Kepulauan Indonesia

Cerita dari, untuk dan tentang Kepulauan Indonesia beserta Penghuni dan Penduduknya

MENGHADAPI ANCAMAN BAHAYA GEOLOGI di WILAYAH PESISIR (MBG)

Posted by wahyuancol pada Juni3, 2008

Bencana alam akhir-akhir ini telah menarik perhatian kita semua. Khusus bagi kawasan pesisir, banjir karena pasang surut atau naiknya air laut ke darat karena gelombang tinggi menjadi perhatian, terutama di daerah kota besar seperti Jakarta. Tetapi, bahaya geologi di daerah pesisir tidak hanya itu. Pada kesempatan ini saya mencoba memberikan gambaran apa saja bahaya geologi di daerah pesisir dan bagaimana kita kita menanggapi ancamannya. Materi kali ini adalah makalah yang pernah saya presentasikan dalam seminar di Yogyakarta pada 15 Februari 2008 yang diselenggarakan oleh Jurusan Teknik Geologi – UGM.

Bila ada yang ingin mengutipnya sebagai referensi tulisan ilmiah, penulisan sitasinya adalah sebagai berikut:

Setyawan, W.B., 2008. Menghadapi ancaman bahaya geologi di Wilayah Pesisir. Dalam: S. Husein, S.S. Surjono, S.B. Samodra dan D.N.E. Putra (editor), Tantangan dan Strategi Pendidikan Geologi dalam Pembangunan Nasional, Prosiding Seminar Nasional Ilmu Kebumian 2008, Jurusan Teknik Geologi FT UGM, Yogyakarta: H2-1 sampai H2-24.

———–

Daftar Isi:

Abstrak

1. Pendahuluan

2. Siklus Manajemen Bencana

3. Aktifitas Mitigasi dan Karakter Bencana

4. Karakter Bahaya Geologi dan Upaya Mitigasinya

4.1. Tsunami

4.2. Gelombang Tinggi

4.3. Erosi Pantai

4.4. Banjir Pasang-surut dan Subsiden

4.5. Banjir Luapan Sungai

4.6. Sedimentasi

5. Kesimpulan

Referensi

———

Abstrak

Bahaya geologi hakekatnya adalah proses geologi yang mengancam keselamatan harta dan atau jiwa manusia. Keberadaan ancaman bahaya geologi di suatu kawasan berkaitan dengan kondisi geologi di kawasan itu. Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila bahaya geologi itu benar-benar terjadi (mitigasi bencana) dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes).

Mitigasi dan preparadnes bencana adalah fase awal dari suatu siklus manajemen bencana. Aktifitas mitigasi bencana sesungguhnya adalah upaya untuk mengeliminasi atau mengurangi kemungkinan terjadinya bencana, atau mengurangi efek dari bencana yang tidak dapat dicegah kejadiannya. Efektifitas suatu akifitas mitigasi bencana ditentukan oleh: (1) faktor pencetus, (2) karakter kedatangan / kejadian, (3) prediktabiltas, (4) durasi suatu bencana dan (5) areal terganggu.

Di kawasan pesisir yang merupakan daerah transisi antara darat dan laut dapat terjadi bencana geologi dengan air laut sebagai agen yang bekerja (working agents): tsunami, gelombang tinggi, banjir pasang surut dan erosi pantai; dan dapat pula terjadi bencana geologi yang berkaitan dengan air permukaan: banjir limpasan sungai; dengan muatan sedimen: sedimentasi, dan dengan kompaksi batuan: subsiden. Karakter dari setiap macam bencana itu perlu dipahami agar kita dapat menyusun strategi menghadapi ancamannya. Secara umum, disamping memperkirakan waktu kejadian, pemetaan daerah-daerah di kawasan pesisir yang terancam oleh suatu ancaman bahaya geologi adalah langkah penting yang harus dilakukan dalam aktifitas mitigasi bencanaa atau geologi itu yang dilakukan berdasarkan karakter dari bencana atau bahaya geologi tersebut.

1. Pendahuluan

Dalam beberapa tahun terakhir ini, di Indonesia banyak terjadi bencana alam, baik yang datang dari laut maupun yang sumber kejadiannya di darat. Terjadinya tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 yang melanda sebagian besar wilayah pesisir barat dan utara Pulau Sumatera, khususnya di Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam begitu menghentakkan, dan membuat perhatian masyarakat umum di Indonesia menarah ke bencana (alam) geologi yang datang dari laut itu.

Bahaya geologi atau bencana geologi dapat terjadi di bagian bumi manapun, termasuk di wilayah pesisir. Bahaya geologi di daerah pesisir berkaitan dengan proses-proses geologi khas untuk daerah pesisir. Proses-proses geologi tersebut umumnya adalah proses-proses geologi yang berkaitan dengan kondisi angin, gelombang, pasang-surut dan arus, dan terekspresikan dalam bentuk tsunami, gelombang karena badai, banjir pasang-surut, erosi pantai. Selain itu, ada pula bencana geologi yang tidak berkaitan dengan berbagai faktor yang disebutkan itu, yaitu sedimentasi yang berkaitan dengan suplai muatan sedimen dari daratan, dan bencana subsiden yang berkaitan dengan kompaksi batuan atau endapan sedimen.

Manajemen ancaman bahaya geologi dapat dipandang sebagai bagian dari upaya untuk mengurangi dampak negatif apabila ancaman bahaya geologi benar-benar terjadi dan menjadi bencana geologi (mitigasi bencana), dan merencanakan bagaimana menanggapi bencana geologi bila terjadi (preparadnes atau kesiagaan bencana). Makalah ini bertujuan memberikan gambaran bagaimana menanggapi ancamanan dari berbagai macam bahaya geologi di daerah pesisir dengan memperhitungkan karakternya.

———-

5. Kesimpulan

Dari uraian di atas jelas terlihat bahwa ancaman bahaya geologi di daerah pesisir dapat datang dalam berbagai bentuk kejadian. Meskipun demikian, hanya ada dua agen utama yang bekerja yaitu air laut dan air permukaan. Air laut sebagai agen yang bekerja hadir dalam bentuk gelombang dan pasang-surut, sedang air permukaan hadir dalam bentuk debit air permukaan yang besar.

Aktifitas mitigasi bencana adalah upaya untuk memperkecil dampak negatif dari suatu bencana. Terkait upaya itu, mengetahui waktu kejadian dan lokasi kejadian adalah hal yang penting karena dengan kedua hal itu manusia dapat menghindar dari bahaya yang datang.

Tidak semua macam bahaya geologi dapat diketahui dengan pasti waktu kedatangan, seperti tsunami. Namun ada pula bahaya geologi yang kedatangannya sedemikian halus sehingga manusia terlambat menyadarinya sampai bahaya itu benar-benar terjadi dan manusia tidak dapat menghindar lagi, seperti subsiden, banjir, dan erosi pantai. Oleh karena itu, pemetaan daerah-daerah yang berpotensi untuk terkena bahaya geologi menjadi faktor kunci dalam ke-efektifan upaya mitigasi. Dengan mengetahui daerah-daerah yang berpotensi terkena bahaya, diharapkan manusia dapat menghindari daerah-daerah tersebut dalam melakukan aktifitas. Sampai pada titik ini, kesadaran masyarakat akan potonsi bencana menjadi hal yang penting, karena hanya dengan kesadaran akan bahaya yang akan menimpalah yang membuat masyarakat bersedia untuk menghindar dari daerah-daerah bahaya. Dengan demikian, kegiatan pembelajaran publik sangat penting untuk dilaksanakan berdampingan dengan berbagai uaya mitigasi yang lain.

Dalam upaya melakukan prediksi waktu dan lokasi kejadian bahaya geologi yang berkaitan dengan gelombang laut, prediksi kondisi angin dan gelombang laut (meteorologi maritim) adalah informasi penting. Sementara itu, untuk bahaya yang berkaitan dengan air permukaan, prediksi kondisi curah hujan adalah faktor kunci. Terkait dengan kedua hal itu, institusi yang bertanggung-jawab adalah BMG.

Untuk prediksi bencana banjir pasang-surut, pengetahuan akan kondisi fisik lahan pesisir, terutama berkaitan dengan daya dukungnya, adalah sangat penting. Perlu disadari bahwa bencana banjir pasang-surut tidak datang begitu saja. Bencana ini bisa dipastikan dimulai dari keterlanjuran manusia melakukan pembangunan fisik di daerah daratan relatif baru dan labil di tepi pantai. Keterlanjuran itu terjadi karena kegagalam manusia memahami karakter fisik daerah pesisir. Untuk mengetahui kondisi fisik lahan pesisir dan dapat memetakan daerah yang berpotensi mengalami subsiden, studi geomorfologi pesisir dalah hal yang penting. Di pihak lain, untuk prediksi pasang surut, institusi yang sekarang ini bertanggung-jawab melakukannya adalah Jawatan Hidro-Oseanografi TNI-AL.

Bahaya sedimentasi di perairan pesisir berkaitan erat dengan pengelolaan DAS dan tata-air (aliran sungai dan kanal-kanal) selain berkitan dengan faktor curah hujan. Berbagai institusi terkait dengan masalah ini. Karena itu, diperlukan kerjasama dari berbagai institusi terkait untuk dapat mengelola masalah sedimentasi. Untuk kondisi tertentu, bahaya erosi pantai juga berkaitan dengan pengelolaan aliran sungai atau kanal-kanal.

Referensi

Anonim-Ant, 2007. Gelombang Pasang Landa Berbagai Wilayah Indonesia. [http://portal.antara.co.id/arc/2007/5/18/gelombang-pasang-landa-berbagai-wilayah-indonesia/]. Akses: 2 Febuari 2008.

Anonim-BBC, 2007. Gelombang Pasang Landa Pesisir. [http://www.bbc.co.uk/indonesian/news/story/2007/05/070520_tidalwave.shtml]. Akses: 2 Feburari 2008.

Anonim-Rep, 2007. Gelombang Pasang Terjang Pesisir. [http://202.155.15.208/koran_detail.asp?id=293613&kat_id=3]. Akses: 2 Febuari 2008.

AVISO, 2007. Southern Swell in the Indian Ocean. [http://www.aviso.oceanobs.com/html/applications/meteo/houle_australe_uk.html]. Akses: 1 Juni 2007.

BMG (Badan Meteoprologi dan Geofisika), 2007. Apa itu Tsunami. [http://www.bmg.go.id/data.bmg?Jenis=Teks&IDS=8704394716716499700]. Akses: 11 Febuari 2008.

Cooke, R.U. and Doornkamp, J.C., 1977. Geomorphology in Environmental Management: an introduction (reprint edition). Clarendon Press, Oxford, 413 p.

ESA, 2007. Huge waves from one strom slam coast some 6000 km apart. [http://www.esa.int/esaEO/SEMMJJ9RR1F_economy_o.html] Akses: 1 Juni 2007.

Pariwono, J.I., 2007. Terjangan Gelombang Tinggi ke Pantai-pantai Luar Indonesia di Bulan Mei 2007. Abstrak dipresentasikan pada Pertemuan Ilmiah Tahunan Ikatan Sarjana Oseanologi (ISOI) di Bogor, 22 Nopember 2007.

Setyawan, W.B. dan Witasari, Y., 2004. Pengaruh tsunami tahun 1996 terhadap wilayah pesisir Pulau Biak. Dalam: Setyawan, W.B., Witasari, Y., Arifin, Z., Ongkosongo, O.S.R. dan Birowo, S. (editor). Prosiding Seminar Laut Nasional III, 29-31 Mei 2001, Jakarta, Ikatan Sarjana Oseanologi Indonesia, hal. 135-141.

Skinner, B.J. and Porter, S.C., 2000. The Dynamic Earth: an introduction to physical geology, 4th edition, John Willey & Sons, Inc., New York, 112 pp.

Srinivas, H., tanpa tahun. The Indian Ocean Tsunami and Its Environmental Impacts. [http://www.gdrc.org/uem/disasters/disenvi/tsunami.html%5D. Akses: 22 Januari 2008

Tapper, N., 2002. Climate, climatic variability and atmospheric circulation patterns in the Maritime Continent Region. In: P. Kershaw, B. David, N. Tapper, D. Penny and J. Brown (editors), Bridging Wallace’s Line: the environmental and cultural history and dynamic of the SE-Asian-Australian Region, Advance in Geoecology 34, Catena Verlag GMBH, Reiskirchen, p. 5-28.

UNESCO/IOC, 2007. Welcome to the UNESCO/IOC global tsunami website, a one-stop resource for all tsunami-related information. [http://www.ioc-tsunami.org/]. Akses: 11 Febuari 2008.

Warfield, C., tanpa tahun, The Disaster Management Cycle. [http://www.grdc.org/uem/disaster/1-dm_cycle.html]. Akses: 22 Januari 2008.

————

Terima Kasih, Ancol 6 Juni 2008

About these ads

Satu Tanggapan to “MENGHADAPI ANCAMAN BAHAYA GEOLOGI di WILAYAH PESISIR (MBG)”

  1. pipit said

    kurang lengkap

    tentang siklus geologinya kok gak ada???
    kla blh usul gmn kla dikasih soal-soal n kunci jwabannya???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: