Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Arsip untuk Maret 3rd, 2009

Erosi 3 (dimensi manusia)

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Maret3, 2009

Kali ini kita coba lihat dimensi atau faktoir manusia yang berkaitan dengan erosi.

Erosi dapat berkaitan dengan manusia dalam 2 hal. Pertama berkenaan dengan pencetusan erosi atau peningkatan intensitas atau laju erosi, dan Ke-dua berkaitan dengan dampak erosi.

Telah sama kita ketahui bahwa sebagai suatu proses alam, erosi pasti terjadi. Untuk dapat terjadinya erosi, tentu harus terpenuhinya kondisi-kondisi alamiah tertentu. Campur tangan manusiua terhadap proses erosi terada pada tataran pengubahan kondisi-kondisi yang menjadi prasayarat bagi berlangsungnya erosi.

Sebagai Pencetus

Campurtangan manusia dapat terjadi dalam bentuk menghadirkan kondisi prasyarat terjadinya erosi. Dengan campur tangan manusia, di daerah yang semula tidak ada erosi, menjadi ada erosi; daerah yang semula erosi ringan jadi erosi berat; daerah yang semula laju erosinya pelan menjadi lebih cepat. Misalnya, membuat lereng lebih curam (tebing jalan), membuat kekuatan aliran air terkonsentrasi di suatu tempat (pengaturan drainase), mengurangi atau menghilangkan hal-hal yang menghambat aliran air (penebangan hutan).

Dalam hal manusia sebagai penyebab erosi, hal ini dapat terjadi karena dua hal: (1) karena ketidaktahuan, dan (2) karena ketidakpedulian dengan kerusakan lingkungan. Untuk kondisi yang pertama, dapat diatasi dengan pendidikan atau pengajaran. Untuk kondisi yang kedua diperlukan penegakan hukum. 

Sebagai Korban

Proses erosi dapat merugikan kepentingan manusia. Dalam hal ini kita dapat menyebut manusia sebagai korban. Macam-macam kerugian yang dapat dialami manusia karena erosi seperti: kehilangan tanah yang subur (erosi menghilangkan lapisan permukaan tanah, pada erosi permukaan), mengalami kerusakan lahan (lahan menjadi tertoreh-toreh oleh erosi riil atau gully di daerah berlereng, bad land topography), kehilangan lahan secara fisik (lahan benar-benar hilang tererosi, pada kasus erosi lateral di tepi aliran sungai atau di tepi pantai).

Kemudian, pada tingkat diatasnya, manusia mengalami kerugian karena kehilangan atau kerusakan segala sesuatu atau aset yang ada di atas lahan yang tererosi itu, seperti kehilangan kebun, pemukiman, jalan, dan berbagai macam objek lainnya yang dibangun di atas lahan yang tererosi itu.

Dalam hal manusia sebagai korban erosi, tentu manusia selalu berupaya untuk menghindar atau berusaha mengatasi proses erosi itu. Upaya untuk mengatasi mkasalah erosi bukanlah pekerjaan sederhana yang ringan, melainkan pekerjaan yang rumit dan berbiaya tinggi. Olah karena itu, upaya penanggulangan masalah erosi ini dilakukan oleh Pemerintah atau masyarakat berdasarkan pertimbangan nilai kerugian yang mungkin timbul karena erosi bila erosi itu terjadi di suatu kawasan. Sebagai contoh, bila erosi mengancan jalan raya, maka upaya penanggukangan pasti dilakukan. Seperti di daerah Eretan, Indramayu. Erosi pantai mengancam jalan Pantura yang vital, maka di sepanjang pantai dipasang pertahanan pantai.

 

Demikian. Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam E, Erosi | Bertanda: , , | Leave a Comment »

Bapak Metode Ilmiah Moderen

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Maret3, 2009

Siapa penemu metode ilmiah moderen?

Seringkali dikatakan bahwa metode ilmiah moderen ditemukan pada awal Abad ke-17 oleh Francis Bacon (1214 – 1294) dan Rene Descartes (1596 – 1650). Namun, sebuah laporan yang dipublikasikan oleh BBCIndonesia.com pada tanggal 17 Januari 2009 menyebutkan bahwa, sesungguhnya metode ilmiah moderen telah muncul jauh lebih awal, yaitu pada Abad ke-10. Laporan yang ditulis oleh Profesor Jim Al-Khalili dari Universitas Surrey menyebutkan bahwa, adalah Ibnu Al-Haitsam yang pertama kali mengemukakan metode ilmiah seperti yang sekarang ini berlaku. Dikatakan bahwa, Ibnu Al-Haitsam adalah yang sering disebut sebagai “ilmuwan sesungguhnya yang pertama di dunia,” karena penekanannya pada data eksperimental dan kemampuan untuk memproduksi kembali hasilnya.

