup manusia. Mereka karenanya dijadikan latar belakang konstan, dan entah telah mengada selamanya sebagai pemandangan kosong, atau telah diciptakan pada waktu yang sama seperti manusia manusia.

Tidak setiap orang bagaimanapun juga, senang dengan gagasan bahwa alam semesta mempunyai awal. Contohnya, Aristoteles, filosofof paling terkenal Yunani, mempercayai alams semesta telah ada selamanya. Sesuatu yang abadi, adalah lebih sempurna daripada sesuatu yang diciptakan. Dia menyarankan alasan kita melihat kemajuan , entah itu banjir, atau bencana alam lainnya, telah berulangkali menyebabkan alams semesta abadi kembali ke awal. Motivasi mempercayai sebuah alam semesta abadi, adalah hasrat untuk mencegah permohonan bantuan dari campur tangan ilahi, untuk menciptakan alam semesta, dan membuatnya berjalan. Sebaliknya, mereka yang mempercayai alam semesta memiliki awal, menggunakannya sebagai argumen keberadaan Tuhan, sebagai sebab awal, atau penggerak pertama alam semesta.

Jika seorang percaya bahwa alam semesta memiliki permulaan, pertanyaan yang jelas adalah, Apa yang terjadi sebelum permulaan? Apakah yang Tuhan lakukan sebelum Dia menciptakan dunia? Apakah Dia (laki-laki) menyiapkan Neraka untuk orang yang menanyakan pertanyaan demikian? (Penonton tertawa.) Masalah benar atau tidak alam semesta memiliki permulaan, adalah kepedulian besar bagi filosof Jerman, Immanuel Kant. Dia merasakan adanya kontradiksi logika, atau Antimonies, salah satu dari dua. Jika alam semesta memilik permulaan, mengapa ia menunggu waktu tak terbatas sebelum ia bermula? Dia menyebutnya tesis. Di sisi lain, jika alam semesta telah ada selamanya, mengapa membutuhkan waktu tak terbatas untuk mencapai tahap sekarang? Dia menyebutnya anti tesis. Baik tesis, dan anti tesis, bergantung pada asumsi Kant, seiring dengan pendapat hampir setiap orang, bahwa waktu adalah Absolut. Maksudnya, waktu bermula dari masa lalu yang tak terbatas, menuju masa depan tak terbatas, tak tergantung dari alam semesta apapun yang mungkin atau tidak mungkin ada sebagai latar belakangnya.

Ini masih menggambarkan pikiran banyak ilmuwan hari ini. Bagaimanapun tahun 1915, Einstein memperkenalkan Teori Umum Relativitas yang revolutioner. Teorinya, waktu dan ruang tidak lagi Absolut, tidak lagi sebuah latar belakang kaku peristiwa-peristiwa. Sebagai penggantinya, mereka adalah kuantitas-kuantias dinamis yang dibentuk oleh materi dan energi di alam semesta. Mereka didefinisikan hanya di dalam alam semesta, jadi tidak masuk akal membicarakan waktu sebelum alam semesta bermula. Itu seperti menanyakan arah selatan dari Kutub Selatan. Tidak dapat didefinisikan.

Jika alam semesta secara esensial tidak berubah dalam waktu, seperti yang secara umum diasumsikan sebelum tahun 1920an, tidak akan ada alasan bahwa waktu seharusnya tidak secara sewenang-wenang didefinisikan jauh sebelumnya. Apapun yang disebut permulaan alam semesta, akan bersifat palsu, dalam arti seseorang dapat menarik sejarah jauh pada masa-masa yang lebih awal. Dengan demikian mungkin saja alam semesta diciptakan tahun lalu, tapi dengan semua ingatan-ingatan dan bukti fisika, terlihat jauh lebih tua. Ini membangkitkan pertanyaan-pertanyaan filosofis mendalam mengenai makna keberadaan. Saya musti berurusan dengan pertanyaan tersebut dengan mengadopsi apa yang disebut pendekatan positivis. (Foto Karl Popper muncul di layar.) Dalam positivis, gagasannya adalah bahwa kita menafsirkan input dari indera-indera kita dalam kerangka model yang kita buat tentang dunia ini. Seseorang tidak dapat menanyakan apakah model tersebut mewakili realitas, hanya apakah model tersebut berhasil. (bersambung)

Origin of the Universe – Stephen Hawking (2 of 5)

(sambungan dari bagian 1/5) Sebuah model adalah sebuah model yang baik, jika pertama ia menafsirkan sebuah kisaran luas observasi-observasi, dalam kerangka sebuah model yang sederhana dan luwes. Dan kedua, jika model tersebut membuat prediksi-prediksi pasti yang dapat diuji, dan mungkin diputarbalikkan, oleh observasi. (Filosofi Positivis: Sebuah Teori hanyalah sebuah model matematis untuk menjelaskan observasi-observasi.)

Dalam kerangka pendekatan positivis, seseorang dapat membandingkan dua model alam semesta. Yang satu alam semesta diciptakan tahun lalu, dan yang satunya lagi alam semesta mengada jauh lebih lama. Model alam semesta ada lebih lama daripada satu tahun, dapat menjelaskan hal-hal seperti kembar identik, yang mempunyai sebuah sebab umum lebih daripada setahun lalu. Di sisi lain, model alam semesta diciptakan tahun lalu, tidak dapat menjelaskan kejadian demikian. Jadi model pertama lebih baik. Seseorang tidak dapat menanyakan apakah alam semesta benar-benar mengada sebelum setahun yang lalu, atau baru saja kelihatan. Dalam kerangka positivis, keduanya sama saja.

Dalam sebuah alam semesta tak berubah, tidak akan ada titik permulaan alami. Tapi situasi ini berubah secara radikal, ketika Edwin Hubble mulai membuat pengamatan-pengamatan dengan teleskop seratus inchi di Gunung Wilson, pada tahun 1920an.

Hubble menemukan bahwa bintang-bintang tidak secara seragam terdistribusi di seluruh ruang angkasa, tapi dikumpulkan bersama dalam koleksi-koleksi sangat banyak yang disebut galaksi galaksi. (Grafik hubungan kecepatan galaxi-galaxi meninggalkan kita dengan jarak galaxi-galaxi dari kita muncul di layar.)

Dengan mengukur cahaya dari galaksi-galaksi, Hubble dapat menentukan kecepatannya. Dia mengharapkan bahwa galaxi-galaxi yang bergerak menuju kita akan sebanyak yang bergerak menjauh. Ini yang akan didapatkan seseorang sesuai dengan alam semesta yang tidak berubah seiring waktu. Tapi Hubble terkejut menemukan bahwa hampir semua galaxi-galaxi bergerak menjauh dari kita. Lebih-lebih, semakin jauh galaxi-galaxi dari kita, semakin cepat mereka menjauh. Alam semesta tidaklah tak berubah seiring waktu, seperti yang disangka setiap orang sebelumnya. Alam semesta mengembang. Jarak antara galaxi-galaxi, meningkat seiring dengan waktu.

Pengembangan alam semesta, adalah salah satu dari penemuan-penemuan intelektual terpenting dari abad ke 20, atau abad kapan pun. Pengembangan alam semesta mentransformasi perdebatan apakah alam semesta mempunyai sebuah permulaan. Jika galaxi-galaxi bergerak terpisah sekarang, mereka pastilah lebih dekat bersama di masa lalu. Jika kecepatannya konstan, mereka pastilah bertumpukan satu sama lain, kira-kira 15 milyar tahun yang lalu. Apakah ini, permulaan alam semesta?

Banyak ilmuwan tetap tidak senang dengan alam semesta yang memiliki sebuah permulaan, karena sepertinya menyiratkan bahwa ilmu fisika roboh. Seseorang akan harus meminta bantuan seorang perwakilan dari luar, yang untuk gampangnya, dapat disebut Tuhan, untuk menentukan bagaimana alam semesta bermula. Maka dari itu mereka mengajukan teori-teori yang mana alam semesta berkembang saat ini, tapi tidak mempunyai awal. Salah satunya adalah teori Keadaan Kukuh, diusulkan oleh Bondi, Gold, dan Hoyle tahun 1948.

Dalam teori Keadaan Kukuh, ketika galaxi galaxi bergerak terpisah, gagasannya dulu adalah bahwa galaxi-galaxi baru akan terbentuk dari materi yang dianggap secara terus menerus diciptakan di seluruh ruang angkasa. Alam semesta akan telah mengada selamanya, dan akan telah terlihat sama sepanjang masa. Sifat terakhir ini dulu mempunyai jasa luar biasa, dari sudut pandang positivis, dengan menjadi sebuah prediksi pasti, yang dapat diuji dengan observasi. Kelompok astronomi radio Cambridge, di bawah Martin Ryle, melakukan sebuah survey pada sumber-sumber radio lemah di awal tahun 1960an. Sumber-sumber tersebut didistribusikan cukup seragam mengarungi langit, menunjukkan bahwa kebanyakan sumber-sumber tersebut, terletak di luar galaxi kita. Semakin lemah sumber-sumber tersebut akan pergi semakin jauh secara rata-rata.

Teori Keadaan Kukuh memprediksi bentuk dari grafik hubungan sejumlah sumber radio dengan Kekuatan sumber. Tetapi observasi-observasi memperlihatkan sumber-sumber radio yang redup lebih banyak daripada yang diperkirakan, menunjukkan bahwa kepadatan sumber-sumber tersebut lebih tinggi di masa lalu. Ini berlawanan dengan asumsi dasar teori Keadaan Kukuh, bahwa segalanya konstan dalam waktu. Karena inilah, dan berbagai alasan lainnya, teori Keadaan Kukuh ditinggalkan.

Usaha lain untuk menjauhkan diri dari alam semesta yang memiliki sebuah permulaan, adalah saran bahwa dulunya ada sebuah fase menyusut, namun karena rotasi dan ketidakteraturan lokal, materi tidak akan semuanya jatuh pada titik yang sama. Sebagai penggantinya, bagian-bagian berbeda dari materi akan meleset satu sama lain, dan alam semesta akan mengembang lagi dengan kepadatan selalu terbatas. Dua orang Rusia, Lifshitz dan Khalatnikov, sesungguhnya mengklaim telah membuktikan bahwa sebuah penyusutan umum tanpa simetri yang persis, akan selalu menuju pada sebuah pantulan, dengan kepadatan selalu terbatas. (Foto Lifshitz & Khalatnikov bersama kolega-koleganya muncul di layar.) Hasil ini sangat sesuai dengan materialisme dialektik Marx Lenin, karena hasil tersebut menghindari pertanyaan-pertanyaan canggung mengenai penciptaan alam semesta. Karenanya hasil tersebut menjadi sebuah artikel iman bagi ilmuwan Soviet.

Ketika Lifshitz dan Khalatnikov menerbitkan klaim mereka, saya adalah mahasiswa riset berusia 21 tahun, yang sedang mencari sesuatu untuk melengkapi tesis Doktoral saya. Saya tidak mempercayai apa yang mereka sebut sebagai bukti, dan berangkat bersama Roger Penrose untuk mengembangkan teknik matematika baru untuk mempelajari pertanyaan tersebut. Kami memperlihatkan bahwa alam semesta tidak dapat memantul. (Foto Roger Penrose muncul di layar.) Jika Teori Umum Relativitas Einstein benar, akan ada sebuah keganjilan, suatu titik kepadatan tak terbatas dan lengkungan ruang-waktu, di mana waktu mempunyai sebuah permulaan. (Menurut Teori Relativitas Umum, alam semesta akan bermula dengan sebuah Dentuman Besar.)

Bukti pengamatan yang menegaskan gagasan bahwa alam semesta memiliki sebuah permulaan yang sangat padat, datang pada bulan Oktober 1965, beberapa bulan setelah hasil keganjilan saya yang pertama, dengan penemuan dari sebuah latar belakang redup gelombang-gelombang mikro di seluruh ruang angkasa. (Grafik hubungan intensitas dengan frekuensi radiasi latar belakang gelombang mikro, muncul di layar.) Gelombang-gelombang mikro ini sama dengan yang di dalam kompor microwave anda, hanya amat sangat kurang berdaya. Gelombang-gelombang mikro tadi akan memanaskan pizza anda hanya pada suhu min 271,3 derajat Celcius, tidak terlalu baik untuk melumerkan pizza, apalagi untuk memasaknya.

(bersambung ke bagian 3/5)

Origin of the Universe – Stephen Hawking (3 of 5)

(sambungan dari bagian 2/5) Anda sesungguhnya dapat mengamati sendiri gelombang-gelombang mikro ini. Pasang televisi anda pada sebuah saluran kosong. Beberapa persen dari salju yang anda lihat pada layar, akan disebabkan oleh latar belakang gelombang-gelombang mikro. Penafsiran masuk akal satu-satunya dari latar belakang tersebut adalah bahwa itu adalah radiasi yang tersisa dari sebuah keadaan awal yang sangat panas dan padat. Ketika alam semesta mengembang, radiasi akan telah mendingin sampai tinggal ampas redup yang kita amati sekarang.

Walaupun teorema-teorema keganjilan Penrose dan saya sendiri, memprediksi bahwa alam semesta memiliki sebuah permulaan, teorema-teorema tersebut tidak menjelaskan bagaimana alam semesta bermula. Persamaan-persamaan dari Relativitas Umum akan roboh pada keganjilan. Dengan demikian teori milik Einstein tidak dapat memprediksi bagaimana alam semesta akan bermula, tetapi hanya bagaimana alam semesta berevolusi setelah ia bermula. Ada dua sikap yang dapat diambil mengenai hasil-hasil dari Penrose dan saya. Satu adalah bahwa Tuhan memilih bagaimana alam semesta bermula untuk alasan-alasan yang tidak dapat kita pahami. Ini adalah pandangan Paus John Paul. Dalam sebuah konferensi mengenai kosmologi di Vatikan, Paus berkata pada para peserta bahwa OKE saja mempelajari alam semesta setelah ia bermula, tetapi para peserta tidak seharusnya mempertanyakan permulaan itu sendiri, karena itu adalah saat penciptaan dan hasil karya Tuhan. Saya gembira saat itu Paus tidak menyadari bahwa saya telah mempresentasikan sebuah makalah pada konferensi tersebut, menyarankan bagaimana alam semesta bermula. Saya tidak bercita-cita diserahkan pada Inkuisisi, seperti Galileo. (Gambar Stephen Hawking dalam penjara muncul di layar. Penonton tertawa, lalu bertepuk tangan.)

Penafsiran lain dari hasil-hasil kami, yang disukai oleh kebanyakan ilmuwan, adalah bahwa itu menunjukkan bahwa Teori Umum Relativitas, roboh di medan gravitasi yang sangat kuat dalam alam semesta awal. Teori tersebut harus digantikan oleh sebuah teori yang lebih lengkap.. Orang akan berharap demikian memang, karena Relativitas Umum tidak memperhitungkan struktur materi yang berskala kecil, yang diatur oleh teori kuantum. Biasanya hal ini tidak masalah, karena skala alam semesta, yang besar sekali dibandingkan skala mikroskopis dari teori kuantum. Tetapi ketika alam semesta berukuran Planck, seper milyar trilyun trilyun dari satu sentimeter, dua skala tersebut adalah sama, dan teori kuantum harus diperhitungkan.

Untuk memahami Asal usul alam semesta, kita perlu mengkombinasikan Teori Umum Relativitas, dengan teori kuantum. Cara terbaik melakukannya, tampaknya adalah dengan menggunakan gagasan milik Feynman mengenai sebuah jumlah melingkupi sejarah-sejarah. (Foto Richard Feynman dan foto tam-tam muncul di layar.) Richard Feynman adalah orang yang bersemangat, yang memainkan genderang bongo dengan sendi terpisah [saya bingung apa terjemahan yang tepat untuk strip joint, mungkin tayangan ini bisa membantu: http://www.youtube.com/watch?v=qWabhnt91Uc&feature=related ] di Pasadena , dan seorang ahli fisika brilian di California Institute of Technology. Dia mengusulkan bahwa sebuah sistem beralih dari keadaan A, menuju keadaan B, dengan tiap jalur atau sejarah yang mungkin. (A~ e iS[g]/h Jumlah keseluruhan metrika konsisten dengan kondisi-kondisi perbatasan tertentu.) [ Apa artinya rumus A~ e iS[g]/h dalam bahasa awam? Tolong dibantu. ]

Tiap jalur atau sejarah, mempunyai amplitudo atau intensitas tertentu, dan probabilitas dari sistem beralih dari A- menjadi B, ditentukan dengan menambahkan amplitudo-amplitudo tiap jalur. Akan ada sebuah sejarah di mana bulan terbuat dari keju biru, tetapi amplitudonya rendah, yang merupakan berita buruk bagi tikus. (Gambar bulan dimakan tikus muncul di layar. Penonton tertawa.) [ Apa hubungan amplitudo dengan sejarah? Bagaimana menentukan amplitudo sejarah? Tolong dibantu. ]

Probabilitas untuk sebuah keadaan alam semesta di saat sekarang, ditentukan dengan menjumlahkan amplitudo-amplitudo dari semua sejarah yang berakhir dengan keadaan itu. Tetapi bagaimana sejarah-sejarah tadi bermula? Ini adalah pertanyaan Asli dalam penyamaran lain. Apakah membutuhkan sesosok Pencipta untuk menfirmankan bagaimana alam semesta bermula? Atau apakah keadaan awal alam semesta, ditentukan oleh sebuah hukum sains?

Pada kenyataannya, pertanyaan ini akan tetap timbul bahkan jika sejarah-sejarah dari alam semesta kembali ke masa lalu tak terbatas. Tetapi lebih segera jika alam semesta bermula hanya 15 milyar tahun yang lalu. Masalah apa yang terjadi pada permulaan waktu, adalah sedikit mirip dengan apa yang terjadi pada ujung dunia, ketika orang mengira dunia datar. Apakah dunia sebuah piring datar, dengan laut tumpah di ujungnya? Saya telah menguji ini dengan percobaan. Saya telah mengelilingi dunia, dan saya tidak terjatuh. (Gambar Bumi datar & gambar orang jatuh memegang balon muncul di layar.)

Seperti yang kita semua ketahui, masalah apa yang terjadi di ujung dunia, dipecahkan ketika orang menyadari bahwa dunia bukanlah piring datar, tetap permukaan melengkung. Akan tetapi waktu tampaknya berbeda. Tampaknya terpisah dari ruang, dan harus seperti sebuah model rel kereta api. Jika waktu memiliki permulaan, akanlah harus ada seseorang yang menggerakkan kereta api. (Gambar kereta api dan rel kereta api muncul di layar.)

Teori Umum milik Einstein, menggabungkan waktu dan ruang sebagai ruang-waktu, tetapi waktu tetap berbeda dari ruang, dan seperti sebuah koridor, yang bisa memiliki awal dan akhir, maupun berlangsung selamanya. Bagaimanapun juga, ketika mengkombinasikan Relativitas Umum dengan Teori Kuantum, Jim Hartle dan saya, menyadari bahwa waktu dapat berperilaku seperti arah lain dalam ruang angkasa di bawah kondisi-kondisi ekstrim. Ini artinya orang dapat terlepas dari masalah waktu memiliki sebuah permulaan, dalam cara yang sama seperti kita terlepas dari masalah ujung dunia. (bersambung ke bagian 4/5)

Origin of the Universe – Stephen Hawking (4 of 5)

(sambungan dari bagian 3/5) Misalkan permulaan alam semesta, seperti kutub selatan Bumi, dengan derajat-derajat lintang, memainkan peran waktu. Alam semesta bermula sebagai sebuah titik di Kutub Selatan. Ketika seseorang menuju utara, lingkaran-lingkaran dari lintang konstan, mewakili ukuran alam semesta, akan mengembang. Menanyakan apa yang terjadi sebelum awal alam semesta, akan menjadi sebuah pertanyaan tanpa makna, karena tidak ada selatan di Kutub Selatan. (Gambar lingkaran-lingkaran lintang yang tersusun menyerupai setengah bola muncul di layar.)

Waktu, seperti terukur dalam derajat-derajat lintang, akan memiliki sebuah permulaan di Kutub Selatan, tetapi Kutub Selatan adalah seperti titik lain, setidaknya begitulah saya diberitahu. Saya pernah ke Antartika, tetapi belum pernah ke Kutub Selatan. (Foto penguin dan Peta Antartika muncul di layar.)

Hukum-hukum Alam berlaku di Kutub Selatan, seperti di tempat-tempat lain. Ini akan menyingkirkan keberatan setua-abad akan salam semesta yang memiliki sebuah permulaan,bahwa itu akan menjadi sebuah tempat di mana hukum-hukum alam roboh. Permulaan alam semesta, akan diperintah oleh hukum-hukum sains. [ Di mana alam semesta bermula? Tolong dibantu. ]

Gambar yang Jim Hartle dan saya kembangkan, mengenai penciptaan quantum spontan dari alam semesta, akan sedikit menyerupai pembentukan gelembung-gelembung uap dalam air yang sedang mendidih. (Gambar gelembung-gelembung air muncul di layar.) [ Di mana gelembung-gelembung kuantum terjadi? Apa bahan pembentuk gelembung kuantum? Tolong dibantu. ]

Gagasannya adalah bahwa sejarah-sejarah yang paling mungkin dari alam semesta, akan menyerupai permukaan-permukaan gelembung-gelembung. Banyak gelembung-gelembung kecil akan nampak, dan kemudian menghilang lagi. Ini akan berkaitan dengan alam semesta-alam semesta mini yang akan mengembang, tapi kemudian runtuh lagi ketika masih berukuran mikroskopis. Mereka adalah alam semesta-alam semesta alternatif yang mungkin, tetapi mereka tidak menarik karena mereka tidak berumur cukup panjang untuk mengembangkan galaxi-galaxi dan bintang-bintang, apalagi kehidupan cerdas. Sedikit dari gelembung-gelembung kecil tadi, bagaimanapun juga, akan tumbuh sampai seukuran tertentu yang mana mereka aman dari keruntuhan ulang. Mereka akan berkaitan dengan alam semesta-alam semesta yang akan mulai mengembang dengan kecepatan yang semakin meningkat. Ini disebut inflasi, seperti halnya harga-harga naik tiap tahun. (Grafik hubungan harga- waktu & grafik hubungan ukuran alam semesta-waktu muncul di layar. Penonton tertawa.) [ Apakah tidak bertentangan dengan hukum I termodinamika: kelestarian energi? Dari mana energi alam semesta? Berapa besar energi dan materi alam semesta? Tolong dibantu. ]

Rekor dunia untuk inflasi adalah di Jerman setelah Perang Dunia Pertama. Harga-harga membubung dengan faktor sepuluh juta dalam periode 18 bulan. Tetapi itu bukan apa-apa dibandingkan dengan inflasi dari alam semesta awal. Alam semesta dikembangkan dengan faktor juta trilyun trilyun dalam pecahan sangat kecil dari sedetik. Tidak seperti inflasi harga-harga, inflasi dalam alam semesta awal adalah hal yang sangat baik. Inflasi itu memproduksi sebuah alam semesta besar dan seragam, persis seperti yang kita amati. Namun, tidak akan sepenuhnya seragam. Dalam jumlah keseluruhan sejarah-sejarah, sejarah-sejarah yang ketidakteraturannya sangat tipis, akan mempunyai kemungkinan-kemungkinan yang hampir setinggi yang dimiliki sejarah yang tepat seragam dan teratur.. Teori tersebut karenanya memprediksi bahwa alam semesta awal cenderung menjadi sedikit tidak seragam. Ketidakteraturan ini akan memproduksi variasi-variasi kecil dalam intensitas latar belakang gelombang mikro dari arah-arah yang berbeda. Latar belakang gelombang mikro telah diamati oleh satelit Peta, dan ditemukan mempunyai jenis variasi-variasi tepat seperti yang diprediksi. Jadi kita tahu kita telah berada pada jalan yang benar. (Gambar latar belakang gelombang mikro muncul di layar.)

Ketidakteraturan-ketidakteraturan dalam alam semesta awal, akan berarti bahwa beberapa wilayah-wilayah akan mempunyai kepadatan yang lebih tinggi daripada yang lain. Tarikan gravitasi dari kepadatan ekstra, akan memperlambat pengembangan dari wilayah ini, dan pada akhirnya dapat menyebabkan wilayah runtuh membentuk galaxi-galaxi dan bintang-bintang. Jadi lihatlah dengan baik pada peta langit gelombang mikro. Itu adalah cetak biru dari semua struktur dalam alam semesta. Kita adalah produk dari fluktuasi-fluktuasi dalam alam semesta yang sangat awal. Tuhan benar-benar memang bermain dadu. (Gambar 2 dadu muncul di layar.)

Kita telah membuat kemajuan luar biasa dalam kosmologi dalam ratusan tahun terakhir. Teori Umum Relativitas, dan penemuan dari pengembangan alam semesta, memusnahkan gambaran usang dari sebuah alam semesta yang selamanya ada, dan selamanya berlangsung. Sebagai gantinya, relativitas umum memprediksi bahwa alam semesta, dan waktu sendiri, akan bermula dalam dentuman besar. Relativitas umum juga memprediksi bahwa waktu akan berakhir dalam lubang-lubang hitam. Penemuan dari latar belakang gelombang mikro kosmis, dan pengamatan-pengamatan lubang-lubang hitam, mendukung kesimpulan-kesimpulan ini. Ini adalah perubahan mendalam dalam gambar kita tentang alam semesta, dan tentang realitas itu sendiri.
(Permulaan Waktu: Teori Umum Relativitas milik Einstein memprediksi bahwa waktu memiliki sebuah permulaan dalam Dentuman Besar dan memiliki sebuah akhir dalam lubang-lubang hitam. Bukti-bukti observasi:
• Pengembangan alam semesta
• Latar belakang gelombang mikro
• Observasi lubang-lubang hitam)
(Asal Usul Struktur: Relativitas Umum sendiri tidak bisa memprediksi bagaimana alam semesta akan bermula. Relativitas Umum mampu jika digabungkan dengan Teori Kuantum. Perkawinan dua teori tersebut memprediksi bahwa fluktuasi-fluktuasi kecil akan berkembang dan menuju pada pembentukan galaxi-galaxi, bintang-bintang, dan semua struktur-struktur lain dalam alam semesta. Bukti observasi: Ketidakseragaman kecil dalam latar belakang gelombang mikro kosmis.)

Teori Umum Relativitas, walaupun memprediksi bahwa alam semesta musti telah datang dari sebuah masa lalu yang sangat melengkung, tidak memprediksi bagaimana alam semesta menyembul dari dentuman besar. Dengan demikian relativitas umum sendiri, tidak dapat menjawab pertanyaan sentral dalam kosmologi, Mengapa alam semesta, seperti sekarang? Bagaimanapun, jika relativitas umum dikombinasikan dengan teori kuantum, adalah mungkin untuk memprediksikan bagaimana alam semesta bermula. Pada mulanya alam semesta akan mengembang pada kecepatan yang makin meningkat. Selama yang disebut periode inflasi, pernikahan antar dua teori memprediksi bahwa fluktuasi-fluktuasi akan berkembang, dan menuju pada pembentukan galaxi-galaxi, bintang-bintang, dan semua struktur lain dalam alam semesta. Ini ditegaskan oleh pengamatan-pengamatan dari ketidakseragaman kecil dalam latar belakang gelombang mikro kosmis, yang dengan tepat memprediksi sifat-sifat. Jadi kelihatannya kita sedang dalam perjalanan untuk memahami asal usul alam semesta, walaupun lebih banyak kerja akan dibutuhkan. (bersambung ke bagian 5/5)

Origin of the Universe – Stephen Hawking (5 of 5)

(sambungan dari bagian 4/5) Sebuah jendela baru pada alam semesta sangat awal, akan terbuka ketika kita dapat mendeteksi gelombang-gelombang gravitasi dengan secara akurat mengukur jarak-jarak antara pesawat ruang angkasa. Gelombang gravitasi menyebar dengan bebas menuju kita dari masa-masa paling awal, tak terhalang oleh material apapun yang berselang. Sebaliknya, cahaya disebarkan beberapa kali oleh elektron-elektron bebas. Penyebaran berlangsung sampai elektron-elektron mendingin, setelah 300.000 tahun.

Meski telah memiliki beberapa keberhasilan sangat besar, tidak semuanya terpecahkan. Kita belum mempunyai sebuah pemahaman teoritis, dari pengamatan-pengamatan bahwa pengembangan alam semesta sedang mengalami percepatan lagi, setelah periode lama perlambatan. Akankah terus berkembang selamanya? Apakah inflasi hukum alam? Atau akankah alam semesta pada akhirnya runtuh lagi? Hasil-hasil pengamatan baru, dan kemajuan-kemajuan teoritis, datang dengan cepat. Kosmologi adalah subjek yang sangat menyenangkan dan aktif. Kita semakin dekat pada jawaban dari pertanyaan setua abad. Mengapa kita di sini? Dari mana kita berasal?

Terima kasih telah mendengarkan saya.

(Penonton bertepuk tangan meriah.)

(“Profesor Hawking telah setuju untuk menjawab beberapa pertanyaan. Jadi, kita mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan paling populer menjadi lima pertanyaan. Tugas saya adalah membacakan 5 pertanyaan tersebut dan tugasnya adalah menjawabnya dalam satu jawaban panjang.”)
(“Pertanyaan 1: Apakah kita tahu dengan pasti bahwa alam semesta bermula?”)
(“Pertanyaan 2: Jika Dentuman Besar benar terjadi, apa yang terjadi sebelum Dentuman Besar?”)
(“Pertanyaan 3: Bagaimana & kapan alam semesta berakhir?”)
(“Pertanyaan 4: Mengapa alam semesta ada? Dapatkah sains menjawabnya?”)
(“Pertanyaan 5: Apa pertanyaan-pertanyaan besar sulit yang tertinggal?”)
(“Silahkan, Profesor Hawking.”)

(“Kita cukup yakin alam semesta bermula dengan periode expansi yang mengalami percepatan. Ini disebut inflasi karena ukuran alam semesta bertumbuh seperti halnya harga-harga naik di beberapa negara. Inflasi di alam semesta awal jauh lebih cepat daripada inflasi finansial, alam semesta berkembang dalam faktor sejuta triliun triliun dalam periode seperdetik yang sangat kecil. Inflasi ukuran alam semesta adalah hal yang baik, tidak seperti inflasi harga. Ia akan memproduksi alam semesta yang sangat besar dan sangat mulus dengan ketidakteraturan dalam jumlah yang pas untuk menjelaskan pembentukan galaxi-galaxi, bintang-bintang, dan akhirnya, umat manusia.”)

(“Bagaimana inflasi ini bermula? Bagaimana orang dapat menggambarkan alam semesta di awal waktu? Saya sekarang berpikir saya dapat meperlihatkan bahwa alam semesta diciptakan secara spontan dari ketiadaan, menurut hukum-hukum sains. Alam semesta ada karena teori relativitas umum dan teori kuantum mengizinkannya untuk ada. Jika saya benar, alam semesta terkandung dirinya sendiri (self-contained) dan diatur oleh sains saja. Pada waktunya, kita dapat berharap memahaminya secara penuh.”)

(“Kita telah cukup panjang, karena alam semesta harus berlangsung selamanya. Keabadian adalah waktu yang sangat panjang, terutama menuju akhir, seperti kata Woody Allen.”)
(Penonton tertawa.)

(“Terima kasih.”)
(Penonton bertepuk tangan meriah.)

TAMAT

Ditulis dalam Alam Semesta, Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , | 1 Comment »

Keterbatasan Sains

Posted by wahyuancol pada Mei17, 2008

Tulisan ini menanggapi ceramah tentang Asal Usul Alam Semesta dari Stephen Hawking.

Teks ceramah itu adalah teks dari Kuliah Fisika J. Robert Oppenheimer, dibawakan tanggal 13 Maret 2007 oleh Stephen Hawking, professor Lucasian matematika di Universitas Cambridge. Hawking berbicara di Gedung Zellerbach di kampus Universitas California, Berkeley.

Terjemahan teks kuliah dalam Bahasa Indonesia belum dapat saya tampilkan karena sedang menunggu izin dari penterjemahnya.

Intinya, ceramah itu menegaskan bahwa alam semesta memiliki awal dan kemudian berkembang dan akan mempunyai akhir.

==============

Mengapa kita di sini? Dari mana kita berasal?

Apa yang terjadi sebelum permulaan? Apakah yang Tuhan lakukan sebelum Dia menciptakan dunia?

Apakah membutuhkan sesosok Pencipta untuk menfirmankan bagaimana alam semesta bermula?

Apakah keadaan awal alam semesta, ditentukan oleh sebuah hukum sains?

Di mana alam semesta bermula?

Pertanyaan-pertanyaan di atas adalah pertanyaan-pertanyaan yang muncul berkaitan dengan penciptaan alam semesta atau asal-usul alam semesta yang dicoba berikan jawabannya melalui kuliah tersebut.

——–

Ada satu hal kunci yang tidak disinggung, yaitu bahwa materi dan hukum-hukum yang mengatur karakternya adalah satu kesatuan yang muncul secara bersamaan. Dengan kata lain, hukum-hukum alam atau sains mulai berlaku bersamaan dengan saat munculnya materi. Demikian pulan dengan ruang dan waktu, ruang dan waktu mulai ada bersamaan dengan mulai beradanya materi dan hukum-hukum yang menyertainya. Konsekuansi dari hal tersebut dalah bahwa materi, sains, ruang dan waktu seperti yang kita alami sekarang hanya berlaku pada kondisi kesatuan mereka itu. Bila kita dapat menerima hal ini, maka adalah tidak relevan bila kita mempertanyakan: Apa yang ada sebelum alam semesta ini ada? Tidak relevan juga mempertanyakan di mana alam semesta ini diciptakan? Tidak relevan pula mempertanyakan adakah waktu sebelum alam semesta ini diciptakan? Demikian pula tidak relevan mempertanyakan bagaimana sains sebelum alam semesta ini ada?.

Pemikiran di atas bukan lah pemikiran sederhana yang dapat dengan mudah diterima oleh semua orang. Dengan menerima konsep di atas maka kita harus menerim adanya Tuhan yang Maha Menciptakan. Sebagaimana kita ketahui, tidak semua orang mau menerima adanya Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta isinya ini.

Manusia tidak terlibat dalam proses penciptaan alam semesta. Manusia adalah bagian dari alam semesta itu sendiri. Oleh karena itu, adalah mustahil manusia menjawab hal-hal di luar lam semesta seperti: Mengapa alam semesta ini diciptakan? Mengapa alam semesta berkembang seperti sekarang? Kemana arah perkembangan alam semeta?

Contoh yang paling sederhana adalah seperti pada diri manusia itu sendiri. Manusia mulai menyedari eksistensinya ketika manusia mulai dapat mengingat dan berpikir. Sebelum dapat mengingat dan berpikir, manusia belum menyadari dirinya ada. Kita lihat perkembangan manusia. Kita tidak mengetahui dari mana asal kita dan mengapa kita ada dan nantipun kita tidak akan tahu kemana kita akan pergi bila kita hanya mengandalkan kemampuan mengingat dan berpikir kita sendiri. Mari kita coba kembali ke memori masal lalu kita. Kapan kita mulai menyadari diri kita ada? Mungkin kita hanya dapat mengingat ketika kita mulai bersekolah di SD kelas satu, atau TK? Bila hanya mengandalkan pikiran kita pribadi, kita tidak akan tahu dimana kita lahir dan dari mana kita lahir serta mengapa kita lahir. Kemudian, ketika kita menjadi tua nanti, sebelum mati kita mungkin mengalami masa tidak-sadarkan diri atau pikun. Ketika itu kita tidak akan tahu lagi kemana kita akan pergi. Pengetahuan kia tentang dimana kita lahir, kapan kita lahir, dan mengapa kita lahir hanya dapat kita ketahui melalui catatan-catatan atau pemberitahuan dari orang tua kita atu orang-orang disekeliling kita. Intinya, segala informasi tentang diri kita sebelum kesadaran kita muncul hanya dapat kita ketahui dari sumber-sumber informasi di luar diri atau pikiran kita. Saya kira, demikian pula dengan alam semesta yang di dalamnya mencakup materi, sains, waktu dan ruang.

Dengan pimikiran di atas, kita dapat mengatakan bahwa sains tidak akan mampu memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan: Mengapa alam semesta lahir?, Di mana alam semesta lahir? dan Kapan alam semesta lahir? dan Kapan pula alam semesta akan berakhir?. Kita hanya bisa tahu bahwa segala sesuatu pasti ada awalnya dan ada pula akhirnya. Sains hanya dapat menjelaskan proses-proses yang berlangsung di alam semesta ini.

Ditulis dalam Cara Bumi di Hidupkan | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.