Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Arsip untuk Juni 5th, 2008

MBG: Banjir Pasang-surut dan Subsiden

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni5, 2008

Banjir pasang-surut adalah banjir yang terjadi karena naiknya air laut dan menggenangi daratan ketika air laut mengalami pasang. Subsiden adalah turunnya muka tanah karena beban fisik di atasnya.

4.4.1. Pencetus

Pasang-surut air laut adalah faktor utama yang mencetuskan banjir ini. Namun demikian, untuk kondisi atau tempat tertentu, yaitu di daerah terbangun, banjir pasang surut ini terjadi menyusul subsiden yang terjadi di tempat tersebut. Hal itu terutama terjadi di kota-kota pesisir seperti Jakarta dan Semarang.

Subsiden dapat terjadi di lahan-lahan pesisir yang terbentuk karena proses fluvial atau proses marin yang mendapat beban fisik yang diatasnya.

4.4.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Banjir pasang-surut terjadi karena air laut naik ketika pasang. Kenaikan air laut terjadi perlahan-lahan sesuai dengan gerak pasang air laut. Ketinggian air banjir sesuai dengan ketinggian air laut pasang. Selanjutnya genangan banjir ini bergerak turun ketika air laut bergerak turun. Selain itu, waktu kedatangan dan ketinggian banjir ini berubah-ubah mengikuti irama pasang-surut air laut.

Subsiden terjadi perlahan-lahan dan sering tidak dirasakan secara langsung. Terjadinya subsiden baru disadari setelah terlihat tanda-tanda perubahan fisik pada bangunan yang dibangun di atas lahan yang mengalami subsiden itu.

4.4.3. Prediktabilitas

Waktu kejadian banjir pasang-surut dapat diprediksi sebagaimana prediksi pasang-surut dapat dilakukan. Demikian pula dengan luas daerah genangan atau daerah-daerah yang akan tergenang pada suatu waktu tertentu dapat diprediksi berdasarkan prediksi ketinggian air laut pasang. Terkait dengan prediksi pasang-surut, institusi yang menerbitkan prediksi pasang-surut tahunan di Indonesia adalah Jawatan Hidro-oseanografi TNI-AL (Janhidros).

Terjadinya subsiden dapat diprediksi dengan melakukan analisis kondisi geologi suatu daerah.

4.4.4. Durasi

Lama genangan banjir pasang-surut hanya beberapa jam sesuai dengan waktu gerak pasang-surut air laut. Selanjutnya, karena pola kejadian banjir ini mengikuti pola pasang-surut maka kejadian banjir pasang-surut akan terus berulang sebagaimana berulangnya peristiwa pasang-surut air laut sepanjang waktu.

Subsiden yang terjadi karena beban fisik kan berlangsung terus tanpa batas waktu tertentu selama beban fisik masih berada di atasnya.

4.4.5. Areal terganggu

Areal genangan banjir pasang-surut adalah daerah-daerah rawa pantai atau dataran rendah tepi pantai. Luas daerah yang tergenang oleh banjir pasang-surut ini ditentukan oleh ketinggian air laut pada saat pasang. Terkait dengan subsiden, luas daerah genangan banjir pasang-surut akan bertambah luas bila daerah di sekitar daerah genangan tersebut terjadi subsiden. Selain itu perlu juga ketahui bahwa karena beban bangunan fisik, daerah-daerah dekat pantai yang semula bukan daerah banjir dapat berubah menjadi daerah banjir karena subsiden.

4.4.6. Aktifitas mitigasi

Banjir pasang-surut tidak dapat dicegah atau dihentikan terjadinya. Bila dilihat dari akar persoalannya, banjir pasang surut yang menimpa manusia sebenarnya terjadi karena manusia gagal membaca karakter daerah pesisir ketika pembangunan dimulai, yaitu bahwa daerah-daerah daratan tepi pantai yang terbentuk karena proses fluviatil atau marin akan mengalami subsiden bila mendapat beban fisik di atasnya.

Untuk daerah-daerah yang telah terlanjur menjadi daerah genangan banjir pasang-surut tidak ada tindakan yang dapat membebaskan daerah tersebut secara permanen dari banjir itu. Upaya pembuatan tanggul di sepanjang pantai atau meninggikan daerah genangan dengan cara menimbun hanya membebaskan daerah genangan banjir untuk sementara, karena subsiden akan terus berlangsung.

Menghadapi karakter persoalan yang demikian, upaya yang perlu dilakukan untuk menghindar dari bahaya banjir pasang surut ini adalah dengan memetakan daerah-daerah pesisir yang rentan terhadap ancaman banjir dan subsiden, terutama di daerah-daerah yang berdekatan dengan daerah perkotaan atau pemukiman. Dengan adanya peta daerah ancaman bahaya tersebut diharapkan penduduk atau pengambil keputusan dapat menghindari untuk melakukan pengembangan atau pembangunan fisik di daerah rawan itu. Prinsipnya, upaya mitigasi dilakukan untuk mencegah penduduk atau pemerintah melakukan pembangunan fisik di daerah berpotensi subsiden.

Bagi daerah terbangun yang mengalami banjir pasang-surut dan subsiden, hanya tersedia dua alternatif pilihan, yaitu meninggalkan daerah bencana itu, atau menanggung biasa perawatan bangunan selamanya.

Kembali

Ditulis dalam Banjir, PROSES (BENCANA) ALAM, Subsiden | Bertanda: , , , | 3 Komentar »

MBG: Erosi Pantai

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni5, 2008

Erosi pantai adalah proses terkikisnya material penyusun pantai oleh gelombang dan material hasil kikisan itu terangkut ke tempat lain oleh arus. Dari sudut pandang keseimbangan interaksi antara kekuatan-kekuatan asal darat dan kekuatan-kekuatan asal laut, erosi pantai terjadi karena kekuatan-kekuatan asal laut lebih kuat daripada kekuatan-kekuatan asal darat.

4.3.1. Pencetus

Aktifitas gelombang di pantai adalah faktor utama yang aktif menyebabkan erosi pantai. Dengan demikian, tiupan angin menjadi faktor penting yang menentukan terjadi atau tidaknya erosi pantai di tempat-tempat atau segmen-segmen pantai tertentu dan pada musim-musim tertentu. Arah angin menentukan segmen-segmen pantai yang akan tererosi, sedang kecepatan angin dan “fetch” menentukan kekuatan gelombang yang terbentuk dan memukul ke pantai.

Arus dekat pantai menentukan arah pergerakan muatan sedimen di sepanjang pantai. Arus itu memindahkan muatan sedimen dari satu tempat ke tempat lain di sepanjang pantai atau membawa muatan sedimen dari satu sel pantai ke sel pantai yang lain atau membawa muatan sedimen keluar ke perairan lepas pantai. Pola arus dekat pantai perkembangannya ditentukan oleh gelombang yang bergerak menghampiri pantai. Dengan demikian, faktor angin juga secara tidak langsung mempengaruhi transportasi muatan sedimen.

4.3.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Erosi pantai berlangsung perlahan dan menerus. Laju erosi pantai ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain orientasi garis pantai, konfigurasi garis pantai, batuan penyusun pantai, arah dan kecepatan angin, serta aktifitas manusia. Dalam satu siklus musim, erosi pantai yang paling efektif atau laju erosi yang tinggi terjadi pada saat angin kencang bertiup dengan arah tegak lurus atau menyerong terhadap orientasi garis pantai. Di Indonesia, erosi yang efektif terjadi pada saat musim barat dan musim timur. Selain itu laju erosi dapat mengalami perlambatan bila konfigurasi garis pantai mencapai kondisi keseimbangan tertentu dimana energi gelombang tidak dapat menggerus lagi material penyusun pantai atau transportasi muatan sedimen yang masuk dan keluar dalam satu siklus musim sama volumenya. Pada prinsipnya erosi pantai pantai di suatu segmen pantai tertentu tidak dapat dihentikan sebelum kondisi keseimbangan tersebut tercapai. Dengan kata lain, erosi pantai akan terus berlangsung selama kondisi keseimbangan konfigurasi garis pantai belum tercapai.

4.3.3. Prediktabilitas

Erosi pantai dapat diprediksi kejadiannya berdasarkan pada pola arah angin dan kecepatan angin yang terdapat disuatu kawasan, orientasi garis pantai, konfigurasi garis pantai, dan material penyusun pantai. Tempat atau lokasi erosi terjadi tetap sepanjang waktu, dan waktu erosi berlangsung pun tetap pada musim-musim tertentu. Prediksi arah tiupan angin dan kecepatannya (Gambar 8) dan arah angin dan tinggi gelombang yang ditimbulkannya (Gambar 9) dipublikasikan oleh BMG.

4.3.4. Durasi

Dalam skala waktu besar, jangka panjang, erosi pantai berlangsung terus menerus sampai kondisi keseimbangan konfigurasi garis pantai tercapai atau keseimbangan berubah karena perubahan kondisi lingkungan dari faktor-faktor yang mempengaruhinya. Dalam jangka pendek, temporer, erosi pantai terjadi pada saat musim angin tertentu berlaku, dan berhenti ketika musim berganti.

4.3.5. Areal terganggu

Ketika erosi pantai berlangsung, erosi hanya mengenai garis pantai dari segmen pantai yang tererosi. Laju erosi yang terjadi menentukan berapa lebar lahan tepi pantai yang hilang tererosi dalam suatu jangka waktu tertentu. Untuk jangka panjang, membicarakan masalah erosi yang terjadi di suatu segmen pantai berarti membicarakan kemungkinan luas lahan pantai yang akan hilang pada suatu periode waktu tertentu. Dengan kata lain, berbicara masalah erosi untuk jangka panjang berarti membicarakan lahan pantai yang terancam hilang oleh erosi.

4.3.6. Aktifitas mitigasi

Di depan telah disebutkan bahwa pada dasarnya erosi pantai tidak dapat dihentikan. Oleh karena itu, aktifitas mitigasi bencana erosi hanya dapat memperlambat laju erosi dan mencegah terjadinya kerugian materil karena erosi.

Upaya untuk memperlambat laju erosi dapat dilakukan dengan membangun bangunan teknik di pantai untuk memperkuat garis pantai, dan menangkap sedimen (metode teknik pantai), atau untuk mempertahankan konfigurasi pantai yang dapat menstabilkan garis pantai seperti memperkuat “headland” (metode geomorfologi); mengatur penggunaan lahan atau membuat zonasi penggunaan lahan tepi pantai agar tidak terdapat aktifitas manusia yang memperlemah batuan penyusun pantai (metode tataguna lahan).

Upaya untuk mencegah terjadinya kerugian materi dapat dimulai dengan memetakan segmen-segmen pantai yang rentan terhadap erosi dan membuat zonasi ancaman bahaya erosi. Dengan zonasi itu diharapkan penduduk dapat memilih lokasi yang aman untuk membangun rumah atau melakukan berbagai aktifitas, dan pemerintah dapat memilih lokasi aman untuk membangun berbagai infrastruktur.

Kembali

Ditulis dalam Erosi, PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , , , , , | 2 Komentar »