Seperti biasa dijelaskan bahwa pendekatan dalam penyelidikan suatu fenomena alam, untuk memahami ilmu pengetahuan baru, atau untuk memperbaiki dan menggabungkan ilmu lama, adalah berdasarkan pada pengumpulan data melalui pengamatan dan pengukuran yang kemudian diikuti oleh tahap formulasi dan pengujian hipotesis untuk menjelaskan data yang didapat. Demikianlah cara ilmuwan sekarang bekerja. Cara seperti itulh yang telah dilakukan oleh Ibnu Al-Haitsam.

Ibnu Al-Haitsam atau Abu Ali Al-Hasan ibn Al-Hasan ibn Al-Haitsam atau Al-hazen lahir pada tahun 965 Masehi di Basra yang sekarang masuk dalam negara Irak. Hidup sampai tahun 1040. Ia dikenal sebagai salah satu ilmuwan besar pada Abad Pertengahan. Ia dikenal sebagai ahli fisika, ahli astronomi, dan ahli matematika. Menurut catatan sejarah perkembangan ilmu pengetahuan di Dunia Barat, masa Abad Pertengahan adalah Masa Kegelapan bagi Dunia Barat, di Eropa.

Pada masa mudanya, Al-Haitsam sangat bingung dengan konflik klaim kebenaran oleh berbagai sekte keagamaan, Frustasi dengan kegagalannya menyelesaikan perbedaan pendapat tersebut, dia sampai pada kesimpulan bahwa kebenaran hanya dapat diperoleh semata-mata melalui penyelidikan rasional kedalam pengalaman empiris.

Kitab Al-Manazir (Optica Thesaurus, The View) adalah karyanya yang terbesar. Buku tersebut pada tahun 1572 Masehi diterjemahkan ke dalam Bahasa Latin dengan judul “A Repertoir in Optics”. Dengan buku tersebut Al-Haitsam meletakkan landasan bagi ilmu optik moderen.

Ketika buku tersebut ditulis, terdapat dua aliran pemikiran tentang bagaimana kontak antara mata dengan objek yang dilihat terjadi, yaitu:

  1. Teori Intromission, yang berpendapat bahwa objek memancarkan selaput tipis dan selaput itu sampai ke mata.
  2. Teori Extromission, yang berpendapat bahwa mata memancarkan api yang tak terlihat yang menyentuh objek penglihatan untuk mengungkapkan warna dan bentuk objek itu.

Al-Haitsam menjalaskan bahwa kita bisa melihat karena cahaya yang masuk ke mata kita. Pendapat ini terus dipercaya sampai sekarang.

Penyelidikan teoritis dan eksperimen yang dilakukan oleh Al-Haitsam dalam bidang optik lebih baik daripada yang telah ada sebelumnya pada saat itu. Ketika menyusun teori barunya yang radikal tentang cahaya dan penglihatan, ia mengemukakan suat metodologi ilmiah yang komprehensif tentang hubungan logika antara observasi, hipotesis dan verifikasi. Suatu gambaran khusus dari metodologi ini adalah penerimaannya terhadap eksperimen melalui manipulasi alat-alat buatan yang diciptakan.

Akhirnya, berbagai hal yang patut dicatat tentang Al-Haitsam antara lain adalah:

  1. Ia ilmuwan pertama yang mempergunakan matematika untuk menggambarkan dan membuktikan proses melihat.
  2. Ia dapat dipandang sebagai penemu Hukum Refraksi melalui temuannya berupa kamera lubang jarum yang dioperasikan tanpa lensa.
  3. Ia orang pertama yang melakukan percobaan tentang pembagian cahaya menjadi beberapa warna dan meneliti bayangan, pelangi dan gerhana.
  4. Dalam bidang matematika terkenal dengan analisis geometri dari cermin, terkenal dengan “the alhazen problem.”
  5. Dalam bidang astronomi ia menjelaskan tentang orbit planet yang kemudian mengilhami penelitian astronom Eropa seperti Copernicus, Galileo, Kepler dan Newton.
  6. Ia mempelajari densitas atmosfer dan mengembangkan hubungan antara densitas atmosfer dengan ketinggian. Hubungan itu memungkinkan ia memperkirakan ketinggian atmosfer. Menurutnya sekitar 100 km.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Referensi:

  • Jim Al-Khalili, Ilmuwan Tulen Pertama. [http://www.bbc.co.uk/indonesian/indepth/story/2009/01/090107_muslimscientists.shtml]
  • Bradley Steffen, Ibn Al-Haytham: first scientis. [http://www.bookrags.com/research/abu-ali-al-hasan-ibn-al-hasan-ibn-a-scit-021234/], [http://www.bookrags.com/biography/abu-ali-al-hasan-ibn-al-haytham/]
  • Eternal Egypt, Ibn Al-Haytham. [http://www.eternalegypt.org/EternalEgyptWebsiteWeb/HomeServlet?ee_website_action_key=action.display.element&story_id=&module_id=&language_id=1&element_id=1721&text=text]

Ditulis dalam Cara Bumi di Hidupkan, Sejarah | Bertanda: , , , , , , , , , , | Leave a Comment »