Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Arsip untuk ‘Sedimentasi’ Kategori

Tentang proses sedimentasi, keuntungan dan kerugiannya.

Banjir 2014 di Pulau Jawa

Posted by wahyuancol pada Januari21, 2014

Musim hujan di awal tahun 2014 ini menyebabkan banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Khusus di Pulau Jawa banjir terjadi menyeluruh di kawasan pesisir utara mulai dari daerah Serang, Banten di bagian barat hingga Rembang di bagian timur. Banyak kerugian materil yang timbul karena banjir tersebut, baik karena pemukiman yang terendam air maupun lumpuhnya transportasi. Pada kesempatan ini kita tidak membicarakan tentang berbagai kerugian tersebut atau penyebab banjir, tetapi akan kita lihat banjir tersebut dari sudut pandang yang lain, yaitu banjir sebagai proses geomorfologi.

Air adalah salah satu agen geomorfologi yang penting di bumi ini. Dengan aktifitas air, permukaan bumi diukir dan berbagai bentang alam dibentuk. Kita yang hidup di permukaan bumi ini, khususnya di Indonesia, sebagian besar hakekatnya adalah hidup di atas bentang alam hasil bentukan oleh proses geomorfologi yang dikerjakan oleh air, baik itu yang tinggal di daerah pegunungan, perbukitan maupun di dataran rendah.

Melalui proses erosi, air mengukir pegunungan atau perbukitan menghasilkan lereng-lereng, punggungan-punggungan dan lembah-lembah. Sementara itu, melalui proses sedimentasi air membentuk dataran.

Aliran air di daerah pegunungan atau perbukitan mengukir pegunungan atau perbukitan tersebut. Rempah-rempah batuan hasil ukiran tersebut kemudian ditransportasikan ke daerah yang lebih rendah untuk kemudian diendapkan. Maka terbentuklah berbagai lahan datar. Melalui mekanisme seperti itulah sebagian besar bagian Pulau Jawa ini diukir dan dibentuk oleh air.

Kawasan pesisir utara Pulau Jawa yang sekarang ini tergenang air banjir terbentuk dengan cara seperti itu. Air banjir yang turun dari daerah pegunungan atau perbukitan di bagian tengah pulan hakekatnya saat ini sedang bekerja dalam skala besar mengukir pegunungan dan perbukitan, mentranspor rempah-rempah hasil ukiran ke laut. Dalam perjalanannya ke laut, sebagian dari rempah-rempah tersebut diendapkan di dataran rendah.

Rempah-rempah atau material atau sedimen yang ditranportasikan oleh aliran air tersebut kaya akan zat hara. Oleh karena itu, mudah dimengerti kalau dataran rendah yang ada di pesisir utara Pulau Jawa itu adalah lahan yang subur. Di lapangan kita melihat bahwa dataran pesisir di utara Pulau Jawa tersebut adalah daerah pertanian yang subur. Dengan pola pikir seperti itu, maka dapat dikatakan bahwa banjir yang berulang terjadi di daerah tersebut hakekatnya adalah cara Tuhan untuk menjaga kelangsungan hidup kita, yaitu dengan memperbaiki kesuburan lahan terus menerus tanpa kita memintanya.

Jadi, banjir yang terjadi sekarang ini menunjukkan Tuhan sedang memperbaiki lahan agar kita dapat memanfaatkannya lagi setelah banjir berakhir. Selain itu, peristiwa ini juga mengingatkan kita bahwa lahan yang sekarang ini mengalami banjir adalah lahan pertanian yang subur. Mengingatkan kembali tentang hal ini penting karena sekarang banyak lahan pertanian yang telah dikonversi untuk penggunaan lain, termasuk pemukiman.

Kemudian, banjir yang merupakan rahmat Tuhan itu sekarang menjadi bencana. Ini mengingatkan agar kita manusia menyesuaikan diri dengan sistem alam yang diciptakan Tuhan dengan mempergunakan akal dan pikiran yang juga telah diberikan kepada kita.

Salam,

WBS

Ditulis dalam Air, Banjir, Cara Bumi di Hidupkan, Erosi, FILSAFAT, HIDROSFER, HUMANIORA, Manusia dan Alam, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , | Leave a Comment »

Pantai (tipe, klasifikasi sederhana, proses)

Posted by wahyuancol pada Desember16, 2008

Secara sederhana, pantai dapat diklasifikasikan berdasarkan material penyusunnya, yaitu menjadi:

  1. Pantai Batu (rocky shore), yaitu pantai yang tersusun oleh batuan induk yang keras seperti batuan beku atau sedimen yang keras. (contoh Gambar)
  2. Beach, yaitu pantai yang tersusun oleh material lepas. Pantai tipe ini dapat dibedakan menjadi:
    1. Sandy beach (pantai pasir), yaitu bila pantai tersusun oleh endapan pasir. (contoh Gambar)
    2. Gravely beach (pantai gravel, pantai berbatu), yaitu bila pantai tersusun oleh gravel atau batuan lepas. Seperti pantai kerakal di Yogyakarta. (contoh Gambar)
  3. Pantai bervegetasi, yaitu pantai yang ditumbuhi oleh vegetasi pantai.  Di daerah tropis, vegetasi pantai yang dijumpai tumbuh di sepanjang garis pantai adalah mangrove, sehingga dapat disebut Pantai Mangrove. (contoh Gambar)

Bila tipe-tipe pantai di atas kita lihat dari sudut pandang proses yang bekerja membentuknya, maka pantai dapat dibedakan menjadi:

  1. Pantai hasil proses erosi, yaitu pantai yang terbentuk terutama melalui proses erosi yang bekerja di pantai. Termasuk dalam kategori ini adalah pantai batu (rocky shore).
  2. Pantai hasil proses sedimentasi, yaitu pantai yang terbentuk terutama kerena prose sedimentasi yang bekerja di pantai. Termasuk kategori ini adalah beach. Baik sandy beach maupun gravely beach.
  3. Pantai hasil aktifitas organisme, yaitu pantai yang terbentuk karena aktifitas organisme tumbuhan yang tumbuh di pantai. Termasuk kategori ini adalah pantai mangrove.

Kemudian, bila dilihat dari sudut morfologinya, pantai dapat dibedakan menjadi:

  1. Pantai bertebing (cliffed coast), yaitu pantai yang memiliki tebing vertikal. Keberadaan tebing ini menunjukkan bahwa pantai dalam kondisi erosional. Tebing yang terbentuk dapat berupa tebing pada batuan induk, maupun endapan pasir. (contoh Gambar)
  2. Pantai berlereng (non-cliffed coast), yaitu pantai dengan lereng pantai. Pantai berlereng ini biasanya merupakan pantai pasir.

Ditulis dalam Erosi, P, Pantai, Sedimen, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , | 10 Comments »

Sedimentasi – Sedimen (definisi)

Posted by wahyuancol pada Desember1, 2008

Sedimentasi (geology) adalah proses pengendapan material padat dari kondisi tersuspensi atau terlarut dalam suatu fluida (biasanya air atau udara).

Definisi yang luas menurut Encyclopeia Britannica ini, selain meliputi endapan yang diendapkan oleh fluida yang mengalir (aliran air atau aliran udara), juga mencakup endapan gletser es, dan endapan talus atau akumulasi debris atau fragmen batuan di kaki tebing yang digerakkan oleh gravitasi.

Secara sederhana, menurut Merriam-Webster Online, sedimentasi adalah proses pembentukan atau pengendapan sedimen.

Sementara itu, sedimen didefinisikan secara luas sebagai material yang diendapkan di dasar suatu cairan (air dan udara), atau secara sempit sebagai material yang diendapkan oleh air, angin, atau gletser / es.

Ditulis dalam S, Sedimen, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , | 10 Comments »

MBG: Sedimentasi

Posted by wahyuancol pada Juni6, 2008

Sedimentasi adalah masuknya muatan sedimen ke dalam suatu lingkungan perairan tertentu melalui media air dan diendapkan di dalam lingkungan tersebut. Sedimentasi yang terjadi di lingkungan pantai menjadi persoalan bila terjadi di lokasi-lokasi yang terdapat aktifitas manusia yang membutuhkan kondisi perairan yang dalam seperti pelabuhan, dan alur-alur pelayaran, atau yang membutuhkan kondisi perairan yang jernih seperti tempat wisata, ekosistem terumbu karang atau padang lamun. Untuk daerah-daerah yang tidak terdapat kepentingan seperti itu, sedimentasi memberikan keuntungan, karena sedimentasi menghasilkan pertambahan lahan pesisir ke arah laut.

4.6.1. Pencetus

Sedimentasi di suatu lingkungan pantai terjadi karena terdapat suplai muatan sedimen yang tinggi di lingkungan pantai tersebut. Suplai muatan sedimen yang sangat tinggi yang menyebabkan sedimentasi itu hanya dapat berasal dari daratan yang dibawa ke laut melalui aliran sungai. Pembukaan lahan di daerah aliran sungai yang meningkatkan erosi permukaan merupakan faktor utama yang meningkatkan suplai muatan sedimen ke laut. Selain itu, sedimentasi dalam skala yang lebih kecil dapat terjadi karena transportasi sedimen sepanjang pantai.

4.6.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Sedimentasi di perairan pesisir terjadi perlahan dan berlangsung menerus selama suplai muatan sedimen yang tinggi terus berlangsung. Perubahan laju sedimentasi dapat terjadi bila terjadi perubahan kondisi lingkungan fisik di daerah aliran sungai terkait. Pembukaan lahan yang meningkatkan erosi permukaan dapat meningkatkan laju sedimentasi. Sebaliknya, pembangunan dam atau pengalihan aliran sungai dapat merubah kondisi sedimentasi menjadi kondisi erosional.

Bila sedimentasi semata-mata karena tranportasi muatan sedimen sepanjang pantai, laju sedimentasi yang terjadi relatif lebih lambat bila dibandingkan dengan sedimentasi yang mendapat suplai muatan sedimen dari daratan.

4.6.3. Prediktabilitas

Berkaitan dengan aktifitas manusia, persoalan yang muncul karena sedimentasi dapat diperhitungkan sejak awal ketika aktifitas tersebut dimulai melalui studi geomorfologi pesisir dan transportasi sedimen. Demikian pula dengan kemungkinan perubahannya, dapat diprediksi dengan studi tersebut.

4.6.4. Durasi

Proses sedimentasi berlangsung perlahan dan terus menerus selama suplai muatan sedimen yang banyak dari daratan masih terus terjadi. Proses sedimentasi berhenti atau berubah menjadi erosi bila suplai muatan sedimen berkurang karena pembangunan dam atau pengalihan alur sungai.

4.6.5. Areal terganggu

Areal yang terganggu oleh proses sedimentasi terbatas pada lokasi-lokasi yang terdapat aktifitas manusia yang membutuhkan perairan yang cukup dalam, seperti pelabuhan dan alur-alur pelayaran.

4.6.6. Aktifitas mitigasi

Untuk melindungi pelabuhan dan alur pelabuhan, upaya mitigasi dapat dilakukan dengan membangun jetty. Sementara itu, tindakan upaya menghentikan atau mengurangi sedimentasi di suatu kawasan teluk misalnya, dapat dilakukan dengan pengalihan alur sungai yang diketahui suplai muatan sedimen dari sungai itu mengerah ke teluk tersebut. Dalam skala yang lebih luas, mitigasi bencana karena sedimentasi dapat dilakukan dengan pengelolaan DAS (Daerah Aliran Sungai) yang merupakan sumber utama muatan sedimen yang masuk ke perairan.

Kembali

Ditulis dalam Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , | 12 Comments »

MENGHADAPI ANCAMAN BAHAYA GEOLOGI di WILAYAH PESISIR (MBG)

Posted by wahyuancol pada Juni3, 2008

Bencana alam akhir-akhir ini telah menarik perhatian kita semua. Khusus bagi kawasan pesisir, banjir karena pasang surut atau naiknya air laut ke darat karena gelombang tinggi menjadi perhatian, terutama di daerah kota besar seperti Jakarta. Tetapi, bahaya geologi di daerah pesisir tidak hanya itu. Pada kesempatan ini saya mencoba memberikan gambaran apa saja bahaya geologi di daerah pesisir dan bagaimana kita kita menanggapi ancamannya. Materi kali ini adalah makalah yang pernah saya presentasikan dalam seminar di Yogyakarta pada 15 Februari 2008 yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Geologi – UGM.

Bila ada yang ingin mengutipnya sebagai referensi tulisan ilmiah, penulisan sitasinya adalah sebagai berikut:

Setyawan, W.B., 2008. Menghadapi ancaman bahaya geologi di Wilayah Pesisir. Dalam: S. Husein, S.S. Surjono, S.B. Samodra dan D.N.E. Putra (editor), Tantangan dan Strategi Pendidikan Geologi dalam Pembangunan Nasional, Prosiding Seminar Nasional Ilmu Kebumian 2008, Jurusan Teknik Geologi FT UGM, Yogyakarta: H2-1 sampai H2-24.

———–

Daftar Isi:

Abstrak

1. Pendahuluan

2. Siklus Manajemen Bencana

3. Aktifitas Mitigasi dan Karakter Bencana

4. Karakter Bahaya Geologi dan Upaya Mitigasinya

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Tinggi

4.3. Erosi Pantai

4.4. Banjir Pasang-surut dan Subsiden

4.5. Banjir Luapan Sungai

4.6. Sedimentasi

5. Kesimpulan

Referensi

———

Abstrak

Bahaya geologi hakekatnya adalah proses geologi yang mengancam keselamatan harta dan atau jiwa manusia. Keberadaan ancaman bahaya geologi di suatu kawasan berkaitan dengan kondisi geologi di kawasan itu. Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila bahaya geologi itu benar-benar terjadi (mitigasi bencana) dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes).

Mitigasi dan preparadnes bencana adalah fase awal dari suatu siklus manajemen bencana. Aktifitas mitigasi bencana sesungguhnya adalah upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya bencana, atau mengurangi efek dari bencana yang tidak dapat dicegah kejadiannya. Efektifitas suatu akifitas mitigasi bencana ditentukan oleh: (1) faktor pencetus, (2) karakter kedatangan / kejadian, (3) prediktabiltas, (4) durasi suatu bencana dan (5) areal terganggu.

Di kawasan pesisir yang merupakan daerah transisi antara darat dan laut dapat terjadi bencana geologi dengan air laut sebagai agen yang bekerja (working agents): tsunami, gelombang tinggi, banjir pasang surut dan erosi pantai; dan dapat pula terjadi bencana geologi yang berkaitan dengan air permukaan: banjir limpasan sungai; dengan muatan sedimen: sedimentasi, dan dengan kompaksi batuan: subsiden. Karakter dari setiap macam bencana itu perlu dipahami agar kita dapat menyusun strategi menghadapi ancamannya. Secara umum, disamping memperkirakan waktu kejadian, pemetaan daerah-daerah di kawasan pesisir yang terancam oleh suatu ancaman bahaya geologi adalah langkah penting yang harus dilakukan dalam aktifitas mitigasi bencanaa atau geologi itu yang dilakukan berdasarkan karakter dari bencana atau bahaya geologi tersebut.

1. Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia banyak terjadi bencana alam, baik yang datang dari laut maupun yang sumber kejadiannya di darat. Terjadinya tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang melanda sebagian besar wilayah pesisir barat dan utara Pulau Sumatera, khususnya di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam begitu menghentakkan, dan membuat perhatian masyarakat umum di Indonesia menarah ke bencana (alam) geologi yang datang dari laut itu.

Bahaya geologi atau bencana geologi dapat terjadi di bagian bumi manapun, termasuk di wilayah pesisir. Bahaya geologi di daerah pesisir berkaitan dengan proses-proses geologi khas untuk daerah pesisir. Proses-proses geologi tersebut umumnya adalah proses-proses geologi yang berkaitan dengan kondisi angin, gelombang, pasang-surut dan arus, dan terekspresikan dalam bentuk tsunami, gelombang karena badai, banjir pasang-surut, erosi pantai. Selain itu, ada pula bencana geologi yang tidak berkaitan dengan berbagai faktor yang disebutkan itu, yaitu sedimentasi yang berkaitan dengan suplai muatan sedimen dari daratan, dan bencana subsiden yang berkaitan dengan kompaksi batuan atau endapan sedimen.

Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila ancaman bahaya geologi benar-benar terjadi dan menjadi bencana geologi (mitigasi bencana), dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes atau kesiagaan bencana). Makalah ini bertujuan memberikan gambaran bagaimana menanggapi ancamanan dari berbagai macam bahaya geologi di daerah pesisir dengan memperhitungkan karakternya.

———-

5. Kesimpulan

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa ancaman bahaya geologi di daerah pesisir dapat datang dalam berbagai bentuk kejadian. Meskipun demikian, hanya ada dua agen utama yang bekerja yaitu air laut dan air permukaan. Air laut sebagai agen yang bekerja hadir dalam bentuk gelombang dan pasang-surut, sedang air permukaan hadir dalam bentuk debit air permukaan yang besar.

Aktifitas mitigasi bencana adalah upaya untuk memperkecil dampak negatif dari suatu bencana. Terkait upaya itu, mengetahui waktu kejadian dan lokasi kejadian adalah hal yang penting karena dengan kedua hal itu manusia dapat menghindar dari bahaya yang datang.

Tidak semua macam bahaya geologi dapat diketahui dengan pasti waktu kedatangan, seperti tsunami. Namun ada pula bahaya geologi yang kedatangannya sedemikian halus sehingga manusia terlambat menyadarinya sampai bahaya itu benar-benar terjadi dan manusia tidak dapat menghindar lagi, seperti subsiden, banjir, dan erosi pantai. Oleh karena itu, pemetaan daerah-daerah yang berpotensi untuk terkena bahaya geologi menjadi faktor kunci dalam ke-efektifan upaya mitigasi. Dengan mengetahui daerah-daerah yang berpotensi terkena bahaya, diharapkan manusia dapat menghindari daerah-daerah tersebut dalam melakukan aktifitas. Sampai pada titik ini, kesadaran masyarakat akan potonsi bencana menjadi hal yang penting, karena hanya dengan kesadaran akan bahaya yang akan menimpalah yang membuat masyarakat bersedia untuk menghindar dari daerah-daerah bahaya. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran publik sangat penting untuk dilaksanakan berdampingan dengan berbagai uaya mitigasi yang lain.

Dalam upaya melakukan prediksi waktu dan lokasi kejadian bahaya geologi yang berkaitan dengan gelombang laut, prediksi kondisi angin dan gelombang laut (meteorologi maritim) adalah informasi penting. Sementara itu, untuk bahaya yang berkaitan dengan air permukaan, prediksi kondisi curah hujan adalah faktor kunci. Terkait dengan kedua hal itu, institusi yang bertanggung-jawab adalah BMG.

Untuk prediksi bencana banjir pasang-surut, pengetahuan akan kondisi fisik lahan pesisir, terutama berkaitan dengan daya dukungnya, adalah sangat penting. Perlu disadari bahwa bencana banjir pasang-surut tidak datang begitu saja. Bencana ini bisa dipastikan dimulai dari keterlanjuran manusia melakukan pembangunan fisik di daerah daratan relatif baru dan labil di tepi pantai. Keterlanjuran itu terjadi karena kegagalam manusia memahami karakter fisik daerah pesisir. Untuk mengetahui kondisi fisik lahan pesisir dan dapat memetakan daerah yang berpotensi mengalami subsiden, studi geomorfologi pesisir dalah hal yang penting. Di pihak lain, untuk prediksi pasang surut, institusi yang sekarang ini bertanggung-jawab melakukannya adalah Jawatan Hidro-Oseanografi TNI-AL.

Bahaya sedimentasi di perairan pesisir berkaitan erat dengan pengelolaan DAS dan tata-air (aliran sungai dan kanal-kanal) selain berkitan dengan faktor curah hujan. Berbagai institusi terkait dengan masalah ini. Karena itu, diperlukan kerjasama dari berbagai institusi terkait untuk dapat mengelola masalah sedimentasi. Untuk kondisi tertentu, bahaya erosi pantai juga berkaitan dengan pengelolaan aliran sungai atau kanal-kanal.

Referensi

Anonim-Ant, 2007. Gelombang Pasang Landa Berbagai Wilayah Indonesia. [http://portal.antara.co.id/arc/2007/5/18/gelombang-pasang-landa-berbagai-wilayah-indonesia/]. Akses: 2 Febuari 2008.

Anonim-BBC, 2007. Gelombang Pasang Landa Pesisir. [http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/05/070520_tidalwave.shtml]. Akses: 2 Feburari 2008.

Anonim-Rep, 2007. Gelombang Pasang Terjang Pesisir. [http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=293613&kat_id=3]. Akses: 2 Febuari 2008.

AVISO, 2007. Southern Swell in the Indian Ocean. [http://www.aviso.oceanobs.com/html/applications/meteo/houle_australe_uk.html]. Akses: 1 Juni 2007.

BMG (Badan Meteoprologi dan Geofisika), 2007. Apa itu Tsunami. [http://www.bmg.go.id/data.bmg?Jenis=Teks&IDS=8704394716716499700]. Akses: 11 Febuari 2008.

Cooke, R.U. and Doornkamp, J.C., 1977. Geomorphology in Environmental Management: an introduction (reprint edition). Clarendon Press, Oxford, 413 p.

ESA, 2007. Huge waves from one strom slam coast some 6000 km apart. [http://www.esa.int/esaEO/SEMMJJ9RR1F_economy_o.html] Akses: 1 Juni 2007.

Pariwono, J.I., 2007. Terjangan Gelombang Tinggi ke Pantai-pantai Luar Indonesia di Bulan Mei 2007. Abstrak dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanologi (ISOI) di Bogor, 22 Nopember 2007.

Setyawan, W.B. dan Witasari, Y., 2004. Pengaruh tsunami tahun 1996 terhadap wilayah pesisir Pulau Biak. Dalam: Setyawan, W.B., Witasari, Y., Arifin, Z., Ongkosongo, O.S.R. dan Birowo, S. (editor). Prosiding Seminar Laut Nasional III, 29-31 Mei 2001, Jakarta, Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia, hal. 135-141.

Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4th edition, John Willey & Sons, Inc., New York, 112 pp.

Srinivas, H., tanpa tahun. The Indian Ocean Tsunami and Its Environmental Impacts. [http://www.gdrc.org/uem/disasters/disenvi/tsunami.html%5D. Akses: 22 Januari 2008

Tapper, N., 2002. Climate, climatic variability and atmospheric circulation patterns in the Maritime Continent Region. In: P. Kershaw, B. David, N. Tapper, D. Penny and J. Brown (editors), Bridging Wallace’s Line: the environmental and cultural history and dynamic of the SE-Asian-Australian Region, Advance in Geoecology 34, Catena Verlag GMBH, Reiskirchen, p. 5-28.

UNESCO/IOC, 2007. Welcome to the UNESCO/IOC global tsunami website, a one-stop resource for all tsunami-related information. [http://www.ioc-tsunami.org/]. Akses: 11 Febuari 2008.

Warfield, C., tanpa tahun, The Disaster Management Cycle. [http://www.grdc.org/uem/disaster/1-dm_cycle.html]. Akses: 22 Januari 2008.

————

Terima Kasih, Ancol 6 Juni 2008

Ditulis dalam Banjir, Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM, Sedimentasi, Wilayah Pesisir | Dengan kaitkata: , , , , , , , , , , , , , | 1 Comment »

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.