Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Arsip untuk Januari, 2009

Apa Arti “Indonesia” Bagi Kita?

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Januari31, 2009

Sebagai penduduk Indonesia, warga negara Indonesia dan orang yang dilahirkan di Indonesia, kata Indonesia telah sangat sering kita dengar. Sejak dari Taman Kanak-kanak kata itu telah diperkenalkan kepada kita oleh guru-guru kita, oleh orang tua kita dan oleh pemerintah kita. Karena sedemikian terbiasanya menyebut kata “Indonesia” dan mudah, sebagian besar dari kita lupa mencari arti dari kata “Indonesia” ini, atau para guru kita dan orang tua kita serta pemerintah kita lupa memberitahukan arti “Indonesia”.

Adakah kebanggaan bila kita menyebut “Indonesia” dihadapan bangsa lain? Banggakah kita menjadi Bangsa Indonesia? Ketidaksadaran kita tentang makna kata “Indonesia” mungkin menyebabkan tidak ada kebanggaan kita ketika menyebut “Indonesia”. Apa lagi bila ditambah dengan korupsi yang seakan membudaya di Indonesia dan sulit diberantas, dan kekeliruan dalam mengelola sumberdaya alam sehingga sumberdaya menjadi sumber bencana dan tidak mendatangkan kemakmuran.

Saya sangat bergembira ketika beberapa hari yang lalu mengetahui apa arti “Indonesia”. Tulisan dari Azyumardi Azra yang berjudul Ide Indonesia di dalam rubrik Resonansi di Harian Republika, Kamis tanggal 29 Januari 2009 telah menyadarkan saya akan arti “Indonesia”.

Dengan harapan bahwa manfaat yang saya rasakan juga dapat dirasakan oleh para hadirin pengunjung blog ini, maka saya memuat kembali tulisan tersebut dengan sedikit modifikasi dengan menambahkan judul-judul kecil. Teriring juga permohonan izin saya kepada Republika atas pemuatan tulisan tersebut.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

———————————

Indonesia Sebuah Mukjizat

Indonesia bagi banyak Indonesianis asing dari dulu sampai sekarang adalah sebuah ‘mukjizat’ (miracle). Mengapa? Tidak lain karena bagi mereka sulit membayangkan Indonesia yang begitu luas dan jarak bentangannya sama dengan antara London dan Istanbul, bisa bertahan dalam satu kesatuan negara-bangsa.

Lihat, berapa banyak negara-bangsa yang ada di kawasan antara London dan Istanbul. Padahal, wilayah tersebut merupakan daratan yang menyatu dengan masyarakat yang relatif homogen, baik secara kultural maupun agama.

Tidak hanya itu, Indonesia adalah negara kepulauan; istilah benua maritim yang belakangan ini dipopulerkan, sementara sebenarnya tidak dapat menutupi kenyataan bahwa wilayah Indonesia sesungguhnya terpisah satu sama lain oleh lautan dan selat yang demikian banyak. Hasilnya, Indonesia merupakan negara yang memiliki banyak kelompok etnis lengkap dengan sistem sosial, budaya, dan bahasanya masing-masing.

Siapa Penemu “Indonesia?”

Maka itu, Indonesia adalah sebuah penemuan politik (political invention) yang agaknya terbesar sepanjang abad ke-20. Dan, itu dimulai secara ‘relatif sederhana’ ketika beberapa pengembara dan ilmuwan ingin menemukan nama yang lebih pas untuk kepulauan Nusantara. Sebagaimana diungkapkan sejarawan Australia, RE Elson, dalam The Idea of Indonesia: A History (Cambridge, 2008), tidak ada seorang pun yang dapat memberikan nama yang pasti bagi kawasan ini sampai awal abad ke-20.

Beragam sebutan diberikan kepada kepulauan Nusantara. Para pengembara Asia menyebutnya sebagai wilayah ‘Laut Selatan’ atau ‘Kepulauan Timur’. Sedangkan sumber-sumber Arab, menyebutnya sebagai ‘negeri bawah angin’ dan kemudian sebagai ‘negeri bangsa Jawi’. Pengembara dan administratur Belanda kemudian menyebutnya sebagai Indies, Hindia Timur, Hindia Belanda, Insulinde, dan Nederland Tropis.

Menurut Elson, kata ‘Indonesia’ pertama kali dibuat (manufactured) pada 1850 oleh pengembara dan pengamat sosial Inggris, George Samuel Windsor-Earl, dalam bentuk ‘Indu-nesia’. Temuan ini kemudian diperkuat rekannya, James Logan, yang memandang istilah ‘Indonesia’ tepat sebagai istilah geografis, tapi tidak untuk kepentingan etnografis. Tetapi, pada 1877, istilah ‘Indonesia’ digunakan antropolog Prancis, ET Hamy, untuk mengacu kepada kelompok rasial yang mendiami kepulauan ini. Dan, sejak itu, berbagai ilmuwan, antara lain, mulai dari antropolog Inggris, AH Keane; linguis Inggris, NH Dennys; etnografer Jerman, Adolf Bastian; etnolog Belanda, GA Wilken; linguis Belanda, H Kern; sampai penasihat Belanda, Snouck Hurgronje, menggunakan nama ”Indonesia” untuk mengacu kepada wilayah dan penduduk Kepulauan Nusantara.

Berkah Sebuah Nama

Makin meluasnya penggunaan nama Indonesia, tidak bisa dielakkan lagi segera menimbulkan banyak implikasi politis. Sebagian wilayahNusantara yang memang sudah relatif menyatu karena fluiditas hubungan antar pulau berkat penyebaran Islam, menjadi lebih terintegrasi dalam kerangka ”Indonesia” . Namaboleh saja ditemukan orang asing, tetapi masyarakat di Kepulauan Nusantara memperoleh berkah dengan adanya kini sebuah nama untuk mengacu kepada wilayah geografis yang mereka diamibersama, sekaligus sebagai ”bangsa” yang mereka bayangkan–apa pun bentuk akhirnya ”Indonesia” . Inilah ide Indonesia yang betapa pun mungkin samarnya yang mengikat berbagai daerah, suku, dan tradisi ke dalam sebuah kerangka kebersamaan jika belum lagi kesatuan.

Berjuang Sepanjang Waktu

Momentum bagi pemaknaan politis ‘Indonesia vis-vis kekuasaan kolonial Belanda’ sudah kita ketahui, dengan munculnya gerakan-gerakan nasional yang berorientasi nasional keindonesiaan sejak dari Sarekat Islam, Budi Utomo, sampai kebangkitan Sumpah Pemuda 1928 yang mengukuhkan ide Indonesia. Dan, perwujudannya dalam bentuk negara-bangsa masih memerlukan perjalanan panjang , melewati Perang Dunia II. Begitu kemerdekaan tercapai, perjalanan mengindonesia di tangan Bangsa Indonesia sendiri terbukti bukanlah hal mudah.

Ide tentang Indonesia boleh jadi meningkat dan menyurut sesuai situasi tertentu. Dan, boleh jadi juga, eksistensi Indonesia itu terancam berbagai perubahan, baik di dalam ide tentang Indonesia itu sendiri maupun di lingkungan luar yang lebih luas. Sehingga, berbagai perubahan itu mendatangkan banyak kecemasan di dalam dan di luar negeri tentang kelanjutannya. Namun, Indonesia berhasil bertahan, ketika kalangan luar memprediksikan skenario Balkanisasi negara-bangsa ini berikut dengan jatuhnya presiden Soeharto dari kekuasaannya pada Mei 1998. Sekali lagi, perjalanan mengejawantahkan ide Indonesia tidak akan pernah selesai. Oleh karena itu, sepatutnya setiap dan seluruh warga tidak memperlakukan Indonesia secara taken for granted.

