Peta Masalah Lingkungan Di (Kota Pesisir Megapolitan) Jakarta
Ditulis oleh wahyuancol di/pada Februari7, 2007
Di awal tahun 2007, Jakarta kembali mengalami banjir. Ada yang percaya bahwa banjir kali ini adalah siklus 5 tahunan dan ada pula yang tidak (banjir besar terakhir tahun 2002). Dari sidut pandang geologi, Kota Pesisir Megapolitan Jakarta ini memang salah letak (Gambar 1). Kota ini dibangun dan dikembangka di atas dataran banjir. Konsekuensinya adalah banjir pasti akan terjadi sebagai konsekuensi dari karakter dari dataran banjir (namanya saja Dataran Banjir, dataran yang terbentuk karena banjir).
Ketika populasi penduduk Jakarta / Batavia dan kawasan sekitarnya masih rendah, kesalahan-letak tersebut nampaknya tidak begitu disadari. Mungkin hanya beberapa gelintir orang saja yang menyadari hal itu, sehingga pembangunan yang dilakukan di Kota Jakarta dilakukan dengan tidak memperhatikan karakter lingkungan lokasinya. Konsekuensinya adalah berbagai persoalan lingkungan muncul ke permukaan (Gambar 2). Banjir menjadi persoalan lingkungan yang utama di daratan pesisir Jakarta.
Dari peta masalah lingkungan tersebut, jelas bahwa banjir dapat terjadi melalaui berbagai sebab. Sebab-sebab tersebut bisa berkaitan dengan faktor alam (sebab-sebab alamiah) maupun yang berkaitan dengan aktifitas manusia.
Salam,
Wahyu


christian berkata
menurut saya informasi yang di berikan belum jelas. sumber-sumber informasi tolong di lampirkan, thanks
wiwoho berkata
kurang jelas informasinya
wahyuancol berkata
Yth. Sdr Christian dan Wiwoho,
Terima kasih atas tanggapannya. Apabila yang dimaksud dengan kurang jelas informasinya adalah tidak ada referensinya maka penjelasan saya adalah sebagai berikut.
Tulisan tentang permasalahan lingkungan di Jakarta ini adalah hasil pemikiran saya. Tentang referensi, saya rasa persoalannya sangat relatif. Bekal saya dalam bidang geologi dan oseanografi serta pengelolaan wilayah pesisir lah yang membuat saya dapat melakukan alisis sehingga menghasilkan gambaran seperti itu. Saya berani menjamin bahwa saya tidak mengadopsi pikiran orang lain dengan tidak menyebutkan sumbernya. Sebagai contoh, untuk mengatakan bahwa sebagian wilayah Kota Jakarta berkembang di atas dataran banjir, bagi saya tidak perlu mengutip suatu referensi karena saya dapat membacanya dari kondisi di lapangan dan peta geologi. Contoh lain, untuk mengatakan bahwa di Jakarta Utara terjadi subsiden, saya tidak memerlukan referensi, karena saya dapat membaca kondisi itu dengan melihat gejala-gejala yang tampak di lapangan.
anangwidhi berkata
ya, benar bung chris, kadang orang pernah ingat, dengar, atau baca sesuatu yang ia yakini kebenarannya tanpa tahu ato inget darimana asalnya??? tapi saya yakin data2 pendukungnya kalo dicari InsyaAllah ada…..