MBG: Tsunami
Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni4, 2008
Tsunami adalah fenomena gelombang laut raksasa yang melanda ke daratan. Gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan mencapat 950 km/jam dan tinggi gelombang di perairan dangkal dapat mencapai 30 m.
4.1.1. Pencetus
Tsunami dapat terjadi karena gangguan berskala besar di laut (gempa bumi atau longsor) atau erupsi letusan gunungapi di bawah laut (Skinner dan Porter, 2000). Gempa bumi atau longsor di bawah laut yang mencetuskan tsunami berasosiasi dengan palung laut dalam yang terbentuk pada sistem penunjaman lempeng kerak bumi yang melibatkan dua lempeng kerak bumi (kerak samudera dan kerak benua) yang berinteraksi secara konvergen. Sumber-sumber gelombang tsunami yang melanda Kepulauan Indonesia dapat berasal dari sekitar Kepulauan Indonesia (tsunami lokal) dan dapat pula dari sumber-sumber yang jauh dari kawasan Samudera Hindia maupun Pasifik.
4.1.2. Karakter kedatangan atau kejadian
Tsunami datang dengan sangat cepat. Tsunami yang terjadi karena gempa datang setelah gempa terjadi, sedang yang terjadi karena erupsi letusan gunungapi terjadi setelah erupsi letusan itu. Secara visual, kedatangan tsunami ditunjukkan oleh fenomena surutnya air laut yang luar biasa menyusul gempa yang terjadi.
4.1.3. Prediktabilitas
Sampai sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi belum dapat memprediksi saat terjadinya gempa dan erupsi gunungapi. Oleh karena itu, kejadian tsunami juga tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya.
4.1.4. Durasi
Tsunami melanda daratan sangat cepat dan air laut yang naik ke daratan itu segera kembali surut dalam hitungan puluhan menit.
4.1.5. Areal terganggu
Areal yang terganggu oleh gelombang tsunami dapat sangat luas. Hal ini tergantung pada ketinggian gelombang tsunami serta kondisi morfologi daratan pesisir yang dilanda oleh tsunami. Selain itu, panjang garis pantai yang dilanda tsunami juga dapat sangat panjang ratusan kilometer. Pelajaran dapat kita ambil dari kejadian tsunami 26 Desember 2004 yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Air laut karena tsunami masuk ke daratan sampai sejauh 3,5 km di Banda Aceh karena lahan pesisir kawasan itu yang datar. Sementara itu dari tsunami yang terjadi di Biak tahun 1996, tsunami hanya melanda daerah tertentu di dekat pantai yang rendah dan darat yang merupakan lembah sungai seperti di daerah Korem, Biak Utara. Hanya sedikit daerah pantai yang terlanda tsunami karena sebagian besar daerah pantai merupakan daratan yang tinggi dengan morfologi bertebing (Setyawan dan Witasari, 2004).
Kehadiran sistem pertahanan pantai alamiah dapat mengurangi kekuatan gelombang tsunami yang melanda ke daratan, sehingga dapat mempersempit luas areal yang terganggu. Pengamatan di Taman Nasional Yala dan Bundala di Sri Lanka menunjukkan bahwa terumbu karang, mangrove, bukit pasir dan berbagai ekosistem lain seperti rawa gambut dapat memberikan perlindungan terhadap daratan pesisir dari gelombang tsunami dengan mengurangi energi gelombang tsunami (Srinivas, tanpa tahun).
4.1.6. Aktifitas mitigasi
Mempertimbangkan karakter tsunami di atas maka upaya mitigasi bencana tsunami yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri menghadapi tsunami yang datang sewaktu-waktu. Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan adalah:
a) Memetakan kawasan-kawasan yang mungkin terkena bencana tsunami. Penentuan daerah-daerah yang rawan bencana tsunami itu dapat dilakukan dengan memperhitungkan posisi pantai terhadap letak-letak tempat yang mungkin menjadi sumber tsunami, yaitu sistem penunjaman dan gunungapi bawah laut seperti yang telah dilakukan oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) (2007) (Gambar 1). Selanjutnya, di daerah-daerah rawan tsunami itu dibuat peta yang lebih detil, yaitu memetakan zona-zona bahaya dan zona aman dengan mempertimbangkan ketinggian gelombang tsunami yang mungkin terjadi dan kondisi mofologi daerah pesisir.
b) Membangun akses dari zona bahaya ke zona aman sebagai jalan untuk menyelamatkan diri bila tsunami benar-benar datang; atau membangun tempat-tempat pelarian di zona bahaya berupa konstruksi bangunan yang cukup tinggi untuk menghindari tsunami yang mungkin melanda.
c) Memberikan pembelajaran publik tentang karakteristik tsunami berkaitan dengan faktor-faktor pencetus dan tanda-tanda kedatangannya yang dapat dilihat di daerah pesisir.
d) Untuk tsunami yang datang dari sumber-sumber yang jauh, sistem peringatan dini sangat bermanfaat dikembangkan sebagai upaya mitigasi. Untuk kebutuhan masyarakat international, IOC (Intergovernmental Oceanographic Commission), salah satu badan yang bernaung di bawah UNESCO telah mengembangkan sistem peringatan dini tentang kemungkinan terjadinya tsunami untuk berbagai kawasan (UNESCO/IOC, 2007) yang disebarkan melalui e-mail (Gambar 2). Untuk kebutuhan nasional, BMG juga telah mempunyai sistem peringatan dini yang disebarkan melalui website maupun sms (Gambar 3).
e) Memberikan pembelajaran publik tentang perlunya menjaga ekosistem pesisir dan peduli terhadap bahaya dari laut sehingga memilih tempat pemukiman yang aman. Pengalaman dari tsunami 26 Desember 2004 yang melanda berbagai negara di sekitar Samudera Hindia itu menunjukkan bahwa tsunami hanya memberikan dampak yang kecil terhadap kawasan-kawasan yang ekosistem pesisirnya terlindungi dan masyarakat lokal peduli akan bahaya dari laut (Srinivas, tanpa tahun).