Ditulis dalam Dari Indonesia untuk Dunia | Bertanda: , , | Leave a Comment »

13 Jan 2009, Selasa, Banjir Pasang Surut Melanda Jakarta

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Januari13, 2009

Pagi ini, selasa 13 Januari 2007 bertepatan tanggal 16 hari bulan, banjir pasang surut kembali melanda Jakarta bagian utara dengan lebih hebar dari kemaren. Di jalan masuk Ancol timur yang dapat saya amati, air mulai naik ke jalan sekitar jam 09.00.  Air naik demikian cepat. Sekarang jam 09.50 air telah merambah kemana-mana mencapai halaman parkit di depan kantor saya dan mencapai lantai lobi depan. Di bunderan depan pintu masuk Kawasan Wisata Ancol air mencapai ketinggian setengah liungkaran roda sepeda motor. Di bagian Jakarta Utara yang lain, saya dengan di radio air telah mulai naik lebih awal dan mengganggu perjalanan kereta api ke  Stasiun Kota.

Bila kemarin air tampoak jernih, kali ini air tampak keruh. ini menunjukkan adanya campuran air hujan yang datang melalui aliran sungai.

Banjir hari ini di Ancol lebih hebat dari kemarin. Dengan demikian dapat dipastikan bahwa di bagian-bagian lain dari Jakarta bagian utara yang kemaren ikut tergenang sekarang ini mengalami genangan yang lebih dalam, dan areal genangan juga lebih luas.

Pertanyaannya, sampai kapan banjir periode ini berlangsung? Saya perkirakan besok masih terjadi dengan kondisi yang lebih ringan.

Jam 10.15

Air banjir masoih terus naik. Barusan ada pengumuman melalui pengeras suara di kantor agar seluruh pegawai yang menempati lantai dasar agar mengamankan barang-barangnya.

Real parkir di sebelah timur kantor yang tinggi sudah mulai digenangi air.

Jam 11.15

Air hampir mencapai puncak . Pelataran parkir di sebelah timur kantor tergenang 10 sampai 20 cm. Teras di kantor tergenang air. Hampir masuk ke dalam kantor.

Jam 12.00

Air yang terus naik akhirnya masuk ke lantai dasar kantor. Jam 12.15 air di dalam mencapai 3 cm.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , | Leave a Comment »

Siklus Bencana Alam di Indonesia

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Januari13, 2009

Bencana alam adalah fenomena yang sangat biasa bagi sebagian besar penduduk Indonesia. Sepanjang tahun dapat dipastikan bencana alam itu pasti datang silih berganti. Hal itu dapat terjadi karena karakteristik Kepulauan Indonesia yang unik, yaitu karena: (1) terletak di daerah tropis, (2) terletak di antara dua samudera, (3) terletak di antara dua benua, dan (4) kondisi fisik yang berupa pulau-pulau baik besar maupun kecil dengan kondisi geomorfologi yang bervasiasi dari lahan basah di dekat pantai sampai pegunungan berlereng terjal.

Kondisi Berulang

Letak Kepulauan Indonesia di daerah tropis menyebabkan Matahari selalu berada di atasnya dan dilintasi Matahari ketika bergerak dari posisinya di belahan Bumi bagian utara ke belahan Bumi bagian selatan dan sebaliknya.

Perubahan posisi Matahari yang bergerak pulang balik tersebut di atas mempengaruhi perubahan temperatur udara di Benua Asia dan Australia yang mengapit Kepulauan Indonesia. Perubahan tersebut selalu berulang sepanjang tahun seiring dengan pergerakan Matahari yang telah disebutkan di atas. Ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian selatan, daratan di Benua Australia lebih panas daripada daratan di Benua Asia, sehingga terjadi gerakan udara dari Benua Asia ke Benua Australia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi apa yang dikenal sebagai Musim Angin Barat, seperti yang sedang terjadi sekarang ini. Sebaliknya, ketika Matahari berada di belahan Bumi bagian utara, daratan Benua Asia lebih panas daripada daratan Benua Australia, sehingga terjadi gerakan angin dari Benua Australia ke Benua Asia. Di kawasan Kepulauan Indonesia secara umum pada saat itu terjadi Musim Angin Timur.

Pada saat Musim Angin Barat, di Kepulauan Indonesia juga terjadi Musim Hujan dengan curah hujan yang tinggi. Sebaliknya, pada saat Musim Angin Timur di Kepulauan Indonesia terjadi musim kering atau kemarau.

Selain kondisi yang berulang tahunan itu, ada kondisi yang berulang bulanan, yaitu kondisi pergantian antara Bulan Purnama dan Bulan Mati.

Bencana Terkait

Gelombang Tinggi

Bencana ini muncul setiap tahun berkaitan dengan musim angin yang bertiup kencang. Bencana ini terjadi di pantai-pantai yang berhadapan dengan arah datangnya angin. Bila Musim Angin Barat, maka pantai-pantai yang terbuka dari arah barat yang terkena. Demikian pula sebaliknya bila Musim Angin Timur maka pantai-pantai yang terbuka dari arah timur yang kena.

Banjir

Bencana ini muncul setiap tahun tatkala Musim Hujan tiba dengan curah hujan yang tinggi. Bencana ini melanda dataran rendah di sekitar aliran sungai atau di dataran banjir atau di pemukiman yang buruk sistem drainasenya. Di daerah pesisir, genangan banjir ini dapat saling memperkuat dengan banjir karena pasang surut. Daerah yang terkena bencana banjir ini dapat meluas dan banjir dapat makin hebat seiring dengan kerusakan di daerah aliran sungai atau kerusakan lingkungan.

Banjir Pasang Surut (Rob)

Bencana ini muncul berkaitan dengan siklus gerak bulan. Dengan demikian banjir ini berulang bulanan. Daerah yang terkena bencana ini adalah dataran pantai di daerah pesisir yang rendah atau daerah rawa-rawa pantai. Genangan banjir ini dapat diperkuat dengan banjir karena curah hujan. Jadi, banjir ini dapat terjadi lebih hebat di saat musim hujan.

Kekeringan

Bencana ini muncul setiap tahun pada saat Musim Kering atau Kemarau. Daerah-daerah yang terkena bencana ini adalah daerah-daerah yang kondisi sumberdaya air tawarnya terbatas dan bercurah hujan rendah. Daerah yang terkena bencana ini makin meluas seiring dengan terjadinya kerusakan lingkungan.

Tanah Longsor

Bencana tanah longsor atau gerakan tanah terjadi setiap tahun bertepatan dengan Musim Hujan. Daerah-daerah yang terancam oleh bencana ini adalah daerah pegunungan atau perbukitan yang berlereng terjal. Bencana ini dapat makin hebat seiring dengan meningkatnya kerusakan lingkungan di sekitarnya.

Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dapat terjadi setiap tahun pada saat Musim Kemarau. Di Indonesia, munculnya bencana ini berkaitan erat dengan cara pembukaan lahan yang dilakukan dengan membakar. Bencana ini umumnya terjadi di Pulau Sumatera dan Kalimantan.

Siklus Bencana

Bila kita cermati waktu-waktu terjadinya bencana alam tersebut di atas, maka kita dapat menggambarkan suatu siklus bencana alam di Indonesia dalam periode satu tahun. Siklus itu berjalan sesuai dengan berjalannya perubahan musim yang disebabkan oleh perjalanan Matahari berpindah dari langit belahan Bumi bagian utara ke selatan atau sebaliknya.

Penutup

Sebagai penutup dapat kita katakan bahwa ada bencana alam yang terjadi berulang di Indonesia setiap tahun. Kita dapat memperkirakan rentang waktu terjadinya, dan kawasan yang akan mengalami bencana itu. Menghadapi bencana-bencana itu, pemetaan daerah-daerah yang mungkin terkena bencana-bencana itu merupakan salah satu langkah yang penting.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , , , | 2 Komentar »

12 Jan 2009, Senin, Banjir Pasang Surut Melanda Jakarta

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Januari12, 2009

Hari ini Senin tanggal 12 Januari 2009, bertepatan dengan tanggal 15 hari bulan. Saat ini adalah saat bulan purnama, nanti malam.

Siang ini, banjir pasang surut mulai melanda Jakarta bagian utara. Dari pengamatan di Ancol bagian timur, saat ini jam 12.42 air pasang terlihat masuk ke melalui jalan masuk  kawasan wisata pantai Ancol. Tampak air mengalir masuk melewati bagian jalan yang ditinggikan.

Hari ini Jakarta memang kelabu oleh mendung. sejak pagi.  Tadi pagi hujan sebentar dan tidak deras. Sampai jam 11 tadi udara di luar masih cukup hangat. Air yang masuk dan naik melalui jalan itu, yang kehadirannya tidak disertai hujan, menunjukkan bahwa air itu adalah air pasang dari laut yang naik.

Sekarang jam 12.46. Air laut masih terus meninggi. Kenderaan yang lewat di jalan masuk Ancol itu sudah mulai terganggu. Ketinggian air sudah mencapai mesin sepeda motor.

Banjir seperti ini pernah terjadi pada tahun 2007 yang lalu. Ketika itu air datang menyusul hujan yang turun lebat beberapa jam sebelumnya.

Sekarang ini, banjir pasang datang tanpa disertai hujan. Sementara itu, Jakarta tampak kelabu karena mendung yang menggantung. Bila saat ini turun hujan lebat, maka genangan air yang datang dari pasang surut akan ditambah dengan air yang datang dari hujan lelalui aliran sungai. Bila itu terjadi dalam dua tiga jam ini sebelum pasang menjadi surut, maka Jakarta bagian utara akan mengalami banjir yang cukup parah.

Tentang pasang surut, saat ini posisi bulan sedang berada di belahan bumi di seberang posisi Indonesia. Nanti malam, bulan purnama baru akan nampak di langit Indonesia dan akan berada di titik kulminasi tengah malam. Karena itu, dapat diprediksi bahwa banjir pasang surut yang terjadi seperti siang ini akan terulang lagi besok.

Jam 14.15

Genangan banjir mulai surut.

Banjir pasang surut yang saya lihat dari jendela ruang kerja tadi ternyata hanya terbatas pada bagian jalan yang sedikit agak rendah. Air menggenang hanya di sekitar bundaran di depan pintu masuk Ancol bagian timur. Belum sampai melanda perkantoran di sekitarnya. Meskipun demikian, kondisi yang tampaknya sepele itu bagi Ancol, bagi kawasan lain di Jakarta bagian utara mungkin lain. Hal itu karena di kawasan wisata Ancol saat ini sudah dibuat sedemikian rupa sistem drainase yang dilengkapi dengan tanggul dan rumah pompa untuk memompa air laut yang masuk ke kawasan Ancol kembali ke luar. Logikanya, di kawasan yang sudah dolengkapi dengan pompa saja masih bisa tergenang (meski sedikit), maka bagaimana dengan kawasan rendah lainnya yang tidak dilengkapi dengan pompa air?

Ah, iya. Pada bulan yang lalu, pada saat air laut pasang saya melintas di pinggir danau Ancol. Saya melihat air naik ke jalan masuk melalui saluran drainase. Pelataran pasir tergenang. Di danau itu ada tugu. Jalan yang menghubungkan tugu tersebut dengan daratan ketika itu sudah tergenang air laut yang pasang. Saya ingat. Dahulu di tahun 1978  saya pernah ke tugu itu. Masih ada kolong antara jembatan dan air danau. Sekarang, jalan penghubung itu tergenang. Siang tadi ketika air pasang naik, saya kira kawasan di sekitar danau Ancol itu kembali tergenang. Saya tidak melihatnya, dan hanya memperkirakan berdasarkan pengalaman bulan sebelumnya itu.

Lalu, apa arti dari semua itu? Logika sederhana adalah bahwa bila kita membangun sesuatu tentu kita berusaha untuk lebih tinggi dari kemungkinan genangan air. Sekarang, bila daerah tempat kita membangun itu telah tergenang air, tanggul terus dibangun dan rumah pompa air juga dibangun serta lantai lahan ditinggikan, maka artinya adalah daerah tempat kita itu telah mengalami subsiden atau penurunan permukaan tanah. Itulah yang sekarang ini terjadi di Ancol dan Jakarta bagian utara umumnya seperti di Kawasan Pelabuhan Tanjung Priok, Kawasan Perdagangan Mangga Dua, Kawasan Pelabuhan Muara Baru.

Semoga bermanfaat.

Salam,

Wahyu

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Pasang surut, Wilayah Pesisir | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »