Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Archive for the ‘Sejarah’ Category

Junghuhn: Kecintaan dan Antusiasme

Posted by wahyuancol pada Januari10, 2012

APA YANG TERJADI BILA KECINTAAN DAN ANTUSIASME BERGABUNG MENJADI SATU?

Mari kita simak cerita dari seorang rekan berikut ini.

=====================

Sabtu 7 Januari 2012 kemarin, bersama sekitar 80 orang dari suatu komunitas yang senang jalan-jalan sambil belajar di lapangan, saya mengunjungi makam Junghuhn di Jayagiri Lembang.

Di depan nisannya yang ditinggikan seperti obelisk, saya membentang poster berisi foto diri Junghuhn, biografi singkat, miniatur peta Jawanya yang monumental, lukisan-lukisan beberapa gunung yang didakinya, dan tentu saja ilmu yang “dimuliakannya”: botani, termasuk dua spesies kina dan geografi/ekologi tumbuhan.

Para peserta yang sangat beragam latar belakang profesi dan pekerjaannya dan umurnya, dari bayi yang masih digendong ibunya sampai seorang kakek berusia 78 tahun menyimak dengan khidmat diselingi decak kagum atas karya2 Junghuhn, duduk di pelataran makam Junghuhn atau berdiri mendekati poster dan nisan.

Mengapa memilih Junghuhn, sebab ia bukan hanya perintis budidaya kina di Indonesia, tetapi jauh dari itu, ia adalah perintis penelitian geologi, kartografi/geodesi, geografi, botani, bahkan antropologi di Jawa. Dan, hal ini tak banyak diketahui masyarakat umum. Umumnya, mereka tahu Junghuhn dengan kata kunci kina, padahal bukan hanya kina.

Saya pernah menulis beberapa kali tentang Junghuhn buat milis2, saya tak akan mengulangi menjelaskan kiprahnya sebab itu pernah saya tulis, juga pernah ditulis di beberapa majalah. Tetapi ada beberapa hal yang belum diketahui selama ini, yaitu tentang kepribadian dan kutipan2 pernyataan Junghuhn yang berguna buat kita, itulah yang saya bagikan Sabtu kemarin itu.

Saya menggali lebih jauh kepribadian Junghuhn dari buku tulisan Rudiger Siebert (2002), “Deutsche Spuren in Indonesien” (Horleman Verlag, Bad Honnef). Dalam buku berbahasa Jerman ini, Siebert mengulas biografi 10 tokoh Jerman yang berkarya di Indonesia, antara lain Junghuhn.

Saya cantumkan kata-kata Junghuhn yang penting di poster, dan membacakannya untuk semua yang mendengar:

“Di sana aku menghargai dan memelihara ilmuku bagaikan benda keramat, selama 12 tahun aku menjelajahi gunung-gunung dan hutan-hutan Kepulauan Sunda yang mempesonakan itu. Dengan sengaja aku mengikuti jalan setapak yang sepi, dan tidak ada petunjuk jalan lain yang menemaniku kecuali KECINTAAN pada pekerjaan itu dan ANTUSIASME.” (dikutip dan diterjemahkan dari kata pengantar buku magnum opusnya, “Java, seine Gestalt, Pflanzendecke und innere Bauart”, 1854) (Jawa: Bentuknya, Flora dan Struktur-Dalamnya).

Junghuhn melalukan semua yang dilakukannya terhadap Jawa tanpa berbekal pendidikan formal. Pendidikan formalnya adalah dokter medis dan ia menjalani profesi sebagai dokter militer di Indonesia selama 3 tahun 7 bulan, sementara ia memetakan Jawa, mendaki semua gunungnya, meneliti geologi dan tumbuhan-tumbuhannya termasuk pembudidayaan kina selama sekitar 21 tahun, dengan diselingi 2 tahun bekerja memetakan sebagian Sumatra Utara. Lalu saat cuti sakit di Belanda, ia mengerjakan semua datanya menjadi buku-bukunya yang terkenal, magnum opusnya, dan peta Jawanya yang luar biasa, selama 7 tahun. Maka total hampir 30 tahun hidupnya, dari 54 tahun umurnya, didayagunakan untuk Jawa sampai akhir hayatnya. Semuanya bermodalkan dua hal ini: KECINTAAN dan ANTUSIASME, bukan latar belakang akademik.

Junghuhn tergila-gila oleh keinginannya melakukan riset. Ia laki-laki penuh energi, berwajah serius, dengan pandangan mata yang skeptis. Walaupun Junghuhn mengagumi alam, bahkan seperti orang yang menjadikan alam sebagai agamanya, ia bukanlah penghayal. ia ingin mencari fakta mengenai sifat-sifat alam, dan ia mengharapkan agar data dan catatannya akan disimpan untuk penggunaan generasi selanjutnya, maka ia sangat mementingkan publikasi dan ia marah besar ketika intrik politik dan iri hati dari kalangan ilmuwan dan akademikus hampir membuat magnum opus Junghuhn tentang Jawa tidak dipublikasikan.

Pulau Jawa menantang segala kekuatan dan kreativitas Junghuhn, menguras energinya. Pulau Jawa juga yang melemahkan tubuhnya sehingga berkali-kali membuatnya mesti mengambil cuti sakit yang lama. Ia menjadi orang pertama yang menjelajahi pulau ini secara sistematis. Alam Jawa ditelitinya dalam keadaan serba sulit dan penuh pengorbanan. Ia menyusahkan dirinya sendiri, tetapi juga menyusahkan orang-orang lain, yaitu para pembantunya di lapangan, orang-orang Jawa. Orang2 Jawa tak mengerti kemauan Junghuhn yang dianggapnya gila, mendaki semua puncak gunung yang kala itu diyakini orang2 Jawa sebagai tempat yang berbahaya, tempat jin, dedemit, dan sebangsanya. Tetapi Junghuhn adalah orang dengan disiplin diri yang luar biasa.

Junghuhn tidak pernah mengambil jalan yang paling gampang. Ia menyusahkan dirinya sendiri dan para pembantunya. pasti Junghuhn telah dengan keras bertindak kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain. Tetapi kekerasannya menghasilkan semua magnum opusnya tentang Jawa. Kita menyaksikan seorang ilmuwan otodidak yang berpikir lugas dan yang mengumpulkan fakta dalam jumlah yang sangat besar. Dan Junghuhn melakukan semua yang dihasilkannya sendirian, tanpa teman ilmuwan lain, tanpa dibantu organisasi apa pun. Pekerjaan yang telah dilakukan Junghuhn selama 30 tahun untuk Jawa benar2 pekerjaan raksasa yang dilakukannya sendiri, hanya dengan teman2 orang Jawa para pembantunya yang suka dipaksanya untuk tidak takut mendaki puncak2 gunung.

Sebenarnya yang dikerjakan Junghuhn di lapangan melebihi Charles Darwin, pengembang teori evolusi. Tetapi mengapa Junghuhn tak dikenal dunia internasional seluas Darwin? Sebab Darwin mengeluarkan suatu teori alam yang menghebohkan pada zamannya, sementara Junghuhn menampilkan lukisan alam yang ada, sekalipun sangat detail. Tiga volume buku Junghuhn tentang Jawa, lebih tebal 3x dari semua karya Charles Darwin yang termuat di compendiumnya.

————–

Begitulah, siang itu di makam Junghuhn yang pada tahun 1919 kemudian dijadikan cagar alam dan area plasma nutfah kina, saya berusaha memberitahukan sumbangsih apa yang sebenarnya diberikan Junghuhn untuk Indonesia, untuk pengetahuan Jawa, agar kita mengenalnya dengan lebih baik. Karya para spesialis selanjutnya berdiri di atas karya raksasa yang diletakkan junghuhn. Di makamnya, di suatu pojok tumbuh pohon-pohon kina yang budidayanya pernah dirintis Junghuhn. Pohon-pohon itu adalah kenangan hidup seorang lelaki yang luar biasa, tipe peneliti tunggal yang sudah hilang dari dunia kita ini, yang kini dipenuhi para spesialis…

Nisannya dan obelisknya kini dijadikan sasaran vandalists yang meninggalkan corat-coretnya. Mereka tak menghargai orang luar biasa yang kini terbaring sisa debu tanah dan serpihan tulang di bawahnya: Junghuhn, tetapi karyanya tetap abadi dan bersejarah.

Ke arah belakang dari makam Junghuhn, ada makam lain yang tak bernama, yang rusak berat, tanpa nisan, dan penuh coretan, kotor tak terurus, padahal itu adalah makam Johann de Vrij, pada masanya ahli kimia paling unggul di Hindia Belanda, yang ditugaskan Pemerintah Belanda membantu junghuhn membudidayakan kina. Tanpa Johann de Vrij, Indonesia tak akan pernah mencapai predikat penghasil kina no 1 di dunia sebelum Perang Dunia ke-2. Tokh kini, ia seolah tidak dihargai, bahkan jarang orang mengenal itu makam siapa, selain dipakai duduk-duduk pasangan muda-mudi…

Harus dikagumi apa yang dapat dicapai oleh seseorang dalam keadaan historis tertentu – apabila orang itu adalah tokoh yang luar biasa seperti Junghuhn !

Semoga penjelasan saya siang itu di makam Junghuhn dipahami dan menginsipirasi sekitar 80 orang anggota komunitas, dan semoga tulisan ini juga menginspirasi kita semua.

Tak ada karya besar dihasilkan tanpa KECINTAAN dan ANTUSIASME.

salam,
Awang

===================

Demikian kisah yang saya kutip dari seorang teman, mendahului izinnya.

Terima kasih Pak Awang.

Salam,

Wahyu

Posted in PARA PERINTIS, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , | Leave a Comment »

KEPUNAHAN MASSAL DALAM SEJARAH BUMI (belajar dari Sejarah Bumi)

Posted by wahyuancol pada Maret25, 2009

Deep Impact kita tahu adalah judul sebuah film terkenal yang menceritakan bagaimana sebuah komet/asteroid bisa memunahkan kehidupan di Bumi. Tetapi, Impact from the Deep adalah judul sebuah teori baru yang pada intinya menyatakan bahwa kepunahan masal justru datang dari Bumi sendiri.

 

Deep Impact (Benturan Komet)

 

Pada tahun 1980, Walter dan Luis Alvarez, pasangan anak-bapak (anaknya ahli geologi, bapaknya ahli fisika) mengemukakan teori bahwa dinosaurus punah pada Kapur Akhir 65 Ma (million years ago) akibat Bumi dihantam sebuah komet (deep impact). Teori ini kemudian terbukti benar karena banyak bukti fisik di lapangan ditemukan akibat benturan itu : a.l. (1) lapisan iridium ditemukan di mana-mana di seluruh dunia pada lapisan berumur 65 Ma (di Indonesia belum ada yang menelitinya), (2) impact debris, termasuk semua batuan dengan ciri petrografi pressure-shocked tersebar di seputar globe (3) kawah benturan (impact crater) berumur 65 Ma ditemukan terkubur di Semenanjung Yucatan Mexico yang disebut Kawah Chicxulub. Unsur Iridium langka ditemukan di Bumi, tetapi berlimpah di extra-terrestrial bodies seperti meteor, komet, dan asteroid. Berdasarkan lebar kawah Chicxulub, ditaksir komet/asteroid pemusnah kaum dinosaurus itu berdiameter 10 km.

 

Karena kepunahan di K-T (Kapur-Tersier) boundary itu terbukti benar oleh extra-terrestrial impact, maka setiap periode kepunahan di Bumi selalu dihubungkan dengan hantaman komet/asteroid. David Raup, paleontologist penulis buku Extinctions: Bad Genes or Bad Luck ? (terbit awal 1990an) menyatakan begitu, memang impacts selalu disalahkan sebagai penyebab major extinctions, penyebab lain mungkin ada, tetapi tak dominan. Apakah benar begitu ?

 

Kepunahan Massal di Bumi

 

Paling tidak, di dalam 500 juta tahun terakhir ini kita bisa catat telah terjadi lima kali kepunahan massal yang besar: (1) pada 443 Ma (ujung Ordovisium), (2) pada 374 Ma (ujung Devon), (3) pada 251 Ma (ujung Perem), (4) pada 201 Ma (ujung Trias),dan (5) pada 65 Ma (ujung Kapur).

 

Kepunahan pada 251 Ma (ujung Perem atau ujung Paleozoikum) adalah kepunahan terbesar menghapus 90 % penghuni lautan dan 70 % penghuni daratan bahkan sampai serangga pun. Kepunahan ujung Perem adalah great dying atau the mother of mass extinctions tulis Douglas Erwin di majalah Scientific American edisi Juli 1996. Apakah kepunahan Permian ini juga akibat asteroid impact ? Peter Ward, profesor biology-earth and space sciences dari University of Washington melaporkan penemuan baru tentang kepunahan masal terbesar di ujung Permian ini (Scientific American, Oktober 2006, p. 42-49).

 

Impact from the Deep (Semburan H2S)

 

Lima tahun lalu (tulisan ini ditulis oleh Awang Harun Satyana pada tahun 2007 – red), sekelompok ahli geologi dan ahli kimia organik mulai mempelajari kondisi-kondisi lingkungan pada masa-masa kritis dalam sejarah Bumi. Pekerjaan mereka meliputi mengekstraksi residu zat kimia dari lapisan-lapisan berumur tertentu berusaha mencari fosil molekuler kimiawi yang dikenal sebagai biomarker yang ditinggalkan organisme yang telah punah. Karena kuatnya, biomarker ini masih terawetkan di sedimen-sedimen meskipun jazad organismenya telah lenyap meluruh. Biomarker ini merupakan kunci ke pengetahuan kondisi seperti apa yang terjadi di Bumi pada saat kehidupan organisme itu berlangsung. Sampling dan penelitian telah dilakukan pada periode-periode kepunahan massal. Dan para ilmuwan tersebut mendapatkan kejutan bahwa data dari periode-periode mass extinction selain pada periode K-T boundary, selalu menunjukkan kondisi lingkungan bahwa lautan-lautan purba telah beberapa kali berada pada kondisi kandungan oksigen yang sangat rendah (anoxia). Bersamaan dengan kondisi ini ditemukan biomarker dalam jumlah besar berupa green sulfur bacteria yang bisa melakukan fotosintesis. Pada zaman sekarang, bakteri sejenis ditemukan berupa green-purple sulfur bacteria di tempat-tempat dalam laut stagnant seperti Laut Hitam yang mengoksidasi H2S sebagai sumber energinya dan mengubahnya menjadi belerang. Gas H2S adalah gas beracun bagi banyak makhluk hidup. Kelimpahan bakteri ini pada periode-periode kepunahan massal yang seperiode dengan turunnya kandungan oksigen secara ekstrim telah membuka wawasan baru tentang penyebab kepunahan massal.

 

Para ilmuwan telah tahu bahwa pada setiap periode kepunahan massal level oksigen selalu lebih rendah daripada biasanya. Juga, mereka tahu bahwa banyak volkanisme terjadi pada setiap periode kepunahan massal. Volkanisme adalah teori tandingan asteroid impact bagi kepunahan massal. Volkanisme bisa meningkatkan CO2 di atmosfer, mengurangi kadar oksigen, dan menyebabkan global warming. Tetapi, volkanisme dan berlimpahnya CO2 di atmosfer tak langsung menjelaskan punahnya banyak hewan laut pada ujung Permian juga punahnya tanaman darat, justru tanaman darat akan berlimpah dengan banyaknya CO2. Lalu, apa hubungan antara kelimpahan sulfur bacteria, depleted oxygen, volkanisme yang meningkat, global warming dan kepunahan massal? Adakah kaitan satu dengan yang lainnya, bagaimana?

 

Kuncinya ternyata ada di biomarker. Biomarker dari oceanic sediments berumur ujung Permian dan juga dari batuan Trias akhir menghasilkan bukti kimia tentang adanya suatu kelimpahan yang luar biasa bakteri pengkonsumsi H2S di lautan-lautan Permian dan ujung Trias. Karena mikroba ini hanya dapat hidup di lingkungan yang bebas oksigen (an-aerob) tetapi tetap membutuhkan cahaya Matahari untuk melakukan fotosintesis, keberadaan bakteri ini di suatu lapisan batuan Permian mengindikasikan bahwa lingkungan laut pada saat itu adalah juga suatu marker yang menunjukkan laut tanpa oksigen tetapi kaya H2S.

 

Di lautan-lautan sekarang, keterdapatan oksigen dan H2S terjadi dalam keadaan setimbang. H2S terdapat di tempat2 dalam di wilayah yang stagnan. Di kawasan H2S yang beracun ini hidup organisme pencinta H2S tetapi pembenci oksigen. Hal yang unik, karena sirkulasi air, oksigen berdifusi ke bawah, sedangkan H2S berdifusi ke atas, akhirnya lapisan oksigen dan lapisan H2S bertemu di tengah di suatu level yang disebut chemocline yang bisa setimbang, tetapi bisa juga terganggu.Gangguan atas batas chemocline ini bisa berakibat dahsyat dan inilah yang terjadi di ujung Permian yang menyebabkan kepunahan masal yang paling besar dalam episode sejarah Bumi.

 

Perhitungan oleh dua ahli geologi dari Pennsylvania State University, Lee Kump dan Mike Arthur menunjukkan apabila level oksigen drop di lautan, kondisinya akan sangat menguntungkan bakteri an-aerob dari tempat dalam, yang akan menghasilkan sejumlah besar gas H2S. Dalam perhitungannya, bila konsentrasi H2S laut dalam ini melampaui batas kritis selama periode oceanic anoxia (laut miskin oksigen), maka lapisan chemocline akan mengerucut ke atas (seperti gejala water coning) dan akhirnya semburan gas H2S beracun dari tempat dalam akan masuk ke atmosfer.

 

Studi Kump dan Arthur menujukkan bahwa pada penghujung Permian telah terjadi toxic H2S gas upwelling yang telah menyebabkan kepunahan di daratan dan lautan. Kemudian, model yang dibangun oleh Pavlov dari University of Arizona menunjukkan bahwa semburan H2S Permian ini telah merobek lapisan ozon Bumi pada Permian sehingga radiasi ultraviolet (UV) yang mematikan menerobos masuk membunuh setiap makhluk hidup di daratan dan lautan. Bukti terhadap model ini datang dari fosil spora berumur ujung Permian di Greenland, yang menunjukkan deformitas (perubahan bentuk) akibat exposure terhadap high level of UV.

 

Model Kepunahan Massal dari Kump dan Arthur

 

Kump dan Arthur menghitung bahwa jumlah gas H2S yang memasuki atmosfer di ujung Permian itu 2000 kali lebih banyak daripada yang dierupsikan oleh semua gunungapi2 sekarang. Efek mematikan H2S meningkat seiring naiknya temperatur, bila pada saat yang sama terjadi greenhouse effect dan global warming, maka permusnahan akan semakin efektif.

 

Urutan model pemusnahan dengan cara ini adalah sebagai berikut: (1) kegiatan volkanik yang meningkat melepaskan CO2 dan metan ke atmosfer, (2) rapid global warming, (3) laut yang menghangat akan mengurangi daya serap oksigen dari atmosfer ke laut, (4) terjadi kekurangan oksigen anoxia di lautan, (5) keadaan anoxia akan mengganggu kesetimbangan chemocline. Chemocline yang semula datar menjadi mengerucut dengan kolom dissolved oxygen berkurang sedangkan dissolved H2S meningkat, terjadi H2S upwellling, (6) green & purple sulfur bacteria berlimpah sementara mahkluk lautan yang bernafas dengan oksigen musnah akibat hilangnya oksigen dan naiknya gas H2S yang beracun, (7) gas H2S yang menyembur membunuh makhluk daratan, (8) gas H2S naik terus ke atmosfer dan akhirnya merobek perisai ozon, (9) radiasi UV menerobos via celah di perisai ozon membunuh kehidupan di Bumi yang masih tersisa, (10) kepunahan masal.

 

Bagaimana kita sekarang?

 

Mekanisme pemusnahan kehidupan seperti di Permian dan Triassic telah terjadi, apakah kelak bisa terjadi lagi ? Kepunahan hebat pada ujung Permian terjadi pada saat kadar CO2 di atmosfer telah mencapai sekitar 3000 ppm, kadar CO2 di atmosfer kita sekarang berada pada 385 ppm. Apakah kita tidak perlu takut ? Tunggu dulu, kepunahan pada ujung Triassic terjadi pada saat CO2 di level 1000 ppm, dan CO2 kita sekarang meningkat 2-3 ppm setiap tahun. Bila dihitung secara linier peningkatan itu akan kita temukan bahwa pada tahun 2200 nanti kadar CO2 di atmosfer kita bisa mendekati 900 ppm suatu kondisi yang sangat bisa mendorong keadaan stress anoxia di lautan dan rentetan efek2 mematikan berikutnya seperti ditulis di atas.

 

Catatan:

Sampai di sini tulisan dari Awang Harun Satyana. Terima kasih kepada Awang Harun Satyana atas izinnya kepada Penulis untuk me-republikasi tulisan ini. Tulisan direpublikasi dengan modifikasi terutama dalam bentuk pemberian judul-judul bab, dan sedikit perbaikan tata tulis.

 

Bunuh Diri Massal

 

Kenaikan kandungan gas CO2 di atmosfer Bumi sekarang ini terutama terjadi karena aktifitas manusia. Aktifitas industri yang membakar bahan bakar fosil (minyak bumi, hidrokarbon) serta berbagai aktifitas lainnya dipercaya telah menyebabkan meningkatnya kandungan gas CO2 di atmosfer. Oleh karena itu, upaya-upaya untuk mengurangi laju pertambahan gas CO2 perlu dilakukan secara signifikan.

 

Protokol Kyoto merupakan salah satu kesepakatan internasional untuk mengurangi emisi atau pengeluaran gas CO2 dan lima gas rumah kaca lainnya.

Menurut rilis pers dari Program Lingkungan PBB:

Protokol Kyoto adalah sebuah persetujuan sah di mana negara-negara perindustrian akan mengurangi emisi gas rumah kaca mereka secara kolektif sebesar 5,2% dibandingkan dengan tahun 1990 (namun yang perlu diperhatikan adalah, jika dibandingkan dengan perkiraan jumlah emisi pada tahun 2010 tanpa Protokol, target ini berarti pengurangan sebesar 29%). Tujuannya adalah untuk mengurangi rata-rata emisi dari enam gas rumah kaca – karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC – yang dihitung sebagai rata-rata selama masa lima tahun antara 2008-12. Target nasional berkisar dari pengurangan 8% untuk Uni Eropa, 7% untuk AS, 6% untuk Jepang, 0% untuk Rusia, dan penambahan yang diizinkan sebesar 8% untuk Australia dan 10% untuk Islandia.

 

Sementara itu, untuk melindungi lapisan ozon telah ada Protokol Montreal.

 

Harapan kita adalah semua kesepakatan itu berhasil. Terutama berhasil mengurangi emisi gas CO2 dan melindungi ozon. Karena, peningkatan gas CO2 dan rusaknya ozon dapat berarti bunuh diri massal.

 

Semoga bermanfaat.

Salam dario Ancol

Wahyu

 

Posted in Alam Semesta, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 3 Comments »

Bapak Metode Ilmiah Moderen

Posted by wahyuancol pada Maret3, 2009

Siapa penemu metode ilmiah moderen?

Seringkali dikatakan bahwa metode ilmiah moderen ditemukan pada awal Abad ke-17 oleh Francis Bacon (1214 – 1294) dan Rene Descartes (1596 – 1650). Namun, sebuah laporan yang dipublikasikan oleh BBCIndonesia.com pada tanggal 17 Januari 2009 menyebutkan bahwa, sesungguhnya metode ilmiah moderen telah muncul jauh lebih awal, yaitu pada Abad ke-10. Laporan yang ditulis oleh Profesor Jim Al-Khalili dari Universitas Surrey menyebutkan bahwa, adalah Ibnu Al-Haitsam yang pertama kali mengemukakan metode ilmiah seperti yang sekarang ini berlaku. Dikatakan bahwa, Ibnu Al-Haitsam adalah yang sering disebut sebagai “ilmuwan sesungguhnya yang pertama di dunia,” karena penekanannya pada data eksperimental dan kemampuan untuk memproduksi kembali hasilnya.

Seperti biasa dijelaskan bahwa pendekatan dalam penyelidikan suatu fenomena alam, untuk memahami ilmu pengetahuan baru, atau untuk memperbaiki dan menggabungkan ilmu lama, adalah berdasarkan pada pengumpulan data melalui pengamatan dan pengukuran yang kemudian diikuti oleh tahap formulasi dan pengujian hipotesis untuk menjelaskan data yang didapat. Demikianlah cara ilmuwan sekarang bekerja. Cara seperti itulh yang telah dilakukan oleh Ibnu Al-Haitsam.

Ibnu Al-Haitsam atau Abu Ali Al-Hasan ibn Al-Hasan ibn Al-Haitsam atau Al-hazen lahir pada tahun 965 Masehi di Basra yang sekarang masuk dalam negara Irak. Hidup sampai tahun 1040. Ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan besar pada Abad Pertengahan. Ia dikenal sebagai ahli fisika, ahli astronomi, dan ahli matematika. Menurut catatan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Dunia Barat, masa Abad Pertengahan adalah Masa Kegelapan bagi Dunia Barat, di Eropa.

Pada masa mudanya, Al-Haitsam sangat bingung dengan konflik klaim kebenaran oleh berbagai sekte keagamaan, Frustasi dengan kegagalannya menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut, dia sampai pada kesimpulan bahwa kebenaran hanya dapat diperoleh semata-mata melalui penyelidikan rasional kedalam pengalaman empiris.

Kitab Al-Manazir (Optica Thesaurus, The View) adalah karyanya yang terbesar. Buku tersebut pada tahun 1572 Masehi diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dengan judul “A Repertoir in Optics”. Dengan buku tersebut Al-Haitsam meletakkan landasan bagi ilmu optik moderen.

Ketika buku tersebut ditulis, terdapat dua aliran pemikiran tentang bagaimana kontak antara mata dengan objek yang dilihat terjadi, yaitu:

  1. Teori Intromission, yang berpendapat bahwa objek memancarkan selaput tipis dan selaput itu sampai ke mata.
  2. Teori Extromission, yang berpendapat bahwa mata memancarkan api yang tak terlihat yang menyentuh objek penglihatan untuk mengungkapkan warna dan bentuk objek itu.

Al-Haitsam menjalaskan bahwa kita bisa melihat karena cahaya yang masuk ke mata kita. Pendapat ini terus dipercaya sampai sekarang.

Penyelidikan teoritis dan eksperimen yang dilakukan oleh Al-Haitsam dalam bidang optik lebih baik daripada yang telah ada sebelumnya pada saat itu. Ketika menyusun teori barunya yang radikal tentang cahaya dan penglihatan, ia mengemukakan suat metodologi ilmiah yang komprehensif tentang hubungan logika antara observasi, hipotesis dan verifikasi. Suatu gambaran khusus dari metodologi ini adalah penerimaannya terhadap eksperimen melalui manipulasi alat-alat buatan yang diciptakan.

Akhirnya, berbagai hal yang patut dicatat tentang Al-Haitsam antara lain adalah:

  1. Ia ilmuwan pertama yang mempergunakan matematika untuk menggambarkan dan membuktikan proses melihat.
  2. Ia dapat dipandang sebagai penemu Hukum Refraksi melalui temuannya berupa kamera lubang jarum yang dioperasikan tanpa lensa.
  3. Ia orang pertama yang melakukan percobaan tentang pembagian cahaya menjadi beberapa warna dan meneliti bayangan, pelangi dan gerhana.
  4. Dalam bidang matematika terkenal dengan analisis geometri dari cermin, terkenal dengan “the alhazen problem.”
  5. Dalam bidang astronomi ia menjelaskan tentang orbit planet yang kemudian mengilhami penelitian astronom Eropa seperti Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton.
  6. Ia mempelajari densitas atmosfer dan mengembangkan hubungan antara densitas atmosfer dengan ketinggian. Hubungan itu memungkinkan ia memperkirakan ketinggian atmosfer. Menurutnya sekitar 100 km.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Referensi:

  • Jim Al-Khalili, Ilmuwan Tulen Pertama. [http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/01/090107_muslimscientists.shtml]
  • Bradley Steffen, Ibn Al-Haytham: first scientis. [http://www.bookrags.com/research/abu-ali-al-hasan-ibn-al-hasan-ibn-a-scit-021234/], [http://www.bookrags.com/biography/abu-ali-al-hasan-ibn-al-haytham/]
  • Eternal Egypt, Ibn Al-Haytham. [http://www.eternalegypt.org/EternalEgyptWebsiteWeb/HomeServlet?ee_website_action_key=action.display.element&story_id=&module_id=&language_id=1&element_id=1721&text=text]

Posted in Cara Bumi di Hidupkan, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , | 2 Comments »

BABO (1935-1942): kota minyak yang hilang di Papua

Posted by wahyuancol pada Februari7, 2009

Ini kisah tentang kemunculan dan kepunahan peradaban minyak di Babo, Papua Barat, antara tahun 1935 sampai 1942.

———————

Pada tahun 1991 ketika rombongan penelitian dari LIPI melakukan penelitian di Teluk Bintuni dan Teluk Berau dengan kapal penelitian Rd. Soerya Atmadja, saya dan rombongan berkesempatan mampir ke Babo. Kami berangkat dari Ambon dan Sorong adalah tempat transit sebelum memasuki Teluk Bintuni. Dari sudut pandang ilmu kelautan, Teluk Bintuni dan Berau terkenal sebagai kawasan mangrove dan daerah penangkapan udang, dan karena alasan itulah kami melakukan penelitian ke sana.

Mendarat di Babo, saya menemukan penduduk yang ramah dan menerima kedatangan kami. Bahkan ketika kami berangkat dari Babo menuju Fak-fak, ada penduduk yang ikut menumpang kapal kami sampai di Fak-fak karena ia ingin mengunjungi saudaranya di sana. Kawasan pemukiman di Babo cukup baik dan teratur meskipun rumah non-permanen, pekarangannya luas. Secara umum lahan pemukiman tampak rata mengesankan adanya campur tangan manusia. Apa yang saya temukan itu jauh sekali berbeda dengan apa yang kami bayangkan ketika akan berangkat dari Ambon.

Ketika mampir ke rumah salah seorang penduduk, saya informasi tentang bekas lapangan terbang. Ketika itu saya berpikir: “Itu peninggalan dari Perang Dunia II.” Ternyata kemudian bahwa apa yang pernah ada di Babo tidak sesederhana pikiran saya itu. Saya mengetahuinya setelah membaca tulisan seorang rekan tentang peradaban perminyakan yang pernah ada di Babo. Atas izinnya, tulisan itu sekarang saya hadirkan di sini.

Selamat menikmati, dan semoga bermanfaat.

Terima kasih untuk Awang Harun Satyana yang telah mengizinkan saya mempublikasikan tulisan ini.

Salam,

Wahyu

————————–

Dua puluh tahun yang lalu, Juni 1988, di tengah saya libur setahun dari kuliah, saya berada di Jajayapura, bekerja selama dua minggu memilih-milih laporan Belanda, memotokopinya, dan menerjemahkannya untuk sebuah perusahaan emas asal Australia. Pada saat itulah saya menemukan buku-buku lapangan asli beberapa geologist Belanda yang pernah bekerja di Papua, yang namanya selama itu hanya saya baca dari buku van Bemmelen (1949), antara lain Molengraaff. Saya pun menemukan beberapa laporan NNGPM tentang awal eksplorasi perminyakan di wilayah Papua.

Jayapura, Juni 1988 adalah sebuah kota yang mahal dan tetap terpencil. Ongkos fotokopi Rp 75 selembar (saat itu di Bandung fotokopi Rp 15-Rp 20). Koran Kompas datang terlambat 3-4 hari. Harian lokal, Cenderawasih, terbit seminggu sekali. Beberapa tabloid yang terbit di Jakarta terlambat satu-dua minggu di sini. Di kota, para pedagang makanan adalah dominan orang2 Bugis : ikan bakar. Satu restoran Padang ada. Sementara itu, penduduk aslinya hanya menggelar tikar 1×1 meter berjualan kapur, sirih, dan buah matoa, itu saja. Malam minggu, hotel tempat saya menginap penuh dengan penduduk asli ini (para pegawai kantor), mereka membelanjakan gajinya untuk minum-minum bir dan membeli porkas (jenis lotere yang populer saat itu). Minggu paginya, saya menemukan mereka bergelimpangan di pinggir jalan – pulas tertidur. Di ujung jalan, saya melihat dua orang dari mereka sedang berkejaran, yang mengejar membawa pecahan botol sambil berteriak “Kubunuh kau…!”. Hm..masih mabuk rupanya. -demikian sepenggal paragraf buku harian saya.

Belum lama ini saya membuka kembali catatan2 saya itu. Sebagian saya ingin menceritakannya di bawah ini. Semoga menjadi variasi bacaan dari tulisan2 saya.

—————

Ini kisah lama, sekitar 75 tahun yang lalu, mungkin masih menarik untuk diketahui lebih luas sebab selama ini hanya tersimpan di buku-buku lama, yang sulit terbuka untuk umum. Ini kisah eksplorasi minyak di Papua, pulau terakhir yang dieksplorasi Belanda di Indonesia.

Tahun 1935, NNGPM (the Nederlandsche Nieuw-Guinee Petroleum Maatschappij) mulai mengeksplorasi bagian barat Papua (Vogel Kop – Bird’s Head, alias Kepala Burung) seluas 10 juta hektar. Pulau besar ini belum pernah dipetakan, peta yang ada hanya peta topografi kasar dalam rangka patroli militer. Maka tim besar di bawah pimpinan Dr A.H. Colijn, manajer eksplorasi dari Tarakan, mulai melakukan perkerjaan raksasa memetakan geologi Papua. Dengan berbagai pertimbangan, NNGPM memilih Babo di Teluk Berau sebagai basecamp. Pekerjaan pemetaan di area yang sangat luas ini dilakukan pertama kali menggunakan pesawat terbang. Pesawat amfibi Sikorski yang bisa mendarat di air ditugaskan untuk pekerjaan ini. Para pilot pesawat ini mesti pandai-pandai membaca cuaca yang sering berkabut dan berubah di atas Papua, mereka pun mesti pandai bermanuver di antara celah-celah tebing batuan gamping di beberapa pegunungan Papua. Dari ketinggian 12.000 kaki, beberapa formasi geologi bisa diketahui. Ini adalah pekerjaan awal –semacam reconnaissance survey.

Pekerjaan selanjutnya, yang jauh lebih menantang adalah ground survey. Torehan banyak sungai di Papua menolong para geologists Belanda memetakan geologi wilayah besar ini. Para kru lapangan semuanya adalah suku2 dari banyak wilayah di Indonesia : Dayak, Manado, Ambon, Jawa, Batak, dan Banda. Suku Papua sendiri kelihatannya tak ada sebab pada zaman itu diceritakan bahwa mereka masih merupakan suku pengayau alias pemenggal kepala yang diceritakan tentara Inggris di perbatasan PNG-Papua sebagai suku pelintas batas yang suka mengejar musuhnya melewati garis batas demarkasi. Para geologists yang memetakan geologi Papua memilih camp-nya di perahu, ini jauh lebih nyaman daripada di dalam hutan yang sangat lebat. Setiap perahu dilengkapi dengan: listrik dari genset, radio, kulkas, lampu2, dan bak mandi untuk berendam dengan cukup nyaman. Mandi harus di atas perahu sebab bila mandi di sungai akan menjadi santapan ramai-ramai para buaya. Detasemen militer tentu selalu berjaga mengawal para geologists dan kru-nya ini, maklum mereka berada di wilayah yang alam dan penduduknya dinilai tidak ramah.

Lama-kelamaan, bumi Papua pun mulai terpetakan dan terbuka. Beberapa wilayah telah dibuka untuk dibangun jalan, dan bahkan beberapa sumur pertama telah dibor: Wasian, Klamono, Jef Lio, Kasim. Pemukiman2 para pendatang mulai meramaikan bagian barat Papua, perahu2 kecil yang pada awalnya kecil telah menjadi kapal-kapal besar bermotor dengan nama : Jan Carstenz, Soedoe, Moeara, Boelian, Minjak Tanah, dan Casuaris. Desa Papua Babo, di sebuah pulau  delta kecil Sianiri Besar, tetap dipilih sebagai base. Ini karena posisinya yang berada di tengah di antara wilayah eksplorasi NNGPM. Sungai di depannya, Sungai Kasira, juga cukup dalam untuk kapal-kapal besar berlabuh. Meskipun deltanya tentu saja berawa-rawa, tetapi Babo base terletak diatas bukit berkerikil setinggi 30 kaki dan masih aman dari pasang naik di sekitarnya. Di bukit ini kantor NNGPM dibangun, juga pemukiman para pekerjanya. Dan di sekitar Babo ada ruang luas yang telah dibuka tempat dibangun aerodrom, hanggar, perbengkelan, rumah
sakit, lapangan golf, dan bioskop (bayangkan di tepi hutan Papua yang terpencil, pada tahun 1930-an telah ada lapangan golf).

Suku2 Papua pun mulai mau bekerja sama dengan para pendatang ini. Sebelumnya, mereka jarang melihat para pendatang berkulit putih, kecuali para pemburu burung cenderawasih atau para pedagang Cina. Orang2 Papua ini diperkerjakan NNGPM untuk membongkar muat barang-barang dari kapal2 yang berlabuh di depan Babo dan menarik batang2 pohon dari sekitar hutan Babo untuk membangun perumahan. Bahkan, mereka juga mau berbulan-bulan meninggalkan kampung2nya membantu NNGPM membuka hutan. Mereka bekerja untuk “Tuan Merah”, begitu mereka memanggil tuan-tuan Belanda ini (mungkin karena muka Belanda ini merah bila kepanasan). Dari suku pemburu menjadi suku pekerja, tentu sebuah perubahan budaya yang besar buat mereka. Diceritakan bahwa suku-suku Papua ahli menggunakan tombak, busur dan anak panah. Keahlian ini telah menjadi rezeki untuk seluruh kru sebab mereka bisa dengan mudah makan daging segar kanguru, babi, dan merpati hutan. Mereka meninggalkan kewajiban mengolah sagu kepada para perempuan di sukunya. Sebelum kedatangan NNGPM, suku2 Papua ini masih menggunakan cangkang kerang sebagai alat pembayaran, kini mereka mempunyai uang Belanda sebagai upah mereka bekerja. Dan saat mereka membawa uang Belanda ke toko-toko yang baru dibuka, mereka begitu takjub bisa mendapatkan barang2 yang semula tak mereka lihat. Dan, standar hidup suku Papua pun meningkat dengan cepat. Mereka mengalami revolusi budaya dalam beberapa tahun saja, jauh lebih cepat daripada lebih dari 1000 tahun sejak nenek moyangnya mulai mendiami wilayah ini.

Para pekerja Eropa NNGPM pun yang semula hanya laki-laki saja mulai membawa kaum perempuannya ke Babo. Maka komunitas seperti di kota besar pun mulai tumbuh, laki-laki perempuan bercampur baur. Bila ada kelahiran anak, maka bendera di kantor NNGPM dinaikkan, bila ada anak kembar lahir; maka dua bendera NNGPM akan dikibarkan. Rute2 penerbangan keluarga mulai ada, sekaligus membawa semua keperluan untuk komunitas. Inilah cikal bakal penerbangan ke Papua. Pada tahun 1940, diresmikan layanan terbang ke wilayah ini “Groote Oost Luchtvaart” (Great East Flight) oleh KNILM (Koninklijke Nederlandsch Indische Luchtvaart Maatschappij) yang punya airport di Babo.

Semua pesta2 penting tentu saja diadakan dengan meriah : Kelahiran Ratu Belanda, festival St Nicholas, Natal, dan Tahun Baru. Setiap malam minggu ada pemutaran film di bioskop perusahaan, ada pertandingan hoki, sepak bola, tenis dan golf. Para wanita Belanda pun dengan bantuan suku2 asli yang telah menjadi pekerja NNGPM punya hobi baru yaitu mengumpulkan anggrek hutan dari berbagai varietas. Para botanist dan zoologist amatir mulai bermunculan dengan kayanya flora dan fauna Papua ini. Komunitas ini pun menghasilkan para etnograf amatir yang meneliti para suku2 Papua di sekitar Babo. Suatu hari, Mr. Wissel, seorang insinyur NNGPM terbang di atas Punggung Papua (Pegunungan Tengah) Papua dan menemukan beberapa danau besar di sekitar wilayah Enarotali sekarang. Pantai danau ini dihuni oleh suku2 Papua yang belum dikenal sama-sekali oleh dunia luar. Saat Wissel turun dari pesawat, ia disambut sebagai “dewa dari langit”. Kemudian, danau ini sekarang terkenal sebagai Danau Wissel. Hubungan baik terbina, beberapa orang suku Papua penghuni pantai danau ini pernah diterbangkan ke Babo untuk operasi darurat.

Begitulah sekelumit sejarah pembukaan wilayah Papua di Kepala Burung. Membuka semuanya: pengetahuan geologi, membawa minyak ke permukaan (lapangan Klamono, Mogoi, Wasian, dll.), dan membuka keterpencilan suku-suku Papua. Ini sebuah contoh bagaimana minyak bisa membuka dunia yang semula “back of beyond”.

Teman-teman ex Petromer Trend (kini PetroChina) yang menemukan lapangan2 besar di Salawati awal tahun 1970-an (misal Walio dan Kasim), BP yang sedang mengembangkan Tangguh di Berau Bay, dan Genting Kasuri yang mau memulai survey di wilayah ex Babo, pasti punya cerita tersendiri dan terkini membuka Kepala Burung ini; saya hanya menceritakan sedikit masa lalunya.

Salam,
awang

—————

Edo, sebenarnya yang menanam ranjau darat (land-mines) di sekitar Babo itu bukan Jepang, tetapi karyawan NNGPM sendiri dalam rangka bersiap menyambut kedatangan Jepang yang mungkin akan menduduki Babo, sebagaimana dilakukan Jepang di lapangan-lapangan minyak lain di Indonesia saat pecah Perang Pasifik Desember 1941.

Menyambung cerita saya tentang awal eksplorasi Papua 1930s, berikut lanjutannya. Bila cerita kemarin mengisahkan awal peradaban di Babo, maka cerita berikut mengisahkan akhir peradaban di Babo.

“Kiamat di Babo” mungkin sebuah judul yang berlebihan, tetapi begitulah mungkin perasaan para karyawan NNGPM dan keluarganya saat bom-bom mulai berjatuhan dari langit oleh pesawat2 tempur Jepang saat mulai pecah Perang Pasifik Desember 1941.

Kegembiraan masyarakat Belanda dan para karyawan NNGPM di tempat terpencil Babo di ujung Teluk Berau, Kepala Burung, tidak berlangsung lama, hanya sekitar setahun, setelah penerbangan umum ke Babo dibuka Belanda pada tahun 1940. Dua bulan dari Desember 1941 sampai awal Februari 1942 semuanya adalah penderitaan, tak ada lagi kegembiraan, tak ada lagi pesta-pesta, tak ada lagi nonton bioskop bersama (lihat cerita saya di bawah). Bahkan, mereka harus “merayakan” malam tahun baru 1942 sambil bertiarap di rawa-rawa Teluk Berau berteman nyamuk2 rawa, sambil ketakutan dimangsa buaya muara Berau.

9 Desember 1941, sebuah sumur tengah dibor di Lapangan Jeflio, Cekungan Salawati. Malam itu, sumur mencapai kedalaman  6275 kaki. Para geologist Belanda memperkirakan pada kedalaman 7000 kaki akan dijumpai lapisan batugamping Miosen yang telah terkenal produktif di daerah itu (inilah Formasi Kais). Tetapi, malam itu juga sumur diperintahkan untuk ditinggalkan sebab genderang Perang Pasifik telah bertalu dengan pemboman Pearl Harbour di Hawaii oleh Jepang.  Ketakutan karyawan NNGPM di Jeflio beralasan sebab tentara Jepang telah menyerang Sorong, kota terdekat.

Markas Besar Belanda di Batavia telah memerintahkan Babo untuk mengevakuasi semua perempuan dan anak2 Eropa sesegera mungkin ke Jawa. Maka pada tanggal 17-26 Desember 1941 rombongan pesawat2 KNILM tiba di Babo kemudian segera berangkat membawa para perempuan dan anak2 berkulit putih. Pesawat2 itu lenyap di balik awan di atas Kepala Burung, meninggalkan para suami dan ayah yang melambaikan tangan dengan berat hati. Akankah mereka saling berjumpa lagi ? Sebagian besar tidak…

Para karyawan NNGPM yang semula membawa alat las, tang besar, pipa,dll. tiba-tiba dipersenjatai bedil double-barreled, milisi garnisun segera terbentuk, sekitar 40 orang kulit putih ada di milisi itu. Garnisun ini dibentuk untuk tindakan persiapan siapa tahu Jepang mendarat di Babo. Babo cukup terpencil tempatnya, sehingga tak segera menjadi sasaran Jepang setelah Sorong jatuh.

Kemudian, rencana tindakan perusakan sendiri atas fasilitas2 perminyakan pun dibuat. Ini selalu dilakukan di lapangan-lapangan minyak Belanda di seluruh Indonesia saat Jepang menyerang. Mengapa dirusak ? Sebab, Jepang memerlukan bahan bakar untuk perang. Bila fasilitas perminyakan dirusak, maka Jepang akan sulit mendapatkan bahan bakar untuk menjalankan mesin-mesin perangnya.

Segera setelah Jepang menyerang Pearl Harbour, telah diputuskan bahwa seluruh material berharga dari berbagai lapangan dan pelabuhan kecil di seluruh Kepala Burung dikumpulkan di Babo. Bila waktu mendesak, barang-barang berharga itu dapat segera diungsikan ke Jawa dari Babo menggunakan pesawat, atau kalau waktu begitu mendesak, maka sekalian barang itu dapat segera dihancurkan. Daftar barang2 berharga ini antara lain : mesin bermotor, dinamo, boiler, steam engine, juga alat2 berat seperti traktor dan buldozer. Peralatan bengkel dan gudang juga masuk dalam daftar barang2 siap dievakuasi atau dihancurkan. Beberapa peralatan berat disembunyikan di hutan sekitar Babo sambil berharap Jepang tak akan menemukannya. Stasiun radio pun mulai dihancurkan satu per satu, kecuali satu yang terbesar dipertahankan untuk berhubungan dengan Batavia atau Ambon.

Sementara itu, 200 tentara dari Batavia, terdiri atas orang2 Indonesia, dipimpin Kapten van Muyen dan dua sersan Belanda mendarat di Babo pada Januari 1942. Pasukan ini membawa banyak ranjau. Dan ranjau pun ditanam di bawah mesin-mesin berat yang tak akan dievakuasi, juga ditanam di beberapa tempat yang diperkirakan akan dilalui tentara Jepang saat mendarat di Babo.

Sementara itu, Jepang yang sudah menduduki Sorong, melakukan patroli rutin sepanjang Selat Sele (teman2 PetroChina tentu rutin melalui selat ini saat mereka dari Sorong akan ke KMT –Kasim marine terminal –stasiun pengumpul minyak2 Salawati; saya rutin melalui selat teduh ini saat ke lapangan di Pulau Salawati pada 1997-2000). Dermaga Kasim saat Jepang melakukan patroli telah termasuk yang dihancurkan.

Pada minggu-minggu pertama setelah pecah Perang Pasifik, Jepang tak menunjukkan ketertarikan kepada Babo, sehingga evakuasi ke Jawa bisa dilakukan beberapa kali. Tetapi, setelah hampir sebulan berlalu; tiba-tiba karyawan NNGPM yang tengah melakukan perusakan fasilitasnya sendiri dikejutkan dengan kedatangan sembilan pesawat bomber Jepang dari sebelah utara yang tanpa ampun menjatuhkan bom-bom. ”Kiamat di Babo” mulai terjadi.

H.W. Minekus, seorang karyawan NNGPM menulis dalam sebuah laporan, ”Kebanyakan dari kami lari dan menjatuhkan diri di parit-parit pinggir jalan. Kemudian pesawat2 Jepang datang kembali, Kami makin melekatkan diri dengan tanah parit sambil gemetaran. Tetapi saat itu tak ada bunyi bom, mungkin mereka sudah kehabisan amunisi. Bomber2 itu pergi ke arah mereka datang.”

Serangan bom ini telah mengejutkan para pegawai NNGPM dari suku asli. Mereka segera lari ke hutan dari mana mereka berasal dan tak pernah keluar lagi. Sementara itu, kuli-kuli bukan suku Papua juga lari ke hutan, tetapi beberapa hari kemudian mereka kembali ke Babo karena kelaparan.

Membalas serangan Jepang, Belanda bekerja sama dengan Tentara Sekutu mendatangkan pesawat2 bomber dari Australia. Karyawan NNGPM menyambut gembira kedatangan pesawat2 ini. Untuk sementara waktu,serangan Jepang dari utara tak muncul lagi. Akhir Januari 1942, pesawat2 ini kembali ke pangkalannya di Australia.

Pada saat yang bersamaan, Jepang berhasil merebut lapangan-lapangan minyak di Bunyu, Tarakan, dan Miri-Sarawak. Ini membuat Batavia memutuskan agar NNGPM merusak semua fasilitas perminyakan dan segera melakukan evakuasi.

25 Januari 1942 pukul 02.00, datang perintah dari komando militer di Belanda agar semua fasilitas perminyakan yang telah dikumpulkan di Babo dihancurkan. Ketika hari masih gelap, pekerjaan penghancuran dimulai. Lapangan terbang dihancurkan menggunakan ranjau-darat. Berdrum-drum minyak ditumpahkan dan kebakaran besar menghancurkan banyak fasilitas. Tangki-tangki air diledakkan. Mesin-mesin dirusak menggunakan palu godam. Banyak barang dibuang ke sungai, termasuk alat-alat berat seperti buldozer dan lori-lori. Lubuk sungai sedalam 36 kaki di Kasira dan Kaitero cocok untuk pembuangan barang2 ini. Laporan-laporan geologi, laporan sumur, contoh2 batuan dan banyak dokumen dibakar di belakang gedung kantor sebelum gedungnya pun dibakar. Yang tidak dirusak hanyalah stasiun pembangkit listrik, yang akan disisakan sampai evakuasi dimulai. Tanggal 1 Februari Ambon jatuh, evakuasi harus segera dimulai.

Awal Februari 1942, lenyaplah semua peradaban perminyakan di Babo, tak sampai sepuluh tahun berjalan sejak dimulai pada pertengahan 1930-an.

Evakuasi semua pekerja dan keluarganya yang masih tertinggal dimulai. Evakuasi akan dilakukan ke Dobo di Kepulauan Aru, bukan ke Jawa karena kuatir Jepang akan menyerang Jawa, pusat pemerintahan Belanda di Hindia Belanda. Keputusan tepat sebab Jepang menyerang Jawa dan menjatuhkannya pada Maret 1942. Evakuasi karyawan di Babo dilakukan dari Sungai Kaitero melalui Taniba. Setelah melintasi hutan rawa dan hutan perbukitan Taniba, rombongan tiba di Teluk Arguni. Di teluk ini, dua kapal NNGPM menunggu : Soedoe dan Minjak Tanah. Kedua kapal ini  membawa rombongan ke Dobo, Kepulauan Aru.

Minekus, karyawan NNGPM menceritakan evakuasi ini, ”Kami merasa susah mesti melalui sungai-sungai kecil berawa-rawa berlumpur coklat. Sebuah perjalanan yang sangat menyiksa melalui daerah tak berpenduduk yang hanya dihuni bakau-bakau yang tinggi. Tanda-tanda kehidupan hanyalah suitan burung kakatua putih di atas kami. Kami juga mesti berjalan cepat sebelum pasang naik menyergap. Ketika kami sampai di perbukitan, pemandangan lumayan indah, tetapi di sepanjang perjalanan kami melihat kampung2 suku Papua yang sudah ditinggalkan.”

Demikianlah sekelumit kisah berakhirnya peradaban perminyakan di Babo yang disusun berdasarkan laporan-laporan Belanda NNGPM.

Minyak membuka dan menutup peradaban di Babo. Semoga tak terulang lagi.

Salam,

Awang

Posted in Bahan bakar, ENERGI, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 8 Comments »

Kepulauan Indonesia dan Ilmu Pengetahuan: Cerita Rumphius

Posted by wahyuancol pada April24, 2008

Teori Evolusi, Maluku, Halmahera, Hila, VOC, Charles Darwin, Rumphius, dan Ambon.

Bagi sebagian besar di antara kita tentu tidak asing lagi dengan Teori Evolusi dan Charles Darwin, tetapi apa hubungannya dengan Maluku, Halmahera, Hila, VOC dan Ambon serta Rumphius?. Mungkin hanya sedikit yang mengetahui apa kaitan kata-kata itu satu sama lain.

Berikut ini sebuah kisah masa lalu yang mengaitkan semua kata-kata tersebut. Banyak pelajaran yang dapat kita peroleh darinya. Kisah ini adalah tulisan seorang teman, Awang Harun Satyana. Atas izinnya lah, kisah yang menggugah hati ini dapat kita baca di dalam blog ini.

—————————————————–

Cerita Rumphius

Cerita berikut ini disarikan dari buku lama “Oost Indische Spiegel” tulisan Rob Nieuwenhuys (1972) yang berisikan kisah-kisah di Indonesia sebelum tahun 1900.

Rob Nieuwenhuys adalah seorang sastrawan Belanda kelahiran Semarang dan besar di Surabaya serta Jakarta sebelum ia berkarier di Belanda. Minat utamanya adalah karya-karya sastra dan non-sastra yang terbit di Indonesia sebelum tahun 1900. Ia pernah menyoroti karya-karya ahli bahasa van Eysinga (1796-1856), asisten residen Lebak Douwes Dekker (1820-1887), ahli budaya Batak dan Bali van der Tuuk (1824-1894), wartawan dan sastrawan roman P.A. Daum (1850-1898) dan kini yang mau saya ceritakan sedikit : Georg Eberhard Rumpf atau Rumphius (1628-1702), naturalis Jerman di Ambon yang luar biasa.

Membaca kisah Rumphius, mengingatkan saya kepada naturalis Inggris Alfred Russel Wallace yang saat demam menyerangnya di Halmahera, menyempatkannya menulis sebuah artikel yang dikirimkan kepada Charles Darwin sahabatnya di Inggris dan mengejutkannya setengah mati. Wallace menemukan ide yang sama dengan ide yang tengah dipikirkannya bertahun-tahun: evolusi. Artikel dari Halmahera ini telah mendorong Darwin segera membukukan teori evolusi melalui The Origin of Species (1859) sebelum tersusul Wallace (tentang Wallace, saya lampirkan di bawah, ulasan hampir empat tahun yang lalu, khususnya untuk rekan2 milis yang empat tahun lalu belum bergabung)

Adalah Rumphius yang bekerja luar biasa di Ambon meneliti semua tumbuhan dan fauna serta kerang-kerang di laut dan menemukan sistem penamaan binomial serta sistematika biologi lebih dari 50 tahun sebelum Carolus Linnaeus mengeluarkan sistematika binomialnya (Systema Naturae) pada tahun 1740. Sayang, mahakarya Rumphius tak tersiar ke dunia ilmu pengetahuan saat itu karena sebuah intrik. Kalau bisa tersiar, maka Ambon akan dikenang sebagai lokasi tipe systema naturae. Sama halnya dengan intrik antara Charles Lyell dan Charles Darwin agar artikel Halmahera Wallace tak menjadi dasar teori evolusi. Kalau saja Halmahera dan Ambon sempat mengemuka, Indonesia akan selalu dikenang dalam teori evolusi dan systema naturae lebih daripada Galapagos. Sebuah bukti buat kita semua bahwa di dalam ilmu pengetahuan pun ada intrik juga.

Barangkali kita pernah mendengar kisah Rumphius ini baik secara samar-samar maupun dengan jelas. Yang diceritakan Rob Nieuwenhuys ini lain daripada yang lain. Artikel-artikel tentang Rumphius yang pernah saya kumpulkan tak menceritakan apa yang diceritakan Nieuwenhuys ini.

Georg Eberhard Rumpf lahir di Jerman tahun 1628. Ia terpesona dengan cerita tentang Maluku sebagai penghasil rempah-rempah. Maka ia mendaftarkan diri sebagai tentara VOC dan khayalannya tentang Maluku terwujud pada tahun 1653 saat armada VOC merapat di Ambon (armada ini juga yang berperang melawan Sultan Hasanuddin dari Makassar akibat persaingan perdagangan rempah-rempah dari Maluku).

Rumpf tidak lama jadi tentara sebab panggilan jiwanya bukan sebagai militer. Ia meminta dipindahkan ke bagian sipil dan disetujui. Tahun 1656 Rumpf diangkat sebagai saudagar VOC di Larike, sebuah dusun terpencil di pantai utara Ambon di Semenanjung Hitu. Tahun 1660 Rumpf pindah menjadi saudagar di Hila masih di Hitu juga. Daripada memperkaya diri dan memperkaya VOC, Rumpf mulai terbuka matanya kepada dunia alam Pulau Ambon. Ia menikahi gadis Ambon dan mulailah mempelajari semua tanaman yang ditemuinya. Rumpf mempunyai ambisi ingin membukukan semua flora yang ada di Pulau Ambon.

Maka, perlahan tapi tanpa terhenti, Rumpf mempelajari, memaparkan, memberi nama dalam bahasa Ambon, Melayu, dan Latin semua tumbuhan yang dipelajarinya. Ia menggambar dengan teliti rupa tanaman yang dipelajarinya, menceritakan faedah khususnya untuk menyembuhkan penyakit (untuk ini ia banyak mendengarkan cerita penduduk setempat). Istri dan anak-anaknya membantunya dengan setia. Rumpf pun melakukan beberapa eksperimen dengan tanaman untuk benar-benar mengetahui khasiatnya.

Sampai tahun 1670, atau sekitar sepuluh tahun setelah Rumpf mempelajari tanaman-tanaman Ambon, ia mulai banyak mengadakan kontak dengan sarjana-sarjana Eropa. Sejak itu namanya lebih terkenal sebagai ”Rumphius” sesuai selera ilmu pengetahuan pada zaman itu (zaman Renesans) yang sedang gandrung akan nama-nama Latin atau Yunani.

Tetapi pada tahun 1670 juga, penglihatan Rumphius mulai kabur akibat suatu penyakit bernama staar yang tak bisa disembuhkan. Akhirnya ia mengalami kebutaan total. Bagaimana seorang naturalis bila buta ?

Tetapi Rumphius tidak akan menjadi terkenal kalau patah semangat karena kebutaannya. Ia dan keluarganya pindah dari Hitu ke Ambon. Dan karier Rumphius tetap dapat dukungan penuh dari Batavia, ia tetap digajih, bahkan diberi juru tulis dan juru gambar. Sementara itu, istri dan anaknya tetap membantu Rumphius sepenuh waktu untuk meneruskan karyanya yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun itu.

Setelah buta bahkan Rumphius menambah pengamatannya akan semua jenis kerang yang ada di perairan Ambon. Ia tetap mendengarkan cerita-cerita penduduk tentang kerang-kerang itu lalu mendiktekan kepada anaknya atau juru tulisnya untuk menuliskannya. Ia meraba, mencium, dan mendengar – itulah senjata-sejata untuk deskripsinya. Rumphius makin mencintai alam Ambon sungguhpun ia buta.

Namun, bencana datang lagi. Gempa dahsyat melanda Ambon pada 17 Februari 1674. Gempa ini menewaskan orang-orang yang paling dicintainya: isterinya dan anaknya – dua orang yang setara dengan dia sendiri, penunjuk jalan yang setia akan keajaiban Ambon. Gempa ini juga menewaskan sebanyak 2322 penduduk Ambon. Nah, dari mana lagi akan datang pertolongan untuk Rumphius ?

Sungguh luar biasa, dalam tahun itu juga, Rumphius berhasil menerbitkan buku pertama tentang sejarah alam Ambon, berjudul Sejarah dan Geografi Pulau Ambon. Sayang, buku ini tetap terkunci rapat di kantor VOC di Ambon sebab VOC takut bila buku ini tersebar akan menguntungkan pesaing-pesaing VOC. Di kemudian hari, setelah Rumphius tiada, buku ini ditemukan seorang pendeta bernama Valentijn dan menerbitkannya atas namanya sendiri...(!)

11 Januari 1687 bencana ketiga menimpa Rumphius dan kota Ambon. Kota Ambon dimangsa si jago merah yang hebat alias kebakaran. Api menghanguskan gambar-gambar untuk bukunya tentang tumbuhan, menghanguskan konsep naskah tentang kerang, dan juga menghanguskan koleksi tumbuhan dan kerang yang lebih dari 15 tahun dikumpulkan Rumphius. Untunglah naskah tentang tumbuhan Ambon bisa diselamatkan. Dan, untunglah VOC tetap mendukung Rumphius dengan membantunya menugaskan juru tulis dan juru gambar untuk menulis dan menggambar ulang semua dokumen yang telah dilalap si jago merah.

Tahun 1690 mahakarya Rumphius pun selesai, dua belas jilid banyaknya, sebuah karya raksasa yang disusun selama lebih dari 20 tahun dengan berbagai suka dan duka. Rumphius mengirimkan karyanya kepada Gubernur Jenderal VOC di Batavia. Karyanya baru diteruskan ke Belanda pada tahun 1697 setelah selama tujuh tahun disalin di Batavia oleh Gubernur Jenderal Camphuys – seorang pencinta alam Indonesia juga. Lebih sial lagi, ternyata karya raksasa Rumphius ini tersimpan selama 44 tahun di arsip VOC di Belanda dengan alasan keamanan (!). Maka, tersusullah karya Rumphius ini oleh karya Systema Naturae Carolus Linnaeus, ahli biologi Swedia, yang menerbitkan karyanya pada tahun 1740 dan memperkenalkan sistem penamaan binomial. Padahal, Rumphius dari Ambon telah menemukan sistem penamaan itu 50 tahun lebih awal.

Tahun 1699, Rumphius masih mengeluarkan sebuah buku berjudul ”Kotak Keajaiban Pulau Ambon” yang membahas kerang-kerang di perairan Ambon. Bukunya ini bernasib lebih baik daripada buku-buku sebelumnya. Rumphius tak mengirimkan buku ini kepada pejabat-pejabat VOC, tetapi mengirimkannya langsung kepada seorang sahabatnya di Belanda dan menerbitkannya pada tahun 1705. Tetapi, Rumphius tidak melihat satu bukunya pun terbit, sebab ia meninggal di Ambon pada tahun 1702.

Cerita Nieuwenhuys, sampai Perang Dunia kedua, makam Rumphius masih suka dikunjungi orang, tetapi sekarang tak seorang pun tahu di mana makam ilmuwan besar buta ini.

Barang siapa pernah membaca deskripsi tumbuhan atau kerang yang ditulis Rumphius, tak akan mengira kita bahwa penelitinya adalah seorang buta. Tak berlebihan bila Rumphius pernah dijuluki ”orang buta yang berpandangan jauh” – barangkali mirip komponis klasik Ludwig van Beethoven yang menganggit simfoni nan megah sekalipun ia tuli.

Pengamatan, pelukisan, dan cinta Rumphius kepada alam Maluku tak ada taranya. Ia sungguh jatuh cinta kepada Ambon Manise.

Rumphius – teladan bagi dunia naturalis Indonesia.

salam,

awang

———————————————————–

Ada hal-hal yang sangat menarik dari kisah tersebut, yaitu:

  1. Tentang bagaimana dukungan Pemerintah sangat berpengaruh bagi munculnya suatu karya ilmiah. Tanpa dukungan dari VOC kala itu, tidak mungkin Rumphius menghasilkan karyanya yang monumental itu.
  2. Bahwa sejarah perkembangan ilmu pengetahuan berkaitan erat dengan perkembangan politik. Kita dapat melihat hal itu dari bagaimana VOC menyimpan (tidak mempublikasikan karya Rumphius) dengan alasan keamanan sehingga sejarah mencatatnya sebagai bukan karya yang pertama.
  3. Bahwa di dalam dunia ilmu pengetahuan pun ternyata ada juga intriknya.

Demikian sebuah kisah masa lalu yang pernah terjadi Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

 

Posted in Dari Indonesia untuk Dunia, Sejarah | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 2 Comments »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.