Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

Arsip untuk Juni 4th, 2008

MBG: Gelombang Tinggi

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni4, 2008

Gelombang tinggi adalah fenomena gelombang laut yang terjadi karena tiupan yang kencang atau angin badai, yang ukurannya di atas ukuran gelombang normal, yang melanda ke daratan. Di Indonesia, secara umum masyarakat menyebutnya sebagai gelombang pasang. Pariwono (2007) menyebutnya sebagai gelombang tinggi.

4.2.1. Pencetus

Fenomena gelombang tinggi ini terjadi karena tiupan angin yang kencang atau badai di laut. Gelombang tinggi ini muncul pada saat angin kencang atau badai berlangsung dan reda ketika angin berlalu. Di Indonesia gelombang tinggi dapat muncul dari arah Samudera Hindia atau Pasifik bila terjadi siklon di kawasan kedua samudera tersebut. Secara lokal, gelombang tinggi dapat muncul pada saat bertiupnya angin monsoon, yang di Indonesia dikenal adanya musim barat dan musim timur.

4.2.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Gelombang tinggi yang terjadi karena tiupan angin monsoon kedatangannya diawali dengan tiupan angin dengan arah kedatangan gelombang sesuai dengan arah angin pada musim yang bersangkutan. Sementara itu, bila gelombang tinggi datang dari samudera maka kedatangannya bisa tidak disertai angin dan arah kedatangan gelombang sesuai dengan arah posisi angn siklon yang berlangsung. Kedatangannya cepat.

4.2.3. Prediktabilitas

Kedatangan gelombang tinggi ini dapat diprediksi, baik waktu maupun tempat kejadian. Gelombang akan terjadi pada saat yang bersesuaian dengan musim angin yang terkait. Berkaitan dengan prediksi waktu kedatangan gelombang, baik itu gelombang tinggi maupun siklon, BMG telah membangun sistem informasi yang menyebarkan informasi gelombang dan siklon melalui website (Gambar 4). Contoh tampilan format prediksi gelombang tinggi dapat dilihat pada Gambar 5, dan tampilan website tentang kejadian siklon tropis disajikan dalam Gambar 6. Catatan riwayat terjadinya gelombang ini di suatu kawasan adalah informasi penting yang harus diperhatikan.

4.2.4. Durasi

Gelombang tinggi yang naik ke daratan berlangsung selama beberapa jam. Menurut laporan, gelombang naik ke daratan berlangsung sampai selama 3 jam (Anonim-Ant, 2007).

4.2.5. Areal terganggu

Areal yang dilanda oleh gelombang tinggi ini berupa jalur sempit di tepi pantai, dan panjang garis pantai yang dilanda gelombang ini tergantung pada posisi sumber gelombang terhadap garis pantai. Bila gelombang berasal dari siklon yang terbentuk di samudera maka daerah pesisir yang terkena terpaan gelombang yang berasal dari samudera itu dalam satu kejadian sangat panjang. Pada peristiwa yang terjadi di bulan Mei 2007, dilaporkan bahwa gelombang menerpa daerah pesisir yang menghadap ke Samudera Hindia mulai dari Sumatera, Jawa, Bali sampai Nusa Tenggara (Flores) (Anonim-BBC, 2007). Di samping itu juga dilaporkan bahwa, gelombang dapat naik ke daratan sampai sejauh 300 m (Anonim-Rep, 2007). Sementara itu, bila terbentuk karena tiupan angin monsoon, maka yang akan terkena adalah segmen-segmen pantai tertentu yang menghadap ke arah datangnya angin.

4.2.6. Aktifitas mitigasi

Gelombang tinggi ini terjadi karena tiupan angin yang kencang di lautan. Berkaitan dengan waktu kejadian perlu dicermati bahwa secara umum di Indonesia dikenal adalah monsoon, yaitu monsoon barat-laut dan monsoon tenggara (Tapper, 2002). Monsoon barat-laut berlangsung dari bulan Desember sampai Febuari, angin bertiup dari benua Asia ke Australia, dan umum dikenal sebagai musim angin barat. Monsoon tenggara berlangsung dari bulan Mei sampai September, angin bertiup dari benua Australia ke Asia, dan umumnya dikenal sebagai musim angin timur. Sebagaimana sering dilaporkan oleh media massa gelombang tinggi karena angin kencang terjadi di berbagai daerah di Indonesia pada musim barat maupun musim timur. Terkait dengan terjadinya angin-angin kencang pada kedua musim tersebut, prakiraan kondisi angin dan gelombang dari BMG perlu diperhatikan.

Selain itu, di pesisir yang menghadap ke Samudera Hindia dari pulau Sumatera, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara dapat terjadi terpaan gelombang yang timbul karena badai siklon yang berkembang di Samudera Hindia. Sebagai contoh, gelombang badai yang merupakan bagian dari fenomena yang dikenal dengan “Southern Swell” pada bulan Mei 2007 yang muncul karena badai di Afrika Selatan pada posisi 40oS (AVISO, 2007 dan ESA, 2007). Gelombang yang ditimbulkan oleh badai tersebut mencapai Kepulauan Indonesia (Gambar 7). Oleh karena itu, informasi tentang kejadian siklon tropis di samudera yang mengapit Kepulauan Indonesia, Samudera Hindia dan Pasifik, perlu diperhitungkan.

Selain mengetahui waktu kejadian bencana, hal yang juga penting diketahui adalah mengetahui lokasi kejadian dan luas kawasan yang terganggu. Dengan demikian, pemetaan daerah-daerah yang rawan bencana harus dilakukan sebagai upaya mitigasi bencana. Pemetaan daerah rawan itu dilakukan dengan mempertimbangkan sejarah kejadian serta analisis karakter arah dan kecepatan angin yang terjadi pada musim tertentu. Pembuatan zonasi daerah bahaya di sepanjang pantai perlu dilakukan agar dapat diperhitungkan dalam membangun pemukiman atau aktifitas lainnya di daerah pesisir.

Kembali

Ditulis dalam Gelombang, PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , , , , , | Leave a Comment »

Untuk Apa Punya Minyak?

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni4, 2008

Tulisan ini ditulis oleh MT Zen, seorang Guru Besar Emeritus ITB, Saya kutip dari Harian Kompas, Opini bertanggal 29 Mei 2008.

Tulisan ini memberikan gambaran tentang salah urus sumberdaya alam di Indonesia. Ternyata, semua persoalan yang timbul berpangkal pada kelemahan diri kita sendiri.

———————————-

Dahulu, di zaman Orde Baru, saya masih ingat sekali bahwa setiap kali ada berita tentang turunnya harga minyak di pasaran dunia, Pemerintah Indonesia sudah berkeluh kesah. Pada waktu itu cadangan terbukti Indonesia tercatat 12 miliar barrel.

Kini, pada masa Reformasi ini, lebih khusus lagi selama kekuasaan Susilo Bambang Yudhoyono-Jusuf Kalla, pemerintah juga berteriak, berkeluh kesah, dan panik apabila harga minyak meningkat di pasaran dunia.

Harga minyak turun berteriak, harga minyak naik lebih berteriak lagi dan panik. Jadi, apa gunanya kita punya minyak, sedangkan Indonesia sejak awal sudah menjadi anggota OPEC? Alangkah tidak masuk akalnya keadaan ini? Sangat kontroversial. Minyak itu tak lain adalah kutukan.

Cadangan tak tersentuh

Hingga kini Indonesia secara resmi disebut masih mempunyai cadangan minyak sebesar 9 miliar barrel. Memang betul, jika dibandingkan dengan cadangan minyak negara-negara Timur Tengah, 9 miliar barrel itu tidak ada artinya. Namun, jelas-jelas Indonesia masih punya minyak. Selain cadangan lama, cadangan blok Cepu belum juga dapat dimanfaatkan. Belum lagi cadangan minyak yang luar biasa besar di lepas pantai barat Aceh.

Perlu diketahui bahwa pada pertengahan tahun 1970-an Indonesia memproduksi 1,5 juta barrel per hari. Yang sangat mencolok dalam industri minyak Indonesia adalah tik ada kemajuan dalam pengembangan teknologi perminyakan Indonesia sama sekali.

Norwegia pada awal-awal tahun 1980-an mempunyai cadangan minyak yang hampir sama dengan Indonesia. Perbedaannya adalah mereka tidak punya sejarah pengembangan industri minyak seperti Indonesia yang sudah mengembangkan industri perminyakan sejak zaman Hindia Belanda, jadi jauh sebelum Perang Dunia ke-2. Lagi pula semua ladang minyak Norwegia terdapat di lepas pantai di Laut Atlantik Utara. Lingkungannya sangat ganas; angin kencang, arus sangat deras, dan suhu sangat rendah; ombak selalu tinggi.

Teknologi lepas pantai, khusus mengenai perminyakan, mereka ambil alih dari Amerika Serikat hanya dalam waktu 10 tahun. Sesudah 10 tahun tidak ada lagi ahli-ahli Amerika yang bekerja di Norwegia.

Saya berkesempatan bekerja di anjungan lepas pantai Norwegia dan mengunjungi semua anjungan lepas pantai Norwegia itu. Tak seorang ahli Amerika pun yang saya jumpai di sana sekalipun modalnya adalah modal Amerika, terkecuali satu; seorang Indonesia keturunan Tionghoa dari Semarang yang merupakan orang pertama yang menyambut saya begitu terjun dari helikopter dan berpegang pada jala pengaman di landasan. Dia berkata sambil tiarap berpegangan tali jala, ”Saya dari Semarang, Pak.” Dia seorang insinyur di Mobil yang sengaja diterbangkan dari kantor besarnya di daratan Amerika untuk menyambut saya di dek anjungan lepas pantai bernama Stadfyord A di Atlantik Utara.

Di sanalah, dan di anjungan- anjungan lain, saya diceritakan bahwa mereka tidak membutuhkan teknologi dari Amerika lagi. Mereka sudah dapat mandiri dan dalam beberapa hal sudah dapat mengembangkan teknologi baru, terutama dalam pemasangan pipa-pipa gas dan pipa-pipa minyak di dasar lautan. Teknologi kelautan dan teknologi bawah air mereka kuasai betul dan sejak dulu orang-orang Norwegia terkenal sebagai bangsa yang sangat ulet dan pemberani. Mereka keturunan orang Viking.

Ada satu hal yang sangat menarik. Menteri perminyakan Norwegia secara pribadi pernah mengatakan kepada saya bahwa Norwegia dengan menerapkan teknologi enhanced recovery dari Amerika berhasil memperbesar cadangan minyak Norwegia dengan tiga kali lipat tanpa menyentuh kawasan-kawasan baru. Ini sesuatu yang sangat menakjubkan.

Norwegia pernah menawarkan teknologi tersebut kepada Indonesia, tetapi mereka minta konsesi minyak tersendiri dengan persyaratan umum yang sama dengan perusahaan lain. Ini terjadi pada akhir tahun 1980-an. Namun, kita masih terlalu terlena dengan ”kemudahan-kemudahan” yang diberikan oleh perusahaan-perusahaan Amerika. Pejabat Pertamina tidak mau mendengarkannya. Gro Halem Brundtland, mantan perdana menteri, menceritakan hal yang sama kepada saya.

Contoh lain, lihat Petronas. Lomba Formula 1 di Sirkuit Sepang disponsori oleh Petronas. Petronas itu belajar perminyakan dari Pertamina, tetapi kini jauh lebih kaya dibanding Pertamina. Gedung kembarnya menjulang di Kuala Lumpur. Ironisnya, banyak sekali pemuda/insinyur Indonesia yang bekerja di Petronas.

Kenapa banyak sekali warga Indonesia dapat bekerja dengan baik dan berprestasi di luar negeri, tetapi begitu masuk kembali ke sistem Indonesia tidak dapat berbuat banyak?

Jika kita boleh ”mengutip” Hamlet, dia bekata, ”There is something rotten, not in the Kingdom of Denmark, but here, in the Republic of Indonesia.”

Lengah-terlena

Salah satu kelemahan Indonesia dan kesalahan bangsa kita adalah mempunyai sifat complacency (perkataan ini tidak ada dalam Bahasa Indonesia, cari saja di kamus Indonesia mana pun), sikap semacam lengah-terlena, lupa meningkatkan terus kewaspadaan dan pencapaian sehingga mudah disusul dan dilampaui orang lain.

Lihat perbulutangkisan (contoh Taufik Hidayat). Lihat persepakbolaan Indonesia dan PSSI sekarang. Ketuanya saja meringkuk di bui tetap ngotot tak mau diganti sekalipun sudah ditegur oleh FIFA.

Apa artinya itu semua? Kita, orang Indonesia tidak lagi tahu etika, tidak lagi punya harga diri, dan tidak lagi tahu malu. Titik.

Ketidakmampuan Pertamina mengembangkan teknologi perminyakan merupakan salah satu contoh yang sangat baik tentang bagaimana salah urus suatu industri. Minyak dan gas di Blok Cepu dan Natuna disedot perusahaan-perusahaan asing, sementara negara nyaris tak memperoleh apa pun. Dalam hal ini, Pertamina bukan satu-satunya. Perhatikan benar-benar semua perusahaan BUMN Indonesia yang lain. Komentar lain tidak ada.

MT Zen Guru Besar Emeritus ITB

Ditulis dalam Ah... Indonesia ku, Bahan bakar | Bertanda: , , , , , | Leave a Comment »

MBG: Tsunami

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni4, 2008

Tsunami adalah fenomena gelombang laut raksasa yang melanda ke daratan. Gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan mencapat 950 km/jam dan tinggi gelombang di perairan dangkal dapat mencapai 30 m.

4.1.1. Pencetus

Tsunami dapat terjadi karena gangguan berskala besar di laut (gempa bumi atau longsor) atau erupsi letusan gunungapi di bawah laut (Skinner dan Porter, 2000). Gempa bumi atau longsor di bawah laut yang mencetuskan tsunami berasosiasi dengan palung laut dalam yang terbentuk pada sistem penunjaman lempeng kerak bumi yang melibatkan dua lempeng kerak bumi (kerak samudera dan kerak benua) yang berinteraksi secara konvergen. Sumber-sumber gelombang tsunami yang melanda Kepulauan Indonesia dapat berasal dari sekitar Kepulauan Indonesia (tsunami lokal) dan dapat pula dari sumber-sumber yang jauh dari kawasan Samudera Hindia maupun Pasifik.

4.1.2. Karakter kedatangan atau kejadian

Tsunami datang dengan sangat cepat. Tsunami yang terjadi karena gempa datang setelah gempa terjadi, sedang yang terjadi karena erupsi letusan gunungapi terjadi setelah erupsi letusan itu. Secara visual, kedatangan tsunami ditunjukkan oleh fenomena surutnya air laut yang luar biasa menyusul gempa yang terjadi.

4.1.3. Prediktabilitas

Sampai sekarang, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi belum dapat memprediksi saat terjadinya gempa dan erupsi gunungapi. Oleh karena itu, kejadian tsunami juga tidak dapat diprediksi waktu kejadiannya.

4.1.4. Durasi

Tsunami melanda daratan sangat cepat dan air laut yang naik ke daratan itu segera kembali surut dalam hitungan puluhan menit.

4.1.5. Areal terganggu

Areal yang terganggu oleh gelombang tsunami dapat sangat luas. Hal ini tergantung pada ketinggian gelombang tsunami serta kondisi morfologi daratan pesisir yang dilanda oleh tsunami. Selain itu, panjang garis pantai yang dilanda tsunami juga dapat sangat panjang ratusan kilometer. Pelajaran dapat kita ambil dari kejadian tsunami 26 Desember 2004 yang melanda Nanggroe Aceh Darussalam. Air laut karena tsunami masuk ke daratan sampai sejauh 3,5 km di Banda Aceh karena lahan pesisir kawasan itu yang datar. Sementara itu dari tsunami yang terjadi di Biak tahun 1996, tsunami hanya melanda daerah tertentu di dekat pantai yang rendah dan darat yang merupakan lembah sungai seperti di daerah Korem, Biak Utara. Hanya sedikit daerah pantai yang terlanda tsunami karena sebagian besar daerah pantai merupakan daratan yang tinggi dengan morfologi bertebing (Setyawan dan Witasari, 2004).

Kehadiran sistem pertahanan pantai alamiah dapat mengurangi kekuatan gelombang tsunami yang melanda ke daratan, sehingga dapat mempersempit luas areal yang terganggu. Pengamatan di Taman Nasional Yala dan Bundala di Sri Lanka menunjukkan bahwa terumbu karang, mangrove, bukit pasir dan berbagai ekosistem lain seperti rawa gambut dapat memberikan perlindungan terhadap daratan pesisir dari gelombang tsunami dengan mengurangi energi gelombang tsunami (Srinivas, tanpa tahun).

4.1.6. Aktifitas mitigasi

Mempertimbangkan karakter tsunami di atas maka upaya mitigasi bencana tsunami yang perlu dilakukan adalah mempersiapkan diri menghadapi tsunami yang datang sewaktu-waktu. Tindakan-tindakan yang perlu dilakukan adalah:

a) Memetakan kawasan-kawasan yang mungkin terkena bencana tsunami. Penentuan daerah-daerah yang rawan bencana tsunami itu dapat dilakukan dengan memperhitungkan posisi pantai terhadap letak-letak tempat yang mungkin menjadi sumber tsunami, yaitu sistem penunjaman dan gunungapi bawah laut seperti yang telah dilakukan oleh BMG (Badan Meteorologi dan Geofisika) (2007) (Gambar 1). Selanjutnya, di daerah-daerah rawan tsunami itu dibuat peta yang lebih detil, yaitu memetakan zona-zona bahaya dan zona aman dengan mempertimbangkan ketinggian gelombang tsunami yang mungkin terjadi dan kondisi mofologi daerah pesisir.

b)  Membangun akses dari zona bahaya ke zona aman sebagai jalan untuk menyelamatkan diri bila tsunami benar-benar datang; atau membangun tempat-tempat pelarian di zona bahaya berupa konstruksi bangunan yang cukup tinggi untuk menghindari tsunami yang mungkin melanda.

c) Memberikan pembelajaran publik tentang karakteristik tsunami berkaitan dengan faktor-faktor pencetus dan tanda-tanda kedatangannya yang dapat dilihat di daerah pesisir.

d)  Untuk tsunami yang datang dari sumber-sumber yang jauh, sistem peringatan dini sangat bermanfaat dikembangkan sebagai upaya mitigasi. Untuk kebutuhan masyarakat international, IOC (Intergovernmental Oceanographic Commission), salah satu badan yang bernaung di bawah UNESCO telah mengembangkan sistem peringatan dini tentang kemungkinan terjadinya tsunami untuk berbagai kawasan (UNESCO/IOC, 2007) yang disebarkan melalui e-mail (Gambar 2). Untuk kebutuhan nasional, BMG juga telah mempunyai sistem peringatan dini yang disebarkan melalui website maupun sms (Gambar 3).

e) Memberikan pembelajaran publik tentang perlunya menjaga ekosistem pesisir dan peduli terhadap bahaya dari laut sehingga memilih tempat pemukiman yang aman. Pengalaman dari tsunami 26 Desember 2004 yang melanda berbagai negara di sekitar Samudera Hindia itu menunjukkan bahwa tsunami hanya memberikan dampak yang kecil terhadap kawasan-kawasan yang ekosistem pesisirnya terlindungi dan masyarakat lokal peduli akan bahaya dari laut (Srinivas, tanpa tahun).

Kembali

Ditulis dalam PROSES (BENCANA) ALAM, Tsunami | Bertanda: , , , , , , , , , | Leave a Comment »

MBG: Aktifitas Mitigasi dan Karakter Bencana

Ditulis oleh wahyuancol di/pada Juni4, 2008

Aktifitas mitigasi bencana sesungguhnya adalah upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya bencana, atau mengurangi efek dari bencana yang tidak dapat dicegah kejadiannya (Warfield, tanpa tahun). Selanjutnya disebutkan bahwa efektifitas tindakan mitigasi bencana tergantung pada ketersediaan informasi tentang bencana, resiko keadaan darurat (emergency risks), dan tindakan tanggapan (counter measures) yang diambil. Dengan demikian, fase mitigasi mencakup pembentukan kebijakan publik dan rencana memodifikasi penyebab bencana atau memitigasi efek bencana atas manusia, harta benda dan infra struktur.

Dalam kaitannya dengan upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi terjadinya bencana, mamahami karakter dari suatu bencana adalah sangat penting, karena pengetahuan akan karakter bencana yang akan terjadi merupakan hal yang menjadi dasar bagi penentuan tindakan-tindakan pencegahan atau tindakan tanggapan yang perlu dilakukan terhadap suatu bencana. Hal ini menunjukkan bahwa mengetahui atau memahami dengan baik karakteristik dari suatu bencana geologi merupakan langkah awal yang mendasar dalam kegiatan mitigasi bencana.

Agar tindakan mitigasi bencana dapat efektif, berbagai hal yang perlu diketahui dari suatu jenis bencana geologi adalah:

1) Pencetus Utama, yaitu adalah proses, kondisi atau kejadian yang menyebabkan terjadinya suatu bencana. Faktor pencetus atau penyebab terjadinya bencana berbeda antara satu jenis bencana geologi dengan jenis bencana geologi lainnya. Faktor ini pebnting diketahui karena memberikan gambaran tentang berbagai karakter lainnya dari suatu jenis bencana geologi terkait, seperti karakter kedatangan atau kejadian bencana, prediktabilitas kejadian bencana, durasi berlangsungnya bencana, dan luas areal yang terkena bencana.

2) Sifat Kedatangan atau Kejadian, yaitu kondisi waktu yang berkaitan dengan munculnya suatu bencana, seperti cepat dan tiba-tiba, atau perlahan-lahan; terus menerus, periodik atau tidak menentu; musiman atau tidak terkait dengan waktu tertentu. Berbagai sifat ata karakter kedatangan atau kejadian bencana ini berkaitan erat dengan karakter faktor pencetus atau agen yang bekerja (working agents). Misalnya, erosi pantai yang disebabkan oleh gelombang laut sifat kedatangan atau kejadiannya berbeda dengan tsunami, karena meskipun sama-sama gelombang laut tetapi karakternya berbeda. Erosi pantai datang atau terjadi perlahan-lahan, sedang tsunami datang cepat dan tiba-tiba.

3) Prediktabilitas, yaitu bisa atau tidaknya suatu kejadian bencana diperkirakan kedatangan atau kejadiannya. Hal ini sangat penting karena menentukan keselamatan jiwa dan harta benda. Apabila kedatang atau kejadian suatu bencana dapat diprediksi atau diperkirakan, maka kita dapat menghindar dari bencana itu. Prediktabilitas suatu bencana ini berkaitan erat dengan karakter faktor-faktor pencetus atau agen-agen yang bekerja. Sebagai contoh, kalau erosi pantai terjadi karena gelombang laut, sedang gelombang laut kejadiannya berkaitan dengan tiupan angin dan terjadinya tiupan angin berkaitan dengan musim tertentu, maka kita dapat memperkirakan waktu dan lokasi terjadinya erosi pantai. Apabila kita telah mengetahui daerah-daerah yang akan tererosi, tentu kita dapat menghindari tempat-tempat itu sebagai pemukiman atau aktifitas lainnya yang permanen, atau menentukan langkah antisipasi bila telah terlanjut berada di daerah tersebut.

4) Durasi, yaitu lamanya berlangsung suatu peristiwa bencana. Durasi dapat berlangsung dalam hitungan menit, jam, hari, bulan atau tahun. Contohnya, tsunami berlangsung hanya beberapa menit, banjir pasang-surut berlangsung dalam beberapa jam, erosi pantai berlangsung terus menerus sepanjang waktu atau tahunan. Faktor durasi ini ditentukan oleh faktor pencetus bencana dan karakter agen yang bekerja.

5) Areal Terganggu, yaitu luas areal yang akan terkena bencana bila bencana itu benar-benar terjadi. Faktor ini menentukan besarnya kerugian material yang mungkin ditimbulkan oleh suatu bencana. Makin luas areal yang terganggu maka makin banyak pula harta benda yang mungkin rusak. Dengan mengetahui luas areal yang mungkin terganggu atau terkena bencana, maka kita dapat menentukan batas kawasan atau daerah aman yang tidak terjangkau bencana. Faktor ini ditentukan oleh karakter agen atau proses yang bekerja dan kondisi fisik daerah pesisir. Sebagai contoh, tsunami dapat merusak daerah yang sangat luas dan jauh sampai pedalaman di kawasan pesisir bermorfologi datar dan rendah sebagaimana yang terjadi di Banda Aceh, sedang untuk pantai bertebing atau berlereng terjal, gelombang tsunami hanya sampai di tebing itu.

Kembali

Ditulis dalam PROSES (BENCANA) ALAM | Bertanda: , , | 1 Komentar